Pementasan "Perempuan Terakhir" Sukses Tapi Perlu Sentuhan Khusus

OKTOBER DIPENTASKAN DI SINGAPURA

Selasa, 21/08/2018 05:36 WIB
Pertunjukan tari kontemporer

Pertunjukan tari kontemporer "Perempuan Terakhir" karya koreografer Joni Andra yang dipentaskan di Laga-Laga Gedung Pertunjukan Dinas Kebudayaan Sumbar, Senin malam (20/8/2018)

Padang, sumbarsatu.com--Pertunjukan tari kontemporer "Perempuan Terakhir" karya koreografer Joni Andra yang dipentaskan di Laga-Laga Gedung Pertunjukan Dinas Kebudayaan Sumbar, Senin malam (20/8/2018) berjalan sukses. Ratusan penikmat seni memenuhi laga-laga yang berada di lantai lima gedung megah itu. Kendati sukses tapi perlu sentuhan khusus karena 13 Oktober nanti akan dipanggungkan di Singapura. 

Koreografi yang telah digarap Joni Andra bersama Impessa Dance Company sejak 2016 ini, mengisahkan seorang perempuan Minangkabau dalam sebuah kaum (keluarga) yang didominasi kaum lelaki. Perempuan ini (seorang bundo) yang tak memiliki anak perempuan.

Dalam sistem matrilineal Minangkabau, pelanjut pewaris rumah asal (kaum) ialah perempuan (padusi), bukan kaum lelaki. Sistem begini telah berlangsung beratus tahun lalu yang masih terus bertahan hingga kini dengan legasi kepada kaum perempuan. Sistem matrilineal yang dianut Minangkabau terasa mengagungkan limpapeh rumah gadang ini.

Tapi, problem muncul ketika dalam kaum (keluarga) itu tak ada keturunan perempuan. Sementara sang ibu (bundo), juga satu-satunya perempuan dalam keluarga juga tak memiliki saudara perempuan. Anak-anak juga semua lelaki.

Artinya, dalam kehidupan sistem matrilineal Minangkabau, keluarga ini terancam musnah. Tak ada legasi. Tak ada pewaris dan pelanjut masa depan kaum ini. Kaum itu berhenti dalam kultur Minangkabau.

Kendati begitu, sang ibu dalam “Perempuan Terakhir" dengan sekuat tenaga ia berhasil menyenergikan kekuatan dalam dirinya. Menyatukan dan menyelesaikan konflik dalam keluarga, termasuk perkara pembagian harta, yang sudah diantisipasinya jika kelak ia sudah tak ada lagi. Juga keinginannya menunaikan ibadah haji.

Ibu (yang dimainkan Nurima Sari), berhasil mengkomposisikan peran ini. Dalam gerak-garik dengan penguasaan ruang dan tubuh, Nurima Sari, bisa membuka kemungkinan-kemungkinan tatsir teks pertunjukan di atas panggung. Empat pemain lainnya ialah Afrinalis, Jas Ungkal Nadi, Tan Welby Janitra dan Rinto Yugo.

Problem sosial dan budaya inilah yang diangkat koreografer Joni Andra dalam "Perempuan Terakhir" yang dimainkan lima penari di panggung yang cukup luas sehingga terkesan menelan para penari malam itu.

Sementara musik yang genap memperkuat nuansa dan konstruksi teks tari dengan komposer Hasan Nawi dengan kekentalan musik tradisi Minangkabau, terasa memberi "ruh" setiap suara yang dimunculkan. Musik yang dihasilkan memaknai gerak dan lompatan dalam silek Minangkabau, serta simbol-simbol yang dibangun di pentas.

"Pertunjukan 'Perempuan Terakhir' ini layak diapresiasi positif. Paling tidak, gagasannya tentang lenyapnya warisan sebuah kaum atau keluarga karena tak ada perempuan, sangat menarik jika dikaitkan dengan problem kultural Minangkabau. Lima penari cukup bagus menuangkannya dalam gerak dan komposisi ruang. Koreografer saya lihat membayar kerja kerasnya di atas panggung," kata Hermawan, pengajar dan peneliti sastra ini, Senin (20/8/2018) usai pementasan.

