Masa Pengiriman Film Surfival 2018 Diperpanjang hingga 30 Agustus- 2018

-

Kamis, 23/08/2018 11:52 WIB
-

-

Padang, sumbarsatu.com–Kompetisi film fiksi yang termasuk rangkaian agenda Sumbar Film Festival (Surfival) 2018 memasuki tenggat akhir pengiriman film pada tanggal 20 Agustus ini. Namun, dikarenakan banyaknya permintaan perpanjangan tenggat dari para film-maker, penyelenggara memutuskan memperpanjang batas pengiriman film sampai 30 Agustus 2018.

Hal itu dijelaskan oleh Kepala Bidang (Kabid) Ekonomi Kreatif, Dinas Pariwisata (Dispar) Sumatra Barat (Sumbar), Derliati, selaku penyelenggara Surfival 2018.

Katanya, banyak film-maker yang menghubungi dan meminta agar masa pengiriman film-film kompetisi diperpanjang.

“Batas pengiriman film peserta kompetisi diperpanjang karena banyaknya permintaan dari pegiat film yang ingin ikut dalam kompetisi ini. Mereka banyak yang menghubungi kami dan minta begitu. Katanya, film mereka hampir selesai. Hanya minta tambahan beberapa hari,” jelas Derliati Kamis, (23/8/2018).

Menurut Derliati, masa pengiriman film untuk kompetisi sebenarnya telah dibuka cukup panjang, terhitung sejak 9 Mei lalu. Namun begitu, waktu yang cukup lama tersebut ternyata masih belum cukup, terbukti dengan datangnya permintaan pengunduran waktu dari para film-maker.

“Sebenarnya penyelenggara sudah memberi waktu cukup panjang. Namun tetap tidak cukup. Akhirnya kita putuskan menambah sepuluh hari lagi, dan semoga itu waktu yang cukup. Dengan begitu, kita tidak menutup kesempatan bagi mereka yang sudah mengerjakan film untuk kompetisi ini,” jelas Derliati.

Berdasarkan keterangan yang dihimpun hingga saat ini penyelenggara Surfival 2018 sudah menerima puluhan film pelajar dan umum. Film-film tersebut merupakan karya dari para film-maker dari berbagai daerah di Sumbar. Dengan adanya penambahan waktu, besar kemungkinan film-film yang masuk akan bertambah secara signifikan.

Film Palarai Dandam

Awak media berkesempatan menyimak secara sekilas sejumlah film yang masuk ke ruang kerja penyelenggara. Tampak film-film yang masuk tersebut mengangkat narasi-narasi yang beragam. Salah-satu film yang masuk itu, yakni Palarai Dandam, besutan siswa-siswi salah-satu Sekolah Menengah Atas (SMA) di Bukittinggi.

Film Palarai Dandam mengangkat satu babakan kehidupan seorang anak laki-laki di salah-satu nagari di Sumbar. Tokoh ini diceritakan bernama Agung, yang menyimpan dendam terhadap sekelompok laki-laki seusianya, yang dulunya merupakan teman-temannya sendiri.

Konflik bermula dari rasa tidak senang yang timbul ulah permainan judi, hingga menimbulkan ketidaksenangan satu-sama lain. Konflik sampai pada puncaknnya ketika adik tokoh utama, menjadi korban dari perselisihan tersebut.

Agung, sang tokoh utama, kemudian menghabiskan hari-harinya untuk belajar silat tradisional Minangkabau. Tujuannya jelas, untuk membalas dendam. Berbulan-bulan lamanya ia belajar silat, hingga sampai pada taraf ‘matang’ dan memenangi kejuaraan silat di ibu kota provinsi.

Namun, pada titik inilah, pada titik kematangan seperti itu,  pemikiran si tokoh utama tentang dendam berubah. Singkat kata, penyelesaian konflik terjadi dengan jalan saling-maaf yang terjadi antara tokoh utama dengan orang-orang yang menjadi objek dendamnya.

Dalam  tegangan yang seperti itulah narasi berjalan, hingga menemukan titik akhir konflik dalam film Palarai Dandam. Sebuah ‘tuah’ amat bijak terselip dalam film ini, terkait bagaimana ‘silek’ membawa seseorang kepada perenungan yang jernih, dan kemudian mengantarkan ia sampai ke tingkat spritualitas yang tinggi. Apa yang kemudian tersisa adalah kelapangan hati yang mengagumkan, dendam hilang bagai asap.

Film ini cukup menarik dengan jalinan cerita yang realis, didukung ­shot-shot yang mengambil objek alam khas dataran tinggi Sumbar. Dengan kata lain, film ini bisa memanjakan mata dengan latar-latar ‘natural’ yang dimilikinya.

Nah, bagaimana dengan film-film lain? (SSC/Rel)

 

Laporan: Andesta Herli - Surfival

BACA JUGA