Aco Dance Company Makassar, Usung “Paupau, Suara Tanpa Kata”

PROGRAM "INDONESIANA SAF 2018

Selasa, 06/11/2018 11:03 WIB
Aco Dance Company, Makassar, Sulawesi Selatan yang akan tampil di Kaba Festival-SAF 2018 di Ladang Nan Jombang

Aco Dance Company, Makassar, Sulawesi Selatan yang akan tampil di Kaba Festival-SAF 2018 di Ladang Nan Jombang

Di Balik Capaian Kreatif Peserta Kaba Festival 2018

Salah satu dari 15 peserta Kaba Festival 2018 ialah Aco Dance Company yang  didirikan tahun 1994 di Makassar oleh koreografer Ridwan Aco. Kendati begitu, sejak tahun 1987, Ridwan Aco sudah aktif di dunia seni pertunjukan tari.

Sejak Aco Dance Company menjadi sebuah laboratorium dan riset, serta ruang proses kreatif Aco fokus dan berkonsentrasi pada kekuatan seni tradisi Sulawesia Selatan, terutama pada aspek gerak tarinya. Tarian tradisi Bugis-Makassar dijadikan titik berangkat untuk menghasilkan karya seni yang membumi.

Kaba Festival 2019 digelar kerja sama dengan program Indonesiana Kementerian Pendidikan dan Kebudayan, Dinas Kebudayaan Sumatera Barat didukung Badan Ekon0mi Kreatif (Bekraf) dan Bakti Budaya Djarum Foundation, serta Nan Jombang Dance Company, Komunitas Galombang Minangkabau akan menggelar pementasan seni pertunjukan Kaba Festival pada 26 November hingga 2 Desember 2018 di Ladang Tari Nan Jombang Padang.

Kaba Festival 2018 yang kelima kalinya digelar ini merupakan rangkaian program “Indonesiana” Silek Arts Festival (SAF) 2018 di Sumatera Barat akan memasuki pekan-pekan terakhir kegiatan.

Dalam peristiwa budaya Kaba Festival 2018 ini, Aco Dance Company membawakan karya tari berjudul  “Paupau, Suara Tanpa Kata” karya Ridwan Aco sekaligus sebagai penari yang berdurasi 25 menit.

“Paupau, Suara Tanpa Kata” mengisahkan tentang esensi dan hakikat manusia, yang dalam kehidupan sosial budaya Bugis-Makassar disebut Tau. Tau di muka hadir bukan semata hanya sebatang jasad tapi sebatang kehidupan yang mampu mengecap dan merasakan lingkungan sekitar, serta memiliki hubungan dengan kedudukan alam di muka Bumi ini. Alam bagi Tau merupakan saudara sekaligus orang tua yang telah menumbuhkembangkan manusia dengan sangat setia.

Proses dan Inspirasi Kreatif

Dalam pandangan masyarakat Bugis-Makassar, kedudukan alam bukan hanya bumi yang membungkus manusia dari serangan daya langit tapi lebih jauh dari itu. Dari filosofi kehidupan, tersebut, kita banyak mendapati tradisi-tradisi yang hadir dalam rumpun masyarakat Bugis-Makassar.

Tradisi itu sangat dekat dengan alam, salah satu di antaranya adalah cara mempersaudarakan manusia dengan alam dengan jalan tradisi. Ketika seorang anak Bugis-Makassar daerah pesisir lahir, maka plasenta dan ari-ari anak tersebut akan dihanyutkan ke laut.Setelah anak tersebut sudah dapat diajak berbicara maka dia akan dibawa ke pesisir pantai lalu dikatakan kepadanya bahwa laut adalah saudaramu karena bagian tubuhmu telah bersama mereka sejak engkau lahir.

Hal itu juga terjadi pada masyarakatBugis-Makassar daerah pedalaman dan pegunungan yang menanam ari-ari dan plasenta anak-anakmereka di sebuah pohon  kelapa yang menjadikan anak-anak mereka bersadauara dengan pohon, alam dan seluruh semesta.

Rangkaian filosofi tradisi tersebut adalah cara manusia Bugis-Makassar membahasakan kepada generasi mereka bahwa ada bahasa yang tidak tersentuh tafsiran-tafsiran kata, ada suara yang dipahami tanpa perlu dijelaskan.

Maka dengan demikian lahirlah sebuah tradisi bunyi yang bernama A’royong, yaitu sebuah tradisi nyanyian pengantar tidur seorang anak di daerah Bugis-Makassar. A’royong adalah suara yang diartikan sebagai bahasa privat, doa-doa tanpa nama yang biasanya dilantukan oleh seorang ibu kepada anaknya pada ayunan mereka sebelum tidur.

