Selamat Jalan Bapak Januar Muin

IN MEMORIAM

Senin, 30/07/2018 22:51 WIB
Januar Muin bersama istri (Foto HC)

Januar Muin bersama istri (Foto HC)

OLEH Hasril Chaniago (Wartawan dan Editor Senior)

Dalam tiga pekan terakhir, Ranah Minang ditinggal tiga putra terbaiknya. Pertama, Jumat 6 Juni 2018 Brigjen Purn. Dr. Saafroedin Bahar meninggalkan kita. Hari Sabtu 27 Juli 2018, Prof. Dr. Marlis Rahman, M.Sc. yang dipanggil Allah Swt. Hari Senin (30/7/2018) Ir. H. Januar Muin meninggal dunia di RSPAD Gatot Subroto Jakarta.

Mungkin banyak generasi muda Minang tidak mengenal Pak Januar Muin. Beliau adalah tokoh asal Sumatera Barat yang banyak jasanya bagi Ranah Minang.

Lahir di Sumanik, Tanah Datar, 9 Juni 1936, beliau adalah alumni SMA 2 Birugo Bukittinggi dan ITB Bandung yang berkarir di PLN.

Ir. Januar Muin adalah sosok di balik pembangunan sejumlah pembangkit listrik di Sumatera Barat. Antara lain PLTA Batang Agam (1977), PLTA Maninjau (1984), PLTU Pauh Limo, dan lain-lain. PLTA Singkarak, PLTA Koto Panjang dan PLTU Ombilin dirancang sejak Ir. Januar Muin menjabat Kepala PLN Pikitring Sumbar-Riau.

Beliau bukan hanya teknokrat dan tokoh pembangunan Sumatera Barat, tapi lebih dari itu. Beberapa kali dicalonkan sebagai Gubernur Sumbar, Pak Januar empat periode menjadi anggota MPR Utusan Daerah Sumatera Barat, yaitu periode 1982 sampai tahun 2004.

Beliau adalah tokoh yang merakyat dan rendah hati. Saya punya pengalaman pribadi yang takkan pernah terlupakan dengan Pak Jan. Tahun 1984, sebelum peresmian PLTA Maninjau saya ikut meliputi kunjungan Mendikbud Fuad Hasan yang dijamu makan siang di Power House PLTA Maninjau.
Pak Yan malalui PLN Pikitring di Bukittinggi menfasilitasi sejumlah wartawan meliput kunjungan Mendikbud tersebut dengan menyediakan bus.

Tapi saya bersama senior Nursjirwan Damhoeri memilih berangkat ke Maninjau naik sepeda motor.

Tiba di power house PLTA Maninjau, hari hujan lebat. Sampai akhirnya acara resmi, saya terkurung di tempat acara tersebut. Sampai malam hari saya tak bisa ke Bukittinggi karena hujan makin lebat.

Sekitar pukul 8 malam, Pak Jan melalui Orari mengontak petugas Power House PLN di Lubuak Sao, dan menanyakan apakah dua wartawan tadi masih di sana.

Dijawab petugas masih terkurung hujan, Pak Jan minta bicara dengan saya.
"Tu lah angku Chaniago, tangka disuruak oto angku naiak motor. Tunggulah di sinan, ambo kirim sopir manjapuik," kata beliau.

Sekitar setengah jam kemudian, sudah sampai sebuah mobil pikap menjemput saya dan Uda Nursjirwan. Kami pulang naik pikap duduk di depan, sepeda motor ditaruh di belakang.

Demikian Pak Jan orangnya, sangat peduli termasuk kepada wartawan kalene ini yang waktu itu baru berusia 22 tahun.

Setelah beliau pindah ke Jakarta dan menjadi Direktur Utama PT UNINDO (BUMA+PMA) dan anggota MPR saya masih sering bertemu Pak Jan.
Malah sering diajak dan dijamu makan. Termasuk ke rumah beliau di Cipeta dengan menu sambalado tulang khas Sumaniak masakan Bu Ros, istri beliau.

Beliau memang orang hebat tapi tetap rendah hati. Demikian pula istri beliau. Selamat jalan Pak Jan. Kami doakan husnul khatimah.

Foto Hasril Chaniago.

BACA JUGA