Kamis, 04/10/2018 08:25 WIB

Kesadaran Mitigasi Bencana Gempa dan Tsunami

BERKACA PADA SUMBAR RAWAN BENCANA

-

-

MUSIBAH bencana gempa bumi dan tsunami yang terjadi di Sulawesi Tengah membuka banyak hikmah dan pelajaran bagi masyarakat, terutama yang berdomisili di sepanjang pesisir pantai, termasuk di sebagian daerah di Sumatera Barat.  
 
Mitigasi bencana menjadi sebuah kemestian bagi pemerintah daerah. Mengingat hampir semua daerah di Sumatera Barat, rawan bencana, baik bencana gempa bumi, tsunami, letusan gunung, longsor, dan lain-lain.
 
Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 bersama turunan peraturannya telah mengamanatkan agar pemerintah daerah, kabupaten dan kota melaksanakan program-program mitigasi bencana. 
 
Mitigas bencana, khususnya gempa dan tsunami untuk daerah-daerah pesisir harus terus digalakkan. Agar masyarakat paham dan mengerti serta tidak panik ketika terjadi guncangan dan peringatan tsunami datang. Ajarkan masyarakat agar ketakutan bisa berkurang. 
 
Suatu hari, saya ngopi bersama seorang sahabat pejabat dari Badan Nasional Penangulangan Bencana (BNPB), Medi Herlianto. Medi ketika itu menyatakan, bukan hanya masyarakat yang masih minim dan buta tentang mitigasi tetapi juga aparat-aparat di instansi-instansi pemerintah. Mereka juga perlu diberikan pemahaman mitigasi. Diberikan prosedur-prosedur taktis penyelamatan yang terus dibudayakan, walaupun gempa tsunami tak punya waktu tepat datang melanda. Namun kesiapsiagaan adalah keharusan. 
 
Medi juga berharap, ada kepekaan kepala daerah untuk mengingatkan. Tidak hanya ketika bencana baru heboh dan saling menyalahkan. Padahal, amanat undang-undang kebencanaan sudah jelas, agar mitigasi sebelum bencana, sedang bencana, sesudah bencana selalu diprogramkan. 
 
"Jangan kucilkan apalagi ditiadakan anggaran mitigasi," kira-kira begitu Medi menegaskan. 
 
Kini, setelah Lombok diguncang gempa, Palu dan wilayah sekitarnya dilanda gempa dan tsunami. Ribuan nyawa melayang, rumah-rumah dan fasilitas umum hancur. Begitu sibuk media massa mengabarkan dan media sosial menyebarkan berita-berita termasuk mayat-mayat bergelimpangan. Kita berduka, budaya menyebarkan mayat-mayat korban bencana mestinya dihentikan. Tidak baik. Begitu pula menyalahkan BMKG atas prosedur pencabutan status potensi tsunami begitu cepat. Semua itu sudah berlalu, kini tanggap darurat harus maksimal. 
 
Pelajaran penting bagi pejabat dan masyarakat Sumatera Barat, Palu hari ini adalah kita 9 tahun lalu. Tepatnya 30 September 2009, dimana kita luluhlantak, bukan hanya bangunan tetapi jiwa dan mental kita. Mari evaluasi, sejauhmana kesiapsiagaan kita dalam jika terjadi. Bukankah kita sudah beberapa kali dilanda gempa. Mestinya kita sudah jauh melangkah, menyiapkan diri dan menyiapkan masyarakat tanpa harus panik dan takut. Apakah semua warga sudah tersentuh dengan mitigasi bencana? Apakah yang sudah mendapatkan mitigasi, justru lupa dan tak lagi mengulangi kaji? Harus ada yang bertanggungjawab soal ini. 
 
Bila kita mengingat 30 September 2009 lalu, seperti Palu hari ini, kita dalam kebingungan menata kembali kehidupan yang terkoyak oleh beberapa detik guncangan hebat. Bencana gempa memang menakutkan tanpa menyiapkan diri secara mental dan spiritual, alangkah banyak jatuh korban. 
 
Painan, Padang, Pariaman, Padangpariaman, Tiku, Pasaman Barat, Mentawai, adalah daerah-daerah yang harus diprioritaskan dalam mitigasi. Terus menerus, tiada henti. Termasuk kampus-kampus yang mahasiswanya datang dari luar, harus juga memberikan pendidikan teknis tentang penyelamatan dan pengenalan daerah rawan gempa dan tsunami. Hotel-hotel, mal-mal, jangan segan memberikan petunjuk taktis dan teknis, seperti halnya pramugari memberi petunjuk ketika dalam penerbangan. Kesiapsiagaan sangatlah penting, jangan sekali-kali diabaikan. 
 
Semoga saudara-saudara kita di Palu dan sekitarnya kuat, tabah dan sabar. Sedangkan kita di sini, di Sumatera Barat, berbenah, berevaluasi, baik pejabat pemerintah, seluruh elemen, politisi, cendekiawan, sastrawan, wartawan dan masyarakat, menyadari, bencana datang tidak kenal waktu. Kita mesti siap siaga. Mitigasi bencana itu perlu, belajarlah dari gempa Palu. Salam. (Wiztian Yoetri, pernah dimuat di Padang Ekspres, Senin, 1 Oktober 2018)
 

BACA JUGA