"The Margin of Our Land #2 Reklamasi" Mewarnai PostFest 2018

SARDONO: ADA HAL BARU YANG SAYA PEROLEH

Sabtu, 04/08/2018 07:01 WIB
Penampilan tari-teater The Margin of Our Land #2Reklamasi dalam rangkain Festival PostFest 2018 Sekolah Pascasarjana, Jumat, 3 Agustus 2018,  di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki (TIM). Foto Deny Cidaik

Penampilan tari-teater The Margin of Our Land #2Reklamasi dalam rangkain Festival PostFest 2018 Sekolah Pascasarjana, Jumat, 3 Agustus 2018, di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki (TIM). Foto Deny Cidaik

Jakarta, sumbarsatu.com--Tubuh-tubuh berkelebat seiring bunyi dentuman pemasangan tiang pancang. Gerak 8 batang tubuh sebagai respons suasana yang dikonstruksi hadirnya proyek raksasa pembangunan reklamasi.

Lampu menyorot ke arah penonton semakin menghidupkan 8 tubuh itu
dengan komposisi gerak yang berbicara. Sorotan lampu ke arah mata
penonton memang tak lazim dalam pertunjukan seni tapi malam itu
merupakan keniscayaan. Dari sini, dari gerak pembuka ini saja, penonton telah memahami apa pesan humanis yang disampaikan.

Dari gerak dan garik yang dibangun, ada tiga hal penting kesan yang mau disampaikan dari atas panggung itu: korban (masyarakat), investor (pemilik modal), dan regulasi (negara). Tiga ini terkait dengan dampak sebuah pembangunan reklamasi.

Malam itu, Jumat, 3 Agustus 2018, panggung Teater Kecil Taman Ismail Marzuki (TIM), menghadirkan tari-teater The Margin of Our Land
#2Reklamasi dalam rangkain Festival PostFest 2018 Sekolah Pascasarjana Institut Kesenian Jakarta, yang dimulai sejak 21 Juli dan ditutup 5 Agustus 2018.

Hadirnya The Margin of Our Land #2Reklamasi, malam itu tak dinyana
warga Jakarta akan disuguhkan soal reklamasi, yang perkaranya sempat membuat buncah ibu kota ini, karya itu seakan ingin mengatakan, seniman di daerah lebih sensitif ketimbang rekannya di Jakarta, terkait mengemas isu-isu garapan yang menyangkut kehidupan publik.

Tapi itu soal lain. Yang pasti penampilan The Margin of Our Land
#2Reklamasi ikut mewarnai kehadiran iven dan peristiwa kebudayaan
Festival PostFest 2018 Sekolah Pascasarjana IKJ, yang sudah dua kali
digelar.

Selain The Margin of Our Land #2Reklamasi, juga dipentaskan tari-musik Ateh Api, Bawah Api karta Mation. Keduanya dari ISI Padang Panjang.

"Saya mendapat hal baru dari penampilan dari ISI Padang Panjang yang baru usai saya nikmati ini. Pertama konsep 'koreodramaturgi' yang dilontarkan Sahrul N. Ini menarik dan layak untuk kita bincangkan lebih dalam. Selain itu, musik elektro akustik yang terintegrasi dengan tari-teater (The Margin of Our Land-red). Musiknya membuat saya harus memberi tafsir baru. Untuk Ateh Api, Bawah Api, saya sangat menikmati aroma rempah-rempah bahan utama untuk memasak dalam tradisi Minang, seperti randang dan lainnya. Untuk itu, kehadiran ISI Padang Panjang dalam Festival PostFest 2018 Sekolah Pascasarjana IKJ cukup penting," kata Prof. Sardono W. Kusumo, Direktur Festival PostFest, yang juga seorang koreografer kontemporer yang berpengaruh di Indonesia, Jumat (3/8/2018).

Foto Denny Cidaik

Riki Dhamparan Putra, sastrawan, penyair dan pemerhati budaya, usai
pertunjukan mengaku, pertunjukan dari ISI Padang Panjang ini di luar
ekspektasinya.

"Saya mengira pertunjukan seni yang akan ditampilkan didominasi tari
tradisi berupa randai Minang tapi ini di luar apa yang saya bayangkan. Saya kira, pusat-pusat kesenian di Jakarta perlu mengapresiasi The Margin of Our Land ini," kata Riki, yang kini tinggal di Jakarta.

Hal yang hampir senada juga dikatakan Eva Yenita Syam, salah seorang peneliti di Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

"Penampilan The Margin of Our Land ini tidak semata soal capaian
kolaborasi antarseni, tapi lebih jauh dari itu, yaitu soal "teks"
pemanggungan yang saya kira sukses digarap. Kendati perlu dibenahi dan dipertajam beberapa adegan," kata Eva yang juga pemain teater ini.

Penampilan "The Margin of Our Land #2Reklamasi" karya kolaborasi 5
kreator ini ISI Padang Panjang, yakni Ali Sukri (untuk koreografi), Kurniasih Zaitun (teater), Sahrul N (dramaturg), Elizar Koto (komposer) dan Indra Arifin (musik), Yusril Katil (skenografi), serta teks puisi Esha Tegar Putra (penyair), serta penari dan aktor: Feri Rizaldi, Mahmud Junanda, Egi Oktriadi, Erwin Mardiansyah, Rahma Nora, Deni Saputra, Erick Nofriwandi, Yogi Afria M Yusuf. Sedangkan lampu ditata Budi Kuarniawan dan Ari Wiria Saputra. Untuk dokumentasi: Topan Dewa Gugat, Denny Cidaik, dan desain publikasi Ari Leo serta Gusrizal menangani bagian umum.

Karya ini merupakan yang kedua dari trilogi "The Margin of Our Land".
Yang pertama bicara tanah ulayat, kedua reklamasi, dan ketiga tanah
terluar.

Sebelumnya, tari-teater "The Margin of Our Land" #1Tanah Ulayat, sukses digelar di tiga kota (Pekanbaru, Padang Panjang, dan Padang). Setelah pementasan di TIM Jakarta, karya kedua dari trilogi ini akan
dipanggungkan di ISI Padang Panjang.

Trilogi tari-teater “The Margin of Our Land” merupakan hasil dari
penelitian, penciptaan, dan penyajian seni ini merupakan perwujudan
program dana hibah Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi tahun 2018.

Di antara ratusan penonton yang hadir sebagai saksi peristiwa budaya ini, terlihat hadir antara lain Yola Yulfianti dari IKJ, David Krisna Alka (peneliti dari Ma'rif Institut), Evi Widya Putri (aktivis seni dan budaya), Salepi (jurnalis gaya hidup Kompas) dan lainnya. (SSC)

BACA JUGA