Memaknai Gempa-Tsunami Palu

---

Senin, 01/10/2018 12:11 WIB
Dampak gempa Palu berkekuatan 7,4 SR yang disertai tsunami

Dampak gempa Palu berkekuatan 7,4 SR yang disertai tsunami

OLEH Prof Hery Harjono (Peneliti LIPI)

Begitu mendengar berita tentang gempa melalui media sosial WhatsApp (WA) saya kontak Dr. Mudrik Daryono, peneliti di Geoteknologi LIPI yang disertasinya salah satunya tentang Sesar Palu-Koro. 'Itu gempa yg kamu tunggu, Drik?. 'Ya dan bukan, pak!'. Lantas saya buka WA Keluarga Geotek LIPI, yang sudah ramai dengan berita gempa dan tsunami Palu karena medsos melaporkan ada tsunami bahkan disertai video.

Ada pendapat menarik dari Dr. Nugroho Dwi Hananto, marine geophysicist dari Geoteknologi LIPI yg kini ditugaskan di Oseanografi LIPI. Dr. Nugroho menduga penyebab tsunami adalah longsoran mengingat bentuk batimetri di Teluk Palu yang berbentuk lembah sempit dan curam. Bentuk ini bukti adanya Sesar Palu-Koro yang mengiris teluk itu. Boleh jadi dugaan Nugroho benar.

Data dari situs USGS mendorong saya untuk menyimpulkan bahwa tak akan ada tsunami karena mekanis pusat gempa menunjukkan hampir murni strike slip (sesar mendatar). Nyaris sempurna, meski ada sedikit komponen gerakan vertikal (USGS, 2018). Kalau toh ada tsunami, mungkin kecil saja, begitu dugaan saya.

Gempa Palu M7.4, terletak di utara Kota Palu dan berada di Sesar Palu-Koro yang memanjang hampir utara-selatan. Sesar aktif ini membelah Sulawesi menjadi dua bagian: barat dan timur. Di bagian utara khususnya di Teluk Palu, kenampakan sesar ini di bawah laut, berupa lembah sempit dan curam. Di ujung selatan sesar ini menyatu dengan Sesar Matano yang memanjang hampir barat-timur, dan kemudian menyatu dengan Sesar Sorong yang panjang itu.

Sejatinya, banyak bagian di wilayah kita yang terkoyak-koyak oleh sesar-sesar aktif. Di sepanjang sesar-sesar itu serpihan-serpihan lempengan tektonik bergerak sebagai respons terhadap tumbukan tiga lempeng raksasa: Eurasia, Pasifik dan Indo-Australia. Serpihan lempengan di Sulawesi itulah yang kini menyebabkan gempa di Palu.

Pada dasarnya BMKG sangat beralasan menghentikan peringatan tsunami 30 menit karena gempa memiliki gerakan mendatar. Selain itu posisi gempa yang sangat dekat dengan pantai 'seharusnya' tsunami akan datang segera setelah gempa terjadi. Boleh jadi kurang dari 10 menit.

Lantas bagaimana menjelaskan adanya tsunami? Saya kira pendapat Dr. Nugroho Hananto perlu mendapat perhatian mengingat kemungkinan longsor pada dinding lembah Teluk Palu yangg curam sangatlah mungkin terjadi.

Setiap kejadian adalah pembelajaran. Beberapa waktu yang lalu, kita mendapat pelajaran dari gempa Lombok yang muncul bertubi-tubi dan itu tak biasa? Earthquake swarm? Kenapa? Adakah aktivitas magmatik ikut ambil peran seperti kejadian serupa di Jepang?

Kini, tsunami di Palu. Adakah longsoran (yang mungkin tak pernah terpikirkan) ikut ambil bagian? Itu semua tentu membutuhkan jawaban ilmiah dengan bukti-bukti lapangan yangg kuat. Itu tak sulit dilakukan. Kalau benar itu karena longsoran, tentu ke depan hal tersebut harus masuk dalam skenario dalam early warning system. Boleh jadi ada penyebab lain, dan itu pun harus kita gali. Jangan sampai kita kehilangan momentum dan kita biarkan saja tanpa jawaban.

Barangkali menarik mengintip Jepang. Bayangkan negeri yang pernah sangat tertutup itu, memulai belajar gempa menjelang akhir abad ke-19 dari Barat (baca: Inggris). Berkali-kali hancur karena gempa tapi terus bangkit dengan jawaban baru. Ketika tahun 1891 terjadi gempa Nobi yang menelan korban 7.000 jiwa, maka dibentuk Earthquake Disasater Prevention Investigation Council.

Tahun 1919, Jepang menetapkan Urban Building Law. Ketika Tokyo rata dengan tanah tanah akibat gempa Kanto 1 Sep 1923, maka jawaban Jepang mendirikan Earthquake Research Institute (ERI) di Univiversitas Kyoto. ERI sangatlah terkenal. Sejumlah respons penting dibuat Jepang setiap ada kejadian gempa, termasuk beberapa kali merevisi Building Law, antara lain merespons gempa Kobe 1995. Terakhir ketika gempa dan tsunami Tohoku terjadi pada tahun 2011, maka berdirilah IRIDeS (International Research Institut of Disaster Science) di Univiversitas Tohoku. Begitulah Jepang menjawab bencana.

Kembali saya tekankan bahwa tak banyak yang kita ketahui dengan baik perilaku sesar-sesar aktif di Indonesia. Sangat sedikit. Rasanya sudah saatnya kita merespons setiap kejadian dengan program yang lebih terencana agar tidak terkejut-kejut acapkali gempa dan tsunami datang.
Wallahu A'lam

Dili, 29/09/2018/

Tentang Hery Harjono klik di sini 

BACA JUGA