Diluncurkan Gubernur Sumbar, Silek Arts Festival Dimulai 7 September

PLATFORM INDONESIANA-PANJAPUIK PIUTANG LAMO

Selasa, 21/08/2018 19:33 WIB
Gubernur Sumatera Barat Irwan Prayitno memberikan keterangan kepada wartawan sekalgus meluncurkan Silek Arts Festival (SAF) 2018, Selasa (21/8/2018) di Aula Kantor Gubernur.

Gubernur Sumatera Barat Irwan Prayitno memberikan keterangan kepada wartawan sekalgus meluncurkan Silek Arts Festival (SAF) 2018, Selasa (21/8/2018) di Aula Kantor Gubernur.

Padang, sumbarsatu.com--Gubernur Sumatera Barat Irwan Prayitno meluncurkan Silek Arts Festival (SAF) 2018, Selasa (21/8/2018) di Aula Kantor Gubernur. SAF akan dibuka di Kota Padang pada 7 September dan ditutup 30 November 2018 di Bukittinggi.

Saat peluncuran. Gubernur didampingi Kepala Dinas Kebudayaan Sumbar Gemala Ranti, Kepala BPNB Sumbar Suarman, Kepala Balai Pelestarian Cagar Budaya, kurator untuk silek Indra Yudha, dan Kepala Biro Humas Pemprov Sumbar Jasman Rizal, dan pejabat lainnya.

"Silek Arts Festival 2018 yang digelar di Sumatera Barat merupakan suatu perayaan besar seni bela diri tradisional dari ranah Minangkabau. Kata "silek" digunakan untuk memberi penekanan pada aspek bela diri, maka dalam bahasa Minangkabau dikenal pula kata mancak atau bungo silek yang memberi penekanan pada aspek seni dan keindahan," kata Irwan Prayitno di depan awak media.

SAF 2018 mulai digelar pada 7 September hingga 30 November 2018 di Kota Padang, Padang Pariaman, Padang Panjang, Solok, Sawah Lunto, Tanah Datar, Paya Kumbuh, dan ditutup di Bukittinggi mengangkat tema "Panjapuik Piutang Lamo".

"Sebagai salah satu warisan budaya kebanggaan masyarakat Minangkabau, silek telah menjadi sumber inspirasi perkembangan berbagai genre seni kontemporer. Hal ini tampak pada seni pertunjukan yang berbasis silek, seperti randai. Malah, seni pertunjukan kontemporer karya seniman dari Minangkabau hari ini banyak terinspirasi dari silek," ujar orang nomor satu di Sumbar yang akrab disapa IP ini.

“Silek Art Festival merupakan sebuah kegiatan untuk memperkenalkan dan mengangkat kekayaan budaya di Minangkabau ke tingkat nasional dan juga internasional,” tambahya.

Menurutnya, peristiwa budaya SAF melibatkan para seniman tradisi, pada tuo silek, perguruan silek tradisi, dan dari berbagai galanggang silek.

"Dalam "Platform Indonesiana", pemerintah hanya fasilitator semata proses kegiatan diserahkan ke masyarakat," kata IP.

Gemala Ranti mengatakan, SAF 2018 akan dibuka di Kota Padang pada 7 September 2018 dan diakhiri pada 30 November 2018 di Kota Bukittinggi.
"Sepanjang jadwal itu pula, SAF dilaksanakan di pelbagai lokasi berupa sasaran, galanggang tradisional, hingga gedung pertunjukan modern. Inti dari SAF ialah penampilan silek tradisional Minangkabau dengan beragam khas dan aliran," kata Gemala Ranti.

Sementara itu, kurator silek Indra Yudha menjelaskan proses pemilihan peserta SAF 2018 ini diawali dengan melihat kekhasan masing-masing silek yang berkembang di tengah masyarakat Minangkabau, terutama di nagari-nagari.

"Jadi sepanjang pergelaran SAF 2018 ini, kurator tidak memberikan kesan adanya puncak-puncak dari rangkaian kegiatan SAF karena semuanya memiliki khas dan kekuatan masing-masing," kata Doktor Seni Tari dari UNP ini.

"Rangkaian SAF bukan semata penampilan silek, tapi lebih jauh dari itu juga akan menyelenggarakan diikuti dengan seminar, pemutaran film, talkshow, yang membahas dan memperlihatkan seputar silek di Minangkabau," tambah Suarman.

Disebutkan Gemala Ranti, kegiatan serupa juga akan berlanjut hingga dua tahun mendatang. Namun untuk tahun mendatang, nama festival budayanya akan mengalami perubahan, sesuai dengan arahan Kemendikbud.

Silek Arts Festival 2018 berangkat dari penggalian atas Silek sebagai suatu fenomena khas etnik Minangkabau. Kegiatan ini dimeriahkan oleh penampilan parade seni serta pertunjukan teater, tari, dan musik kontemporer.

Festival ini akan disandingkan dengan seni pertunjukan dari daerah atau negara lain yang memiliki semangat sama, yakni eksplorasi atas tradisi seni bela diri (martial arts).

Parade seni tersebut akan dilengkapi dengan materi showcase dan lokakarya, sebagai upaya mendorong para pelaku seni pertunjukan yang tergolong muda agar terus menggali budaya silek, serta menjadikannya bahan untuk menciptakan seni pertunjukan yang kontemporer.

SAF merupakan salah satu platform "Indonesiana" sebagau pendukung kegiatan seni budaya di Indonesia yang bertujuan untuk membantu tata kelola kegiatan seni budaya yang berkelanjutan, berjejaring, dan berkembang.

Indonesiana diinisiasi oleh Direktorat Jenderal Kebudayaan - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. "Indonesiana" dikerjakan dengan semangat gotong royong dan dengan melibatkan semua pihak yang memiliki kepedulian dan kepentingan atas pemajuan kebudayaan di Indonesia.

Pada tahun pertamanya, "Indonesiana" akan melakukan pendukungan untuk 9 festival seni budaya yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia dengan melibatkan pemerintah daerah, komunitas, pusat kebudayaan/kedutaan asing serta swasta dalam berbagai bentuk kolaborasi.

Dengan disahkannya UU No. 5 tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan muncul kebutuhan untuk menangani kegiatan budaya secara lebih sistematis.

"Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan merancang sebuah inisiatif baru, yaitu kegiatan pengembangan platform "Indonesiana", sebuah struktur hubungan terpola antarpenyelenggara kegiatan budaya di Indonesia yang dibangun secara gotong-royong," kata Hilmar Farid, Dirjen Kebudayaan Kemendikbud saat meluncurkan "Indonesiana" beberapa waktu lalu.

Provinsi Sumatera Barat merupakan salah satu dari 9 provinsi yang masuk dalam program "Platform Indonesiana". Dalam peluncuran itu tampak hadir para kurator SAF, antara lain Sudarmoko, Iswandi, dan Ery Mefri, serta kepala-kepala dinas terkait dari kota-kabupaten yang masuk dalam penyelenggaraan SAF 2018. (SSC/MN)

 

BACA JUGA