Payokumbuah Literary Festival, Memperkuat Payakumbuh Kota Sastra

RANGKAIAN INDONESIANA-SAF 2018

Kamis, 08/11/2018 10:32 WIB
Rapat pematangan panitia pelaksana Payokumbuah Literary Festival akan digelar pada 14-16 November 2018 di Kota Payakumbuh, di Markas Besar Komunitas Senu Intro  beberapa waktu lalu

Rapat pematangan panitia pelaksana Payokumbuah Literary Festival akan digelar pada 14-16 November 2018 di Kota Payakumbuh, di Markas Besar Komunitas Senu Intro beberapa waktu lalu

Payakumbuh, sumbarsatu.com—Payokumbuah Literary Festival akan digelar pada 14-16 November 2018 di Kota Payakumbuh, sebuah kota perlintasan di Sumatera Barat yang akan mengukuhkan dirinya sebagai Kota Sastra selain sebagai Kota Randang. Puluhan sastrawan dari pelbagai penjuru kota Tanah Air akan hadir di sini.

Payokumbuah Literary Festival merupakan rangkaian program Indonesiana-Silek Arts Festival yang diinisiasi Direktur Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan kerja sama dengan Dinas Kebudayaan Sumatera Barat, Pemerintah Kota Payakumbuh, dan Komunitas Seni Intro sebagai pelaksana.

Menurut Iyut Fitra, Direktur Payokumbuah Literary Festival, peristiwa budaya ini merupakan sebuah festival dalam rangka memberi gairah pada kesusastraan di Sumatera Barat, terutama Kota Payokumbuh. Selain tentu saja, sebagai ruang untuk berbagi ide dan pemikiran bagi sastrawan Indonesia dan pegiat budaya.

“Payokumbuah Literary Festival merupakan agenda pertama yang terhubung dengan Payokumbuah Alek Silek, Silek Arts Festival, dan Indonesiana yang merupakan platform pendukung kegiatan seni budaya di Indonesia yang bertujuan untuk membantu tata kelola kegiatan seni budaya yang berkelanjutan dan berjejaring. Diharapkan, dari iven ini bisa dideklarasikan Payokumbuah sebagai Kota Sastra. Jika Padang disebut sebagai Kota Kata-kata, maka Payokumbuah Kota Sastra,” kata Iyut Fitra, Kamis (8/11/2018) dengan ekspresi serius.

Payokumbuah Literary Festival mengundang sebanyak 83 penyair, prosais, penulis dari perbagai kota di Indonesia, 63 di antaranya berdomisili di Sumatera Barat dan 20 dari kota lain.

“Melalui agenda ini kami berharap dapat menjadi bagian dari keberagaman festival sastra di Indonesia dan dapat memberikan gagasan lebih luas bagi kesusastraan Indonesia,” tambah penyair yang berdomisili di Kota Payakumbuh ini.

Payokumbuah Literary Festival 2018 diisi dengan berbagai kegiatan antara lain, Panel Diskusi bertema “Silat, Sastra Lisan, dan Rantau”, Pembacaan Karya Sastra, Bincang Sastawan dan Siswa, Diskusi Sastra Sumatera Barat, Pertunjukan Seni Tradisi Silek, dan Wisata Sastra.

“Kegiatan ini sendiri diharapkannya tidak hanya melibatkan sastrawan tapi juga masyarakat Kota Payakumbuh dan sekitarnya. Selain itu, juga digelar lapak galeh buku bagi penulis. Masyarakat bisa transaksi buku-buku sastra,” kata Ijot Goblin, penanggung jawab fasilitas iven  ini.

Padat Agenda

Agenda dan narasumber serta pemantik diskusi yang dijadwalkan hadir antara lain Aan Mansyur, Boy Candra, Pinto Anugrah, Frischa Aswarini,dan Mutia Sukma (PLF Road To Cafe" Kami Temani Kalian Ngopi dengan tema Telisik Pasar Buku) di Rumah Do'I.

Selanjutnya, kegiatan Musyawarah I: Membawa Sastra Silat ke Tengah Gelanggang bersama ZenHae sebagai pembicara yang dimoderatori Fariq Alfaruqi.

Musyawarah II: Bahasa Indonesia Tiga Langgam dengan pembicara Hasta Indriyana, Deddy Arsya, Marhalim Zaini dimoderatori Pandu Birowo.

Diskusi Gotong-Royong I: Penerbitan dan Distribusi Buku dengan pemantik Indrian Koto (JBS), Aldo Zirsov (Goodread Indonesia), dan Alizar Tanjung (Penernit Erka). 

Musyawarah III: Sastra dan Rantau: Menulis dari Seberang dengan narasumber Ahda Imran, Raudal Tanjung Banua, Riki Dhamparan Putra, yang dimoderatori Nasrul Azwar; Diskusi Gotong-Royong II:Sastra di Sumatera Barat dengan pemantik diskusi S Metron M;

Diskusi Gotong-Royong III: Platform Publikasi Sastra dengan pemantik HasanAspahani, Syofiardi Bachyul JB, dan Yonda Sisko.

Diskusi Gotong Royong IV: Komunitas dan Aktivis Literasi dengan pemantik Kiki Sulistyo,Mario F Lawi, Shelter Utara, Tanah Ombak, Dapur Kultur, dan Tanah Rawa.

Penampilan seni baca puisi dan pertunjukan dilakukan di Kampung Seni Intro, tampil antara lain Julaiha Sembiring, Refdinal Muzan, Y. Thendra BP, Musikalisasi Puisi Quarted Project (Padang Panjang), Frischa Aswarini, Kiki Sulistyo, Ramon Apta, Sibirina (musikalisasi puisi), Pertunjukan Musik Selatan Payakumbuh,  Mario F Lawi Siti Hasanah, Irmansyah, dan Randai Saedar Siti. (SSC/NA)

BACA JUGA