A’royong sebagai sebuah bahasa privat harapan sang ibu kepada anaknya yang telah melampaui bahasa kata. Anak-anak tersebut belum paham dengan kata-kata kebudayaan manusia sehingga bahasa antara ibu dan anak tersebut hanya melafalkan suara-suara merdu yang mengantarkan sang anak sampai kepada lelap tidurnya.

Masyarakat Bugis-Makassar menyakini bahwa jalan antara alam sadar dan alam bawah sadar (tidur) adalah jalan yang paling rentan terhadap gangguan,karena jalan tersebut adalah metamorfosa saat sang ruh mengistirahatkan jasadnya dipembaringan.

Saat-saat itulah yang mesti dijaga bagi manusia karena waktu tersebut bisa saja dimasuki oleh roh-roh jahat yang akan mempengaruhi kehidupan sang anak.

Di saat sang anak menjalani masa metamorfosanya diharapkan hanya ada satu suara yang ia dengar dalam perkembangan kehidupannya, yaitu suara ibu.

Suara yang sublim, suara yang paling dekat dengan ruh sang anak. Yang kemudian diharapkan selama masa kehiduapan sang anak ia takkan pernah bisa membantah ibunya, karena suaranya adalah juga suara sang ibu yang ditanamkan selama ini di jalan metamorfosanya.

Filosofi tersebut tertanam bagi setiap anak Bugis-Makassar sehingga sejauh apapun mereka merantau ia akan tetap rindu kepada kampong halamannya, tempat pembaringannya dan di dalam hubungan sosialnya. Ia selalu menghargai semua manusia tanpa pernah membeda-bedakan karena pada dasarnya anak-anak Bugis-Makassar percaya bahwa seluruh manusia adalah saudara terlahir dari rahim perempuan.

Aco Dance Company sejak berdiri telah aktif terlibat dan berpartisipasi dalam pertunjukan tari baik tingkat lokal, nasional, maupun internasional, antara lain:

 

  • “Temu Karya Tari”
  • ”Temu Koreografer Sul-Sel”
  • ”Tudang Penni”
  • ”Pentas Karya Tari”
  • ”Temu 4 Koreografer Makassar”
  • ”Seperempat Abad Taman Ismail Marsuki(TIM)”
  • ”Journal of Moment Art’s”
  • ”Mei Art Festival”
  • ”Makassar Dance Festival”
  • ”Makassar Art’s Forum(MAF)”
  • ”Festival Cak Durasim II” di Surabaya
  • ”Temu Koreografer Nasional” di Bandung
  • ”Lombok Art Festival (Internasional Workshop,Dance,Theatre & MusicPerformance)” d iNTT.
  • Pernah terlibat aktif di Lemah Putih Mojosongo, Solo pimpinan Bapak Suprapto Suryodarmono pada tahun 2000-an.Dan terlibat pada kegiatan-kegiatan pertunjukannya baik itu sifatnya personal dan  kolaborasi  dengan  seniman-seniman  lokal  dan internasional  di  beberapa  tempat  yang  ada  di 
  • Tahun 2002 berkolaborasi dengan kelompok Chy Body Theatre Group dari Taipe Taiwan.
  • Sebagai Aktor dalam World Tour di Teater Tari I Laga LiGo karya Mr.Robert Wiltson.
  • Tahun 2004 Esplanade Theatres on the Bay, Singapore – Het Muziektheater,Amsterdam–ForumUniversalde les Cultures Teatro Lliure, Barcelona–Teatro Lliure,Madrid–LesNuitsdefourviereRhone,Lyon–Theatro Alighieri,Ravena Festival.
  • Tahun 2005 Lincoln Center New York, USA
  • Teater Tanah Airku, Jakarta
  • Tahun 2006 Melbourne International Arts Festival, Australia
  • Tahun 2008 Teatro Arcimboldi, Milan
  • Metropolitan Hall per Taipei Arts Festival,Taiwan
  • Tahun 2011 Fort Rotterdam, Makassar Indonesia
  • Tahun 2018 –IMF World Bank Annual Meetings, Bali Indonesia
  • Temu Karya 24 Koreografer Sulawesi Selatan di Baru, 19-20 Februari dengan karya “SideofLifeLine”
  • Pertunjukan Karya Collaboration Tiga Koreografer Indonesia-Malaysia-Jepang di Black Box, Damansara Performing Art Center DPAC, 23rd&24th March Kuala Lumpur Malaysia dengan karya Nyanyian Bumi “Cryof Mother Earth”
  • Lokakarya Tari & Koreografi 27 Mei–10 Juni di Teater Arena Gedung Kesenian Societeitde Harmonie Makassar
  • Pertunjukan “Perempuan Pada Bagang” dan “Mata Air Kenangan Mata Air Kehidupan” di FortRotterdam Makassar 20-21 Juli dan segera (sebagai aktor) I Lagaligo. (SSC/NA/Rel)

BACA JUGA