Jum'at, 26/10/2018 19:27 WIB

Partai Politik

-

-

OLEH Wiztian Yutri

MEMPERJUANGKAN rakyat kita harus selalu berada di tengah-tengah rakyat kapan saja. Salah satu bentuk aplikasi perjuangan tersebut ialah masuk partai politik. Beberapa teman yang selama ini berkarier di jalur swasta, sepertinya bereaksi positif menyambut partai-partai baru. Siap unjuk kemampuan.

Mengapa ke partai politk? Mau jadi anggota dewan? Kepala daerah? Atau agar suara bisa dikutip pers? Dari dialog dengan teman-teman itu, mereka memang tidak memasang target. Penting masuk partai politik dulu, berjuang dulu, silakan kenyataan nanti yang akan menentukan.

Walaupun demikian, saya menangkap ada benang merah yang menjadi alasannya dan itu tidak disebut teman tadi secara langsung. Misalnya, tentang rakyat yang terabaikan. Rakyat yang mana? Ketika berlangsungnya pemilu, baik legislatif maupun pilkada atau pilres, rakyat betul-betul jadi idola. Nantilah dalam pemilihan untuk jumlah kehadiran dalam kampanye pun menjadi tolok ukur, sangat strategis. Penting.

Bagaimana setelah semua selesai dan masing-masing sudah duduk pada singgasana kekuasaan? Di sinilah “tragedi” itu terjadi. Rakyat harus siap menerima kenyataan untuk ditinggalkan, dan untuk diabaikan bahkan dianggap masa bodoh (cuek).

“Kami ingin merubah paradigma itu?” jelas teman calon politisi baru tadi. Bahwa sampai kapanpun rakyat harus tetap dimuliakan. Suara rakyat di negeri terisolir sekalipun, di hari pemilu, sama nilainya dengan suara seorang presiden di kotak suara. Rakyat jangan hanya untuk stempel legalitas, tambahnya.

Saya berpikir, langkah yang akan ditempuh teman tadi seolah “balas dendam” politik. Seakan dalam dirinya berkobar semangat dan perasaan rakyat yang teraniaya, terseok-seok. Dengan optimisme dan keyakinan totalitas, bersama partai baru sebagai kendaraan politiknya, mereka menancapkan tekad, mengubah nasib rakyat.

Pro-rakyat? Sebetulnya ketika jalan ke pelosok, dari ekspresi dan dari dialog dengan hati-hati rakyat, terkesan mereka sudah bosan dengan janji-janji kampanye. Mungkin karena sering dibohongi. Nah, dari realitas demikianlah, setidaknya teman calon politisi baru tadi akan bergerak.

Mereka tinggalkan bisnis yang sudah mapan di jalur swasta dengan harapan bila terpilih jadi pejabat publik, mereka tidak akan memposisikan diri menjadi pegawai politik yang hanya menunggu gaji tiap bulan. Menjadi politisi terhormat dan bermoral tinggi yang hidup dari uang kehormatan komitmennya. Siap mengorbankan segalanya demi rakyat.

Saya berpikir, komitmen calon politisi dengan kendaraan partai baru, yang sebentar lagi dideklarasikan itu, sebuah itikad baik. Mereka tidak dalam bermimpi dan berkhayal karena dari kesiapan dan hubungan baik yang sudah dijalin dengan rakyat akan menjadi kata kunci.

Rajin menghadiri berbagai undangan baik orang kaya maupun miskin tak pernah luput dari kegiatan majelis taklim, membesuk orang sakit dan menjenguk kematian di lingkunganya.

Kepada saya, dia pun menyebutkan komitmen hidupnya yang tak muluk-muluk: dalam memperjuangkan nasib rakyat, kita harus berada di tengah-tengah rakyat di saat kapan pun. Luar biasa! (*)

BACA JUGA