Start-Up dan Wakaf

==

Kamis, 02/08/2018 15:15 WIB
--

--

OLEH Musfi Yendra (Founder Daya Mart)

Semangat wirausaha pada generasi Indonesia sedang tumbuh dengan baik. Seiring dengan sempitnya lapangan pekerjaan di instansi formal, baik pemerintah maupun swasta. Berbagai kampus mendorong lulusannya untuk jadi pengusaha, dibanding PNS. Sehingga kuliah kewirausahaan juga dilakukan sebagai kuliah umum atau wajib.

Virus wirausaha juga mulai masuk ke sekolah-sekolah. Mengenalkan bisnis sejak dini. Beberapa bulan lalu kami pengurus Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) se-nasional bersama Presiden Joko Widodo telah meluncurkan gerakan HIPMI Go to School.

Mengenalkan wirusaha ke siswa-siswi. Bahkan di beberapa sekolah di kota besar juga sudah membuat program hari wirausaha. Sehari dalam sebulan, anak-anak berjualan dengan sesama temannya di sekolah.

Jumlah pengusaha di Indonesia masih sangat minim. Data yang dihimpun dari HIPMI menunjukan bahwa Indonesia baru memiliki sekitar 1,6 persen pelaku wirausaha dari total jumlah penduduk 250 juta jiwa. Artinya hanya 4,6 juta orang yang terjun ke dunia usaha.

Dibanding negara tetangga rasio pengusaha kita masih jauh tertinggal. Singapura misalnya, telah mencapai 7 persen, Malaysia 5 persen, dan Thailand 4 persen.

Idealnya butuh empat persen dari jumlah penduduk yang berwirausaha. Kalau empat persen berarti sekitar 10,6 juta jiwa dari populasi penduduk kita sekarang. Ke depan pelaku usaha harus menjadi salah satu basis penyumbang pertumbuhan ekonomi terbesar di Indonesia.

Jika jumlah pengusaha masih sedikit, maka kemampuan kita berproduksi juga kecil. Sehingga Indonesia menjadi negara tingkat konsumsi yang tinggi. Sekarang apa saja barang kita harus impor dari negara lain. Sementara di bangsa kita cukup bahan bakunya.

Geliat wirausaha belakangan ini bisa kita lihat dari banyaknya komunitas start-up (pengusaha pemula). Berbagai inovasi bisnis mulai muncul. Seiring juga dengan perkembangan teknologi digital.

Dalam hal pemasaran, pergeseran bisnis terjadi dari during (offline) ke daring (online). Toko beralih dari ruko ke smartphone. Tak butuh biaya mahal menyewa tempat, cukup modal paket data saja. Dampaknya bisnis pengiriman barang juga mengalami pertumbuhan.

Terkait permodalan untuk start-up sekarang juga banyak pihak mau membiayai. Karena namanya pemula, biasa bank membatasi pemberian modal. Sebab usahanya belum terbukti berjalan. Namun permodalan bisa diakses melalui cara crowd-funding.

Crowdfunding ialah salah satu alternatif untuk mendapatkan modal yang memungkinkan puluhan bahkan ratusan orang patungan mewujudkan suatu proyek komersial maupun penggalangan dana untuk kepentingan sosial.

Termasuk juga permodalan dari tanggung jawab sosial perusahaan untuk publik berupa CSR. Untuk bisa mengakses peluang ini tinggal bana pengusaha pemula menyiapkan rencana bisnis yang baik.

Selain crowdfunding menurut saya ada sumber permodalan usaha yang lebih dahsyat, yaitu wakaf. Namun selama ini belum dijadikan sebagai kekuatan ekonomi, terutama umat Islam.

Wakaf adalah sedekah jariyah, yakni menyedekahkan harta kita untuk kepentingan ummat. Harta Wakaf tidak boleh berkurang nilainya, tidak boleh dijual dan tidak boleh diwariskan.

Ke depan pengelolaan wakaf yang profesional bisa menjadi salah satu modal usaha bagi generasi muda yang ingin memulai usahanya. sebagai lembaga wakaf saat ini Dompet Dhuafa juga mulai menggagas beberapa program ekonomi dengan permodalannya dari wakaf. (*)

BACA JUGA