Hari Ini Diskusi tentang Media Massa dan Pertarungan Identitas di Minangkabau

-

Sabtu, 21/07/2018 07:32 WIB
Wannofri Samry dan Yudhi Andoni

Wannofri Samry dan Yudhi Andoni

Padang, sumbarsatu.com—Hari ini, Sabtu (21/7/2018), sejak pagi hingga sore, para pengamat, peneliti, praktisi dan pelaku pers, serta budayawan menyatu dalam diskusi kelompok terpumpun yang digelar di Hayam Wuruk Hotel Padang. Tema diskusi yang dibincangkan ialah “Media Massa dan Pertarungan Identitas Minangkabau: Etnisitas Versus Keindonesiaan dan Global” dengan pemantik Zul Effendi (Pemimpin Redaksi Harian Haluan)  dan A. R. Rizal (Redaktur Budaya) di Harian Singgalang.

Dr Wannofri Samry, M. Hum, ketua peneliti dan pelaksana diskusi kelompok terpumpun ini mengatakan, ada beberapa aspek yang akan dibincangkan mendalam peserta diskusi, antara lain peran media massa dalam membingkai berita terhadap peristiwa di Minangkabau dan pertarungan identitas keindonesiaan dan global,

“Kita akan mencoba membahas dan menganalisis posisi dan peran media massa di Sumatera Barat dalam membungkus berita terhadap peristiwa di Minangkabau dan korelasinya dengan sosial-kulturalnya. Kita bentangkan tema ini dan sekaligus melihat bagaimana pandangan para pelaku pers terhadap soal ini,” kata Wannofri Samry, pengajar Ilmu Sejarah di FIB Unand yang menaruh perhatian pada sejarah pers di Sumatera ini kepada sumbarsatu, Sabtu (21/7/2018) di Padang.

Selain itu, diskusi kelompok terpumpun ini, jelasnya, juga akan mengurai proses pertarungan identitas etnik dan kebangsaan Indonesia (keindonesiaan) dan pengaruh global di Minangkabau di tengah semakin meningkatnya teknologi dan pengaruh  media.

Lebih jauh dikatakannya, penelitian yang dilakukan bersama dengan Yudhi Andoni, S.S, M.A, yang juga sejarahwan di FIB Unand, menggunakan pendekatan strukturasi, yaitu melihat agensi perubahan dan analisis perilaku strategis serta analisis framing kandungan media. 

“Untuk melihat perubahan peneliti mengajukan perspektif historis, yaitu menganalisis masalah masa kini dengan memperhatikan perubahan-perubahan sosial-budaya pada periode komtemporer. Sumber-sumber kajian ini berasal dari arsip, dokumen, artikel-artikel media, riset lapangan dan oral history,” urainya.

Yudhi Andoni menambahkan, diskusi kelompok terpumpun diharapkan bisa melihat peranan media massa dalam perkembangan masyarakat Indonesia sebagai bahagian dari poses identitas.

“Media massa sebagai pilar keempat dalam demokrasi sebenarnya sekaligus juga satu faktor penting dalam pembentukan identitas. Media massa selalu menyampaikan berita, mendiskusikan bahkan mereproduksi kembali  gagasan-gagasan,” ucap Yudhi.

Selain itu, akan diurai lebih  jauh permasalahan pertarungan identitas yang selalu menjadi perbincangan penting di dalam media massa. Ini isu penting dalam media massa, baik cetak maupun elektronik, daring bahkan di media sosial.

“Sebelum adanya Indonesia, identitas etnik sudah ada. Mereka hidup dalam sistem yang sudah mengakar. Di Sumatera identitas etnik itu sering dirumuskan antara pembauran adat dan Islam. Ini berlaku di seluruh dunia Melayu,” jelasnya.

Pertumbuhan nasionalisme sejak awal abad ke-20 sedikit demi sedikit meleburkan identitas lokal ke nasional, rasa kesukuan dirumuskan sebagai bahagian dari keberagaman nasional. “Kekuatan-kekuatan lokal bersatu menjadi satu kekuatan nasionalisme Indonesia. Nasionalisme Indonesia itu pun semakin membesar bahkan kadang dirasakan mematikan kekayaan lokal, menghimpit identitas lokal,” tambah Wannofri yang juga seorang penyair ini.

Menurutnya, identitas lokal itu kembali diperbincangkan dalam banyak forum dan disalurkan di beberapa media massa. Etnik terasa terpinggirkan. “Perasaan-perasaan terpingirkan ini tentu bermula dari sikap nasional pemerintah pusat dan ketidakmerataan pembangunan,” ucapnya.

Yudhi menyebutkan, kelompok diskusi terpumpun ini diikuti 20 peserta dengan latar belakang yang berbeda, antara lain John Nedy Kambang (Ketua IJTI Sumbar), Andri Alfaruqi (Ketua AJI Padang), Eko Yanche Edrie (wartawan senior dari PWI), Julia F Agusta (Leon Agusta Institut), Firdaus Abie (Harian Rakyat Sumbar), Isra Iskandar (FIB Unand) dan lain sebagainya. (SSC)

BACA JUGA