Sabtu, 20/10/2018 07:04 WIB

Kesetiaan Lokal

-

-

OLEH Wiztian Yutri

RAKYAT harus semakin cerdas. Tampil ke depan, bersuara lantang memperjuang­kan hak-haknya. Bila tidak begitu, posisi rakyat tak lebih dari penonton. Menunggu nasib. Itulah sebabnya, bersamaan dengan lawatan dua hari Presiden SBY di Sumatera Barat, kami meluncurkan sebuah rubrik: Yth Bapak Presiden!

Tidak tanggung-tanggung, mereka yang bicara dalam rubrik total satu halaman itu adalah masyarakat kecil, masyarakat berpenghasilan rendah, bahkan selama ini, mungkin keberadaanya terpinggirkan dalam tatanan kehidupan ideal. Lugu, jujur dan apa adanya. Tiga kata itu menjadi cerminan keakraban lingkungannya. Mereka tak berharap muluk-muluk. Rata-rata hanya minta diperhatikan. Bila dia pedagang kecil, dia menggugah pemimpin untuk membantu pengembangan usahanya. Kalau dia pegawai honorer, harapannya bisa diangkat jadi PNS benaran.

Begitupun bila profesinya nelayan, sekiranya ada kredit lunak, minta disalurkan. Sebab, sebagian besar mereka masih menggantungkan hidup pada cuaca. Ketika cuaca bagus dapat melaut namun saat cuaca buruk, harus berhenti dan status pun beralih jadi penganggur.

Sementara tuntutan kebutuhan ekonomi sehari-hari tidak pernah berhenti. Realitas yang sama juga dialami petani. Soal kelangkaan pupuk masih saja mendera. Artinya, jangankan mendapat pupuk murah, justru pupuk dengan harga standar saja kadang kala sulit mendapatkan. Mereka memang petani kecil.

Saya ingin menegaskan bahwa hari ini masyarakat yang hidup di sudut-sudut kota, di pinggirian negeri serta pedagang kaki lima, punya hak untuk bicara lantang. Di mana? Di media. Sepanjang yang menjadi aspirasi untuk kemaslahatan, suaranya layak dikutip sebagai sumber berita.

Belakangan, memang ada peran lain yang harus dimainkan media. Tidak sekadar pemberita saja. Tapi juga mengawal pemerintahan sehingga berjalan dengan baik, pro-rakyat, adil dan transparan. Selain itu, juga memotivasi masyarakat sehingga tidak sampai larut dalam keterpurukan.

Dalam perspektif kita, media memang harus memberikan harapan dan optimisme kepada masyarakat. Optimisme itu akan tergambar dalam kemasan informasi yang menjadi santapan publik, dan pada konteks lain, media juga mengajak masyarakat berani menyampaikan pendapat. Berani membela yang benar, bukan berani membela yang bayar?

Lantas , apa kaitan dengan judul tulisan: Kesetiaan Lokal? Hadir dan mendapat ruang di tengah masyarakat di daerah ini, ada tanggung jawab moral media untuk tampil ke depan tapi tentu tidak dalam konteks luntur dari sikap kritis. Kita tetap kritis tapi konstruktif. Dari suara rakyat badarai yang kami rangkum dalam rubrik Yth Bapak Presiden Jumat pekan lalu, terpencar dari suara-suara itu, kekurangan perhatian dan kekurangan peduliaan pun menjadi kata kunci.

Kesetiaan lokal, agaknya patut menjadi spirit daerah. Ketika headline kami, pada penerbitan hari Jumat (22/9) berjudul: Selalu Ada yang Baru di Sumbar. Itu dimaksudkan, bahwa kami ingin menyampaikan kabar gembira kepada masyarakat Sumbar, bahwa ada pengakuan jujur Presiden SBY, setiap kali berkunjung ke Sumbar beliau selalu melihat ada perubahan dan inovasi. Dan, perubahan-perubahan itu, puji presiden senantiasa menjadi wacana nasional. Inilah wujud kesetiaan lokal, selain mengajak berani masyarakat kecil untuk bicara lantang. Wasalam. (*)

REDAKSI--Media daring sumbarsatu secara berkala setiap hari Sabtu di kanal "Harmoni Wiztian Yutri". Tulisan Ciweq--demikian ia akrab disapa--merupakan wartawan senior di Indonesia, pernah membesarkan Harian Padang Ekspres sebagai pemimpin redaksi. Kini, mantan Komisaris Semen Padang ini, menuju ladang pengabdian ke DPDR Sumbar sebagai calon anggota legislatif dari PAN untuk daerah pemilihan Pariaman dan Padang Pariaman dalam pileg 2019 yang akan datang. Tulisan-tulisan Ciweq, lebih bersifat reflektif, sarat renungan, introspektif, dan inspiratif, bisa menjadi teman bacaan Anda setiap akhir pekan. Selamat membaca.

BACA JUGA