Silek Art Festival 2018 Perkuat Manajemen Festival

RANGKAIAN “INDONESIANA”

Senin, 06/08/2018 13:23 WIB
--

--

Bukittinggi, sumbarsatu.com—Dinas kebudayaan Provinsi Sumatera Barat telah selesai menggelar lokakarya “Penguatan Kapasitas Penyelenggaraan Festival dalam Platform Indonesiana” sejak Jumat-Minggu (3-5/8/2018) di Kota Bukittinggi. 

Lokakarya ini Silek Art Festival (SAF) 2018 merupakan salah satu rangkaian program platform “Indonesiana” di Sumatera Barat yang diiniasiasi Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan Kebudayaan yang dibuka Melvi Abrar, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Bukittinggi, Sabtu (3/8/2018).  

Kegiatan yang  diikuti 20 peserta dari pelaku seni, komunitas lokal dan panitia Silek Arts Festival 2018 bertujuan penguatan kapasitas, manajemen kurasi, dan penyelenggaraan festival.

“Kegiatan lokakarya berlangsung dinamis. Seluruh peserta mengikuti dengan antusias sampai waktu rehat beberapa kali tertunda karena asyiknya,” kata Viveri Yudi, Kasi Diplomasi Budaya, Dinas Kebudayaan Provinsi Sumatera Barat, Senin (6/8/2018).

Viveri Yudi, yang juga bertindak sebagai penanggung jawab kegiatan menyebutkan, Silek Art Festival 2018 lolos sebagai salah satu festival “Indonesiana” dari 9 festival yang lolos tahun ini.

“Program ini menonjolkan bahwa silek benar-benar khasanah budaya Minang,” sebutnya.

Viveri Yudi mengharapkan dari lokakarya ini peserta mampu menguatkan kapasitas dam kualitas tata kelola kegiatan kebudayaan di daerah ini.

“Mereka adalah bagian ekosistem kebudayaan, yang akan bermitra dan bersinergi dengan pemerintah dalam melaksanakan kegiatan-kegiatan kebudayaan. Pemerintah lebih berperan sebagai fasilitator dan koordinator dalam kegiatan tersebut,” jelas yang akrab disapa Mak Kari ini.

Narasumber lokakarya tokoh yang berpengalaman di dalam kegiatan festival budaya di Tanah Air antara lai Ratna Riantiarno (aktris, manajer seni pentas, aktivis teater Indonesia), Leni Lolang (produser film), Bambang Paningron (penggagas sekaligus pelaksana Jogja Arts Festval), dan Dede Pramayoza (pekerja seni dan budaya dari ISI Padang Panjang dengan materi pengetahuan kurasi. (SSC/Rel)

BACA JUGA