Senin, 15/10/2018 07:46 WIB

TI Optimalkan Pendataan Penyintas Pascagempa Sulteng

Foto BNPB

Foto BNPB

Palu, sumbarsatu.com– BNPB, Kemensos dan Kemenkes melakukan kolaborasi dengan memanfaatkan teknologi informasi (TI) untuk pendataan penyintas yang terdampak gempa bumi Sulawesi Tengah (Sulteng). TI yang digunakan berupa aplikasi KoBoCollect yang berbasis android dan dapat diakses melalui Google Play Store.             

Pendataan masih menjadi tantangan khususnya terkait dalam pemenuhan kebutuhan dasar para penyintas. Perwakilan IOM Tjossy menyampaikan bahwa pendataan ini memberikan pemahaman yang menyeluruh terhadap kondisi dan kebutuhan pengungsian di ketiga kabupaten terdampak (Palu, Sigi dan Donggala) sehingga pemerintah melalui Komando Tugas Gabungan Terpadu (Kogasgabpad) dapat melakukan penanganan darurat terhadap pengungsi dengan lebih baik dan efisien.

“Sebagai bagian dari kerja sama yang telah terbina lama antara Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) dengan Pemerintah Indonesia, Kementerian Sosial Republik Indonesia meminta IOM melakukan pendampingan teknis untuk kegiatan Pendataan Pengungsian Terpadu di Palu, Sigi dan Donggala bersama dengan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia dan BNPB,” tambah Tjossy, Minggu (14/10/2018). 

Sementara itu, perwakilan UNFPA Narwawi Pramudhiarta mengatakan bahwa tindak lanjut dari pendataan ini diharapkan dapat memberikan informasi terhadap kondisi dan kebutuhan penyintas  secara komprehensif, dan dapat diakses melalui visualisasi dashboard

“Pendataan ini akan mempermudah secara visual bagi pemerintah dan para mitra dalam melakukan pelayanan dan memenuhi kebutuhan para penyintas di setiap pos penampungan,” jelas Pramudhiarta di Pos Pendamping Nasional pada Minggu (14/10) di Kota Palu, Sulawesi Tengah. 

Sementara itu, IOM telah menggandeng Universitas Tadulako di Kota Palu untuk menerjunkan para mahasiswa untuk melakukan pendataan. Sejumlah 365 mahasiswa dan 30 dosen pengawas dari Universitas Tadulako terlibat dalam pendataan di wilayah Kota Palu, Kabupaten Sigi, dan Kabupaten Donggala. Mereka yang melakukan pendataan telah mendapatkan pelatihan untuk penggunaan aplikasi KoBoCollect dan pengenalan formulir pertanyaan yang tersedia pada aplikasi.  

Metode pendataan ini menggunakan aplikasi KoBoCollect yang memuat beberapa pertanyaan dalam formulir yang harus dijawab oleh responder. Responder yang diharapkan dari Koordinator Pos Penampungan atau perwakilan penyintas yang memahami situasi di pos penampungan.

Formulir ini mengadopsi formulir Displaced Traffic Matrix (DTM) dari IOM dan ditambah masukan dari ketiga kementerian/Lembaga tadi. Target penyajian data yang telah diolah dapat diakses melalui dashboard DTM pada 21 Oktober 2018 nanti.  

Melalui data yang terjadi, pemerintah dan mitra pemberi bantuan dapat melakukan perencanaan kegiatan dan pemberian bantuan sesuai dengan kebuthan.

“Kita sebagai yang membantu, kita tahu yang dibutuhkan oleh pengungsi. Padahal realitas yang terjadi tidak seperti itu, misalnya kita memberikan beras padahal mereka mengkonsumsi sagu,” jelas Pramudhiarta.  

Kolaborasi BNPB, Kemensos dan Kemenkes ini mendapatkan dukungan dari Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM), Badan PBB untuk kependudukan (UNFPA), dan Komando Tugas Gabungan Terpadu (Kogasgabpad) penanganan darurat bencana gempa dan tsunami Sulawesi Tengah.

IOM dan UNFPA telah melakukan audiensi terkait dengan pendataan ini kepada Panglima Kogasgabpad Mayjen Tri Soewandono pada Sabtu (13/10) di Makorem 132/Tadolako. 

Gempa bumi magnitudo 7,4 dengan kedalaman 10 km pada 28 September 2018 lalu memicu tsunami, longsor, dan likuifaksi di beberapa titik. Kogasgabpad merilis data per 14 Oktober 2018 per 17.00 Wita, korban meninggal dunia 2.095 jiwa, luka berat 4.612, hilang 680, dan tertimbun 152. (SSC/Rel)

 

BACA JUGA