Tak Ada Krisis Tahun Ini?

-

Senin, 03/09/2018 20:28 WIB
-

-

OLEH Faldo Maldini (Wasekjen PAN)

Dugaan persekusi #2019GantiPresiden dan Asian Games membuat masyarakat kehabisan tenaga mengikuti isu-isu yang lebih fundamental. Saya apresiasi kemahiran Istana. Medan merdeka berpesta, rupiah makin menderita. Semoga

Ekonom ketakutan untuk kasih pendapat. Kalau bilang ekonomi kacau, pelaku usaha panik, terus analis-analis itu pasti di-bully pendukung pemerintah. Kalau tidak bilang buruk, semuanya sudah terasa semakin sulit. Dilematis!

Setelah moment Asian Games semoga semuanya baik-baik saja, jangan sampai kayak Yunani habis jadi Tuan Rumah Olimpiade. Negaranya bangkrut, tak kuasa menghadang krisis yang datang seperti ajal.

Rupiah makin tidak berdaya, mata uang terlemah di Asia Tenggara. Peso Filipina pun lebih perkasa. Kita tidak usah bicara dulu soal Ringgit Malaysia atau SinD yang nilainya jauh lebih baik. Apa kita harus percaya begitu saja semua baik tidak ada apa-apa?

Apa dampaknya Rupiah melemah? Industri lokal yang andalkan bahan baku impor pasti akan tumbang. Mereka harus beli kebutuhan produksi dengan harga selangit, apalagi kalau bergantung pada penjualan di pasar dalam negeri, pastinya aktivitas ekonomi semakin lesu.

Tidak hanya swasta, perusahaan- perusahaan plat merah juga jadi korban. Belum koar-kora soal 35.000 MW tercapai, PLN sudah terlilit utang akibat selisih kurs. Rugi bersih Rp5.35 triliun harus ditanggung selama semester I, dibanding tahun sebelumnya Rp2.03 triliun. Naiknya lebih dari 2 kali.

Pinjaman negara dan swasta pun akan dialokasikan untuk bayar utang. Semakin melemahnya Rupiah, utang juga makin mencekik. Belum pernah Rupiah mencapai angka ini sejak krisis ekonomi 1998.

Defisit transaksi berjalan Indonesia juga sudah mencapai angka $8 miliar yang mana tahun sebelumnya $5.7 miliar. Kita sangat tergantung pada modal asing untuk impor. Kalau angka ini di akhir tahun tembus $25 miliar, rupiah tidak akan terselamatkan.  Tetap di Rp15.000 per dolar sudah mujur.

Beda dengan negara seperti Malaysia, Korsel,  atau Jepang. Mereka punya utang besar kepada rakyatnya sendiri. Jika bunga obligasi naik, uangnya tetap beredar di rakyat sendiri.  Sementara, obligasi kita dikuasai asing sebanyak 40 persen. Ini yang terburuk di Asia.

Pembangunan yang dilakukan oleh Indonesia ditutupi oleh surat-surat utang yang dikuasai asing. Ini adalah rezim yang sangat neolib dalam kebijakan, namun punya perangkat PR yang sangat populis. Bayangkan,  berapa bunga obligasi yang harus dibayarkan pemerintah.

Walaupun masih dalam batas wajar, devisa kita terus menukik. Sejak awal tahun, sudah terpakai $14 miliar. Kebijakan pembatasan impor pun sudah terlambat dan tidak strategis. Indonesia butuh menaikan devisa tahun ini di atas $25 miliar agar Rupiah tidak makin jatuh. Ini berat.

Pelemahan ini adalah bukti infrastruktur yang dibanggakan selama ini tidak berpengaruh terhadap penguatan fundamental ekonomi atau peningkatan devisa. Jadi siapa yang paling diuntungkan oleh pembangunan yang dilakukan oleh pemerintah?

Jelas bukan saya, karena saya tidak punya tanah ratusan hektare di sekitar jalan tol atau jalur-jalur yang sudah dibangun. Supir truk logistik juga tidak mau lewat jalan tol karena biayanya mahal. Gejala ini juga dijelaskan dalam buku Uda @andrinof_a_ch.

Jadi siapa yang paling menengguk untung dari melemahnya Rupiah ini?  Tentunya,  yang barangnya lebih mudah terjual dengan Rupiah yang melemah. Orang yang bisa produksi semuanya pakai Rupiah dan jualnya pakai Dollar. Saya yakin makhluk tipe ini banyak di lingkar kuasa.

Industri gagal total berkembang. Yang ada, mereka angkat kaki karena fundamental ekonomi dan devisa kita tidak meyakinkan. Saatnya,  pemerintah berpikir sesuatu yang bisa mengurangi rasa sakit negara ini, bukan hanya soal gimmick elektabilitas.

Defisit berbagai bidang harus ditekan. Pemerintah yang berani siap kehilangan dukungan untuk dampak jangka panjang. Negara butuh naikan tarif listrik, BBM, dan sebagainya. Agar tidak semakin banyak rugi yang ditanggung oleh generasi penerus.

Tetapi kalau orientasinya hanya kekuasaan, tetaplah bikin rakyat dalam ilusi, pasti penguasa akan terpilih lagi. Kesalahan manajemen negara dari awal, berdampak kebijakan tidak populer lebih dibutuhkan. Kalau tidak,  devisa akan jeblok, hutang makin banyak, dan Rupiah lemah.

Sebagai pemimpin yang dicintai rakyat, ini adalah saatnya Pak @jokowi menguji kecintaan pendukungnya. Apakah mereka benar-benat secinta itu? Kalau tarif dinaikan demi kepentingan yang besar, harusnya mereka paham kondisi, Bapak. Kalau tidak terpilih lagi, ya anggap saja garis tangan.

Semoga #TakAdaKrisisTahunIni, apakah netizen mau iuran untuk bantu pemerintah?***

 

BACA JUGA