Teater "Bangku Kayu" Karya Yusril Katil Gugat Sistem Pendidikan

JAMBI PERFORMING ART 3 KOTA

Selasa, 28/08/2018 16:26 WIB
Proses latihan dan eksplorasi teater

Proses latihan dan eksplorasi teater "Bangku Kayu dan Kamu yang Tumbuh di Situ" karya/sutradara Yusril Katil. Foto Denny Cidaik

Padang Panjang, sumbarsatu.com--Seniman plus akademisi ISI Padang Panjang Yusril Katil akan mementaskan karya seninya "Bangku Kayu dan Kamu yang Tumbuh di Situ" dalam iven "Jambi Performing Art 3 Kota" di Taman Budaya Jambi, pada Jumat, 31 Agustus 2018. Peristiwa budaya ini dimulai sejak 31 Agustus-1 September 2018 menampilkan pertunjukan randai perempuan, musik, dan tari dari 3 kota: Padang Panjang, Medan, dan Jambi.

"Konsep dan garapan "Bangku Kayu dan Kamu yang Tumbuh di Situ" berangkat dari pandangan objektif terhadap pendidikan dasar yang berlangsung di Indonesia. 9 aktor di panggung akan merekonstruksi tubuh dan simbol-simbol di atas pentas sehingga apa yang jadi gagasan bisa dikomunikasikan ke penonton," kata Yusril kepada sumbarsatu, di sela-sela latihan, Senin (27/8/2018) di Padang Panjang.

Dijelaskannya, teater "Bangku Kayu dan Kamu yang Tumbuh di Situ" menggambarkan tentang proses ketertekanan tubuh di bawah penataan yang sistemik dalam budaya sekolah. Tubuh aktor dan properti yang ada di panggung serta musik,merupakan teks pertunjukan yang akan membuka seluasnya komunikasi simbolis dengan penonton. 

“Ini sebenarnya adalah letupan ingatan saya akan proses belajar di sekolah dasar dan menengah. Saat kecil tubuh kita sudah dipaksa untuk patuh. Di dalam kelas kita harus melipat tangan, wajah harus menghadap ke depan dan semua itu kosong dari emosi,” katanya.

Menurutnya, sistem pendidikan Indonesia telah turut mengkonstruksi tubuh anak didik agar patuh, namun juga sangat mungkin untuk berkembang dengan polanya sendiri.

“Tapi di balik itu ada bahaya mengancam. Tubuh yang terkekang oleh sistem akan cenderung memberontak. Apalagi di era seperti sekarang, dimana begitu banyak goidaaan yang datang dari luar,” sebutnya.

Tubuh yang dikonstruksi seperti itu kemudian dijejali pula dengan cita-cita yang macam-macam. Padahal saat masih kecil, manusia tak paham betul seperti apa wujud karakter yang kita cita-citakan itu.

"Kalau kita bercita-cita menjadi insinyur, bukan berarti kita paham apa itu profesi insinyur,” terangnya.

Proses kreatif "Bangku Kayu dan Kamu yang Tumbuh di Situ" ini menurut Yusril akan terus dilakukan selama 3 tahun ke depan. Ini merupakan program hibah dari Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi. 

Pertunjukan di Jambi menjadi awal bagi eksplorasi kemungkinan-kemungkinan baru bagi perjalanan karya ini seterusnya.

“Pihak Kemenristek Dikti nantinya akan mengakhiri program ini dengan pematenan karya. Semoga ini menjadi motivasi yang bagus bagi seniman akademik untuk terus berkarya,” sebut Yusril. 

Pertunjukan seni "Bangku Kayu dan Kamu yang Tumbuh di Situ" didukung tim yang solid, yakni Edward Zebua (pimpinan produksi), Sahrul N(dramaturg), Ali Sukri (pengatur gerak), Elizar Koto, Indra Arifin, dan Avantgarde Dewa Gugat (komposer/pemusik), Kurniasih Zaitun dan Gusrizal (produksi). Reri Rizaldi, Mahmud Junanda, Egi Oktriadi, Erwin Mardiansyah, Erik Nofriwandi, Andi Jegger, Hadi Yusra, Ahmad Ridwan Fajri, Utari Irenza, Intania Ananda Jonisa (pemain/aktor),  Budi Kurniawan, Ari Wirya Saputra (penata lampu), Topan Dewa Gugat dan Denny Cidaik (dokumentasi). dan Ari Leo (desain publikasi). (SSC/MF)

 

BACA JUGA