Ubahlah Aksi Premanisme dengan Kampanye Simpatik

-

Minggu, 26/08/2018 07:15 WIB
Kedatangan Neno Warisman (pakai masker) di Bandara SSK II Pekanbaru, Riau, langsung masuk ke mobil yang dikawal pihak kepolisian dan TNI, Sabtu (25/8/2018).(Kompas.com/Idon Tanjung)

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul

Kedatangan Neno Warisman (pakai masker) di Bandara SSK II Pekanbaru, Riau, langsung masuk ke mobil yang dikawal pihak kepolisian dan TNI, Sabtu (25/8/2018).(Kompas.com/Idon Tanjung) Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "3 Jam Neno Warisman Tertahan di Gerbang Bandara Pekanbaru", https://regional.kompas.com/read/2018/08/25/19001801/3-jam-neno-warisman-tertahan-di-gerbang-bandara-pekanbaru. Penulis : Kontributor Pekanbaru, Idon Tanjung Editor : Bambang Priyo Jatmiko

OLEH Anggun Gunawan (Pegiat Penerbitan Buku)

Saya melihat ketidakcerdasan elite pendukung Jokowi dengan menggunakan preman dan mengobok-obok emosi pendukungnya untuk melakukan aksi-aksi penghadangan terhadap emak-emak seperti Neno Warisman dan Ratna Sarumpaet di berbagai bandara di Indonesia.

Seorang emak-emak kemudian dihadang oleh ratusan bahkan ribuan massa yang kebanyakan adalah laki-laki. Secara psikologis ini menunjukkan bahwa sisi kekerasan masih dikedepankan untuk menteror wanita yang kebetulan memiliki sisi pilihan politik yang berbeda.

Ribuan laki-laki kemudian menjadi ketakutan oleh seorang emak-emak yang paling kalaupun sempat melakukan orasi hanya mengandalkan retorika dan suara lembutnya yang sebenarnya kalah dari suara menggelegar laki-laki. Tapi entah kenapa orasi dari seorang Mak-Mak kemudian dilawan dengan pergelangan tangan dan kekuatan fisik.

Biasanya yang dilakukan massa penghadangan untuk menakuti-nakuti Sang Emak-Emak dan polisi adalah "jangan salahkan kami jika melakukan aksi anarkis jika tetap menghadiri acara deklarasi".

Hal ini menunjukkan tumpulnya kemampuan otak untuk berargumen secara cerdas untuk melawan retorika si Emak-Emak dengan retorika yang lebih canggih. Sehingga cara-cara ancaman psikologis, fisik dan konflik kekerasan ditebarkan.

Selepas Aksi 212 di Monas Jakarta, kemudian kubu yang lain juga membuat aksi balasan dengan melakukan acara senam pagi dan parade kebhinekaan. Tetapi biayanya mahal. Karena harus menyisir ke kampung-kampung untuk mencari massa dengan modal pemberian kaos, sembako dan amplop. Jika setiap kepala harus dimodali 300 ribu rupiah, maka jika harus menghadirkan 7 juta orang, maka mesti disiapkan uang 2,1 triliyun rupiah untuk mengadakan acara tandingan dengan menghadirkan massa yang sebanding.

Sementara massa 212 melakukan gerakan spontan dan secara suka rela hadir dengan membiayai kedatangan dirinya sendiri. Di beberapa rekaman kamera dan wawancara yang berhasil diliput oleh media, beberapa massa aksi tandingan merasa kecewa karena bayaran tidak sesuai dengan yang dijanjikan.

Untuk menghemat uang karena ketidakmampuan memobilisasi massa yang turun ke jalan karena tidak lahir dari hati dan kuatnya aspirasi maka pilihannya adalah melakukan penghadangan tokoh-tokoh nasional yang mau datang ke daerah persis di depan bandara.

Kehadiran 1.000 orang saja di bandara akan membuat polisi lebih memilih jalan tengah, yaitu memulangkan sang deklarator yang cuma 1-2 orang daripada harus mengamankan dan berhadapan dengan massa yang jumlahnya 1.000 orang.

Kalau misalnya setiap kepala massa yang melakukan penghadangan itu dikasih uang Rp500 ribu, maka biaya operasional lebih bisa dihemat yakni cuma menghabiskan dana 500 juta saja. Berbeda dengan solusi demokratis dengan membuat deklarasi tandingan. Jika massa #2019gantipresiden bisa menghadirkan 100 ribu orang dengan cara suka rela dan gratis, maka jika deklarasi #jokowi2periode juga ingin menghadirkan massa yang sama banyaknya dan setiap kepala harus disanggoni uang Rp300.000 maka harus disiapkan uang Rp30 miliar belum lagi ditambah dengan kehadiran artis ibu kota agar acara lebih meriah.

Kecenderungan kaum terdidik untuk mengalihkan hati kepada Prabowo-Sandi mulai tampak dari survei LSI beberapa waktu yang lalu dimana angka pemilih Prabowo Sandi dari kalangan intelektual dan terdidik lebih tinggi dibandingkan Jokowi Ma'ruf. Prabowo-Sandi mendapatkan angka 44,5% sedangkan Jokowi-Ma'ruf meraih 40,4%.

Kaum terdidik (S1 ke atas) Indonesia memang masih di angka 20%. Tetapi mereka bisa menggelembungkan suara karena masyarakat masih menjadikan mereka sebagai rujukan untuk memilih terutama sekali pada sarjana-sarjana yang mampu mengambil peran lebih pada masyarakat pedesaan.

Menurut saya, ada 2 kantong suara potensial yang akan lari dari kubu Jokowi-Amin apabila terus melakukan cara-cara fisik dan konflik dalam pertarungan Pilpres 2019, yaitu suara emak-emak yang tidak saja dizalimi dari segi kenaikan harga-harga barang di pasar tetapi juga bagian dari mereka telah mendapatkan teror-teror psikologis menjurus anarkis dan suara kaum terdidik yang lebih menyukai aksi-aksi simpatik dan diskursus retorika yang ciamik dibandingkan aksi-aksi penghadangan--main tangan dan main kekerasan.

Saya pikir kubu Jokowi harus lebih cerdas dalam melakukan kampanye simpatik untuk mengimbangi kekuatan #2019gantipresiden yang sebenarnya tak lebih dari acara pengajian ataupun orasi di atas panggung.

Banyak hal positif yang bisa dilakukan oleh kubu Jokowi daripada menyewa preman untuk melakukan penghadangan di bandara, seperti hiburan rakyat dengan menghadirkan artis ibukota yang Pro Jokowi, bazar sembako murah, dan aksi pengobatan gratis.

Jika cara-cara cerdas itu dipakai, maka masyarakat tidak hanya bisa tentram lepas dari ketakutan aksi-aksi premanisme tetapi juga terhidup, terbantu, lebih senang, dan senang riang gembira. (SSC)

BACA JUGA