Kilang Tebu Rakyat Menarik bagi Turis

-

Minggu, 09/09/2018 11:09 WIB
Wisman asyik menyaksikan petani mengilang tebu di Lawang

Wisman asyik menyaksikan petani mengilang tebu di Lawang

Agam, sumbarsatu.com--Kilang tebu rakyat sangat menarik bagi wisatawan, terutama wisatawan mancanegara (wisman).

Hal itu  diungkap Asisten II Sekab Agam, yang juga mantan Kadis Pariwisata Pemuda dan Olahraga, Jetson, kepada sumbarsatu, Minggu (9/9/2018).

Kilang tebu tradisional terbuat dari kayu dan penggeraknya bukan mesin, tetapi tenaga hewan. Hewan yang lazim digunakan adalah kerbau.

Para wisatawan sampai tahan berjam-jam menyaksikan petani tebu mengilang tebu di pondok mereka. Mereka tidak jarang mengabadikan kegiatan mengilang tebu rakyat tersebut dengan kamera video, dan tustel mereka.

“Kegiatan mengilang tebu rakyat, yang sering menjadi tontonan wisatawan adalah di Lawang,” ujarnya.

Menurutnya, petani tebu sudah mendapat pembinaan, agar selalu menarik bagi wisatawan. Yang perlu dijaga adalah kebersihan pondok tempat mengilang tebu dan lingkungannya, serta keramah-tamahan terhadap wisatawan.

Namun disayangkan, kilang tradisional itu sudah banyak yang rusak. Saat ini yang masih berfungsi hanya sekitar 2 unit. Untuk membuat kilang baru, tukangnya sudah tiada.

“Itulah kesulitan petani tebu saat ini. Kilang tradisional dari kayu sudah langka, dan tukang yang mampu membuat kilang tradisional baru sudah tiada,” ujarnya pula.

Kini yang banyak digunakan petani tebu untuk mengilang adalah mesin buatan pabrik. Kilang tabu seperti itu kurang menarik bagi wisatawan, terutama wisman.

Sentra perkebunan tebu utama di daerah itu antara lain Lawang, Kecamatan Matur, Bukik Batabuah, dan Lasi (Canduang), dan Sungai Landia (IV Koto).

Kini tebu selain diolah menjadi saka (gula merah padat), dan gula semut, juga dijual batangan kepada pedagang air tebu. (MSM)

BACA JUGA