Robert Cribb, profesor pemerhati dan pencinta Indonesia di Australian National University (ANU)
Padang, sumbarsatu.com--Pemecatan Robert Cribb, profesor pemerhati dan pencinta Indonesia di Australian National University (ANU) oleh pihak rektorat memunculkan tanda tanya baik dari Cribb sendiri maupun dari mahasiswa yang pernah belajar dengannya. Robert Cribb merupakan salah seorang dari 12 staf pengajar yang dipecat.
Yenny Narny, staf pengajar Fakultas Ilmu Budaya (FIB) universitas Andalas yang pernah menjadi salah seorang mahasiswa Robert Cribb di ANU dan pernah bekerja sama dalam beberapa penelitian menilai, tindakan ANU terhadap Cribb adalah sebuah kesalahan fatal.
"Ini akan memberikan citra buruk bagi ANU sebagai universitas yang menjadi leader bagi kajian Asia khususnya Indonesia," kata Yenny Narny kepada sumbarsatu.com, Selasa (24/5/2016).
Menurutnya, Robert Cribb tidak hanya menjadi seorang peneliti dan pengajar yang menguasai dengan baik tentang Indonesia, namun dia secara langsung maupun tidak telah menjadi "PR" (public relation) bagi ANU.
“Salah satu yang membuat saya menyelesaikan studi S2 di ANU adalah karena di situ ada Robert Cribb, orang yang mengerti dengan baik tentang studi Indonesia dan sangat memahami karakter mahasiswa yang berasal dari Indonesia," terang Yenny Narny yang akrab disapa Upik ini.
Dijelaskannya, Robert Cribb tidak hanya menjadi guru namun juga menjadi mentor bagi banyak mahasiswa indonesia lainnya yang belajar di ANU.
"Tindakan ANU terhadap Robert Cribb seakan menjadi jalan penutup bagi kajian Indonesia di ANU," tegas perempuan yang kini sedang menyelesaikan doktornya di Australia.
Robert Cribb dikenal sebagai pribadi yang bersaja di balik kepintaran dan piawaiannya menguasai 7 bahasa di dunia.
Seperti dilansir woroni.au yang dikutip tempo.com, mengaku belum mengetahui alasan dirinya dipecat dari universitas tersebut.
"Saya belum diberikan alasan apa pun untuk pemecatan ini, selain pernyataan samar bahwa saya tidak cocok di sekolah baru," kata Robert Cribb.
Selama ini, Robert Cribb tidak hanya menjalin kerja sama dengan para peneliti di tingkat nasional, salah satunya dengan LIPI, tapi dia juga membangun jaringan kerja sama di tingkat daerah, termasuk dengan Sumatera Barat.
"Cribb sendiri pernah beberapa kali ke Sumatera Barat, menjadi profesor tamu di Universitas Andalas dan Universitas Negeri Padang. Selain itu, ia juga menjadi pembicara dalam seminar internasional yang diadakan oleh Fakultas Ilmu Budaya Unand," terang Upik menggambarkan kedekatan Cribb dengan Sumatera Barat.
Robert Cribb adalah seorang pengajar yang menaruh perhatian pada Indonesia dan beberapa negara Asia Tenggara, seperti Malaysia dan Myanmar. Ia banyak meneliti masalah-masalah kekerasan dan kejahatan massal, identitas nasional, politik lingkungan, dan geografi sejarah.
Pemberhentiannya merupakan bagian dari restrukturisasi di School of Culture History and Language (CHL) yang berada di bawah payung ANU.
"Pemberhentian secara sepihak tersebut oleh pihak universitas menyisakan tanda tanya di benak Robert Cribb yang selama ini peduli dalam setiap persoalan sosial di Indonesia," jelas Upik.
Lebih jauh Upik mengatakan, salah satu penelitian terkait dengan Indonesia yang menarik dan memberikan persepktif baru dalam kajian geografi dan sejarah adalah penerbitan Atlas of Indonesian History.
"Ini adalah sebuah buku atlas Indonesia yang dikemas dalam perspektif sejarah dan diterbitkan dalam bentuk hard copy dan digital," katanya.
Buku lain yang mencuri perhatian adalah The Origins of Massacre in Indonesia. Buku ini menjadi titik penting bagi para peneliti dan pemangku kebijakan dalam mememahami secara jernih peristiwa 1965.
Selain itu, dia turut memperhatikan kelangsungan hutan Kalimantan, terutama terhadap kelestarian orang utan, serta masih banyak lagi buku-buku dan jurnal ilmiah yang berhubungan dengan lingkungan dan politik di Indonesia.
Selain Robert Cribb, seperti dilansir tempo.co, ada sebelas staf pengajar lain yang dipecat dari School of Culture History and Language (CHL) ANU, salah satunya Profesor C. John Powers.
"Powers merupakan profesor yang dikenal aktif menerbitkan buku dan jurnal penelitian yang berpengalaman," katanya.
Pihak ANU sendiri sebelumnya menjelaskan bahwa penutupan dan pengurangan staf tersebut merupakan bagian dari restrukturisasi dan kekurangan biaya operasional universitas. (SSC)