Tari "Perempuan Terakhir" yang ditampilkan di Laga-Laga Gedung Pusat Kebudayaan Sumatera Barat merupakan pertunjukan seni yang pertama kali digelar sejak diresmikan Jumat, 19 Januari 2018 dengan helat yang disebut “Maningkek Janjang” semasa Taufik Effendi Kepala Dinas Kebudayaan Sumbar.

Gedung Laga-Laga yang terletak di Lantai Lima itu yang berukuran cukup luas dikesankan seperti galanggang medan nan bapaneh yang terbuka. Untuk konsep garapan pertunjukan seni yang diproyeksikan dipentaskan dalam gedung prosenium, seperti "Perempuan Terakhir" ini tentu memiliki konsekuensi terhadap kualitas dan capaian artistiknya, ketika dihadirkan di pentas seperti di Laga-Laga Gedung Kebudayaan Sumbar itu.

Jika rencana "Perempuan Terakhir" dipentaskan di Gedung Malay Haritage Centre Singapura pada 13 Oktober yang akan datang, tentu diharapkan tak sama persis dengan yang hadir Senin malam itu, yang miskin tata cahaya dan konstruksi pertunjukan serta yang sebenarnya gedung itu tak layak dari segi fasilitas untuk pementasan seni kontemporer.

"Jika mau dijadikan tempat pementasan seni pertunjukan, Laga-Laga Gedung Kebudayaan itu harus memenuhi standar minimal sebuah panggung seni. Kasihan juga, karya bagus tapi tata panggung dan cahayanya sangat minim. Pengelola harus mempertimbangkan hal-hal elementer panggung. Kan malam itu Pak Gubernur dan Ibu Kadis Kebudayaan menonton, mungkin beliau beliau ini menyadari itu kekurangan fasilitas tersebut," kata Hermawan lagi.

Sementara itu, Gusfen Khairul, salah seorang penikmat seni dan juga wartawan senior, menilai, tema yang diangkat "Perempuan Terakhir" cukup bagus dan aktual tetapi secara umum tampilan, terutama penari, harus diberi sentuhan serius karena belum terlihat kekuatan pada langkah-langkah silatnya.

"Penari perlu sentuhan khusus untuk silek tradisi Minangkabau. Tampak kudo-kudo belum mantap. Terkhusus untuk perempuan, harus banyak melakukan proses dan diskusi yang intensif dengan koreografernya. Malam tadi (Senin) karakternya belum begitu mengesankan," kata Gusfen Khairul.

Pada aspek penonton, malam itu "Perempuan Terakhir" berhasil menghimpun ratusan penonton seni Kota Padang. Dalam bunyi deburan ombak, mereka menikmati sajian seni tari kontemporer sembari menatap Kota Padang dari ketinggian.

Terlihat hadir dalam kerumunan penonton para budayawan, seniman, pelaku seni, aktivis seni dari beragam komunitas, antara lain Gusfen Khairul (wartawan senior), Asril Koto (penyair), Yeyen Kiram (aktivis budaya), Zalmasri (aktivis budaya dan pengajar UNP), Syuhendri dari Teater Noktah Padang, Armeynd Sufhasril (aktor teater), Rizal Tanjung (teater), Aprimas (perupa), M Ibrahim Ilyas (dramawan), dan lainnya.

Iven budaya ini dibuka Gubernur Sumatera Barat Irwan Prayitno. Sebelum dibuka, Gemala Ranti, Kepala Dinas Kebudayaan Sumbar dan Ery Mefri juga memberi sambutan. Kegiatan ini salah satu program Komunitas Galombang Minangkabau.

"Tentu, perlu evaluasi dan revisi yang serius jika "Perempuan Terakhir" mau dipentaskan di Singapura. Harus ada penajaman bangunan dari semua konstruksi teks pertunjukan. Masih ada waktu. Juga harus dipikirkan sisi artisitik dan estetisnya," tambah Hermawan yang disetujui Gusfen Khairul. (SSC)

BACA JUGA