Yasraf: ISI Padang Panjang Harus Jadi Magnet Estetik

SEMINAR ESTETIKA #4

Kamis, 19/07/2018 14:01 WIB
Yasraf Amir Piliang saat memaparkan materi dalam Seminar Estetika #4 di ISI Padang Panjang, Rabu (19/7/2018)

Yasraf Amir Piliang saat memaparkan materi dalam Seminar Estetika #4 di ISI Padang Panjang, Rabu (19/7/2018)

Padang Panjang, sumbarsatu.com--Perkemabngan ISI Padang Panjang dari waktu ke waktu terus mendapat apresiasi dari berbagai pihak, termasuk para para pakar seperti  Prof Yasraf Amir Piliang. Pakar semiotika yang terkenal dengan telaah-telaah postmodern dan hypersemiotika-nya ini melihat perkembangan ISI Padangpanjang sudah semakin baik hari ini.

Ditemui usai memberikan materi pada Seminar Estetik #4 di ISI Padang Panjang, Rabu (19/7/2018), pertama yang dnilainya ialah soal perkembangan bangunan fisik kampus ISI Padang Panjang.

“Jelas ada sentuhan kebaruan di sini. Tetap ada yang tampak sebagai hasil pembangunan yang sudah dilaksanakan,” kata Guru Besar Institut Teknologi Bandung (ITB) tersebut .

Kedua terkait dengan pendidikan, bagi Yasraf akan lebih terlihat melalui karya baik para dosen maupun mahasiswa.

“Karya tersebut bisa berupa karya seni maupun kajian kesenian dan kebudayaan. Ini tentu sejalan dengan proses pendidikan yang berlanjut sejak dulu,” katanya.

Ia berharap, Isi Padang Panjang dapat menjadi magnet yang menarik semacam rumusan bersama oleh para seniman Sumbar, sehingga dapat dirumuskan cita rasa estetika Minang hari ini.

“Artinya, semua orang terutama para seniman dan penikmat seni tentu akan bertumpu pada ISI Padang Panjang dalam perannya sebagai perguruan tinggi seni yang punya semacam otoritas untuk upaya perumusan dan pembangunan estetika itu sendiri,” katanya.

Menurutnya, tugas para peneliti dari ISI yang akan menyelami kekayaan seni Minangkanau, lalu melahirkannya sebagai rumusan yang dimaksud tadi.

Peran dimaksud, sangat terkait dengan tema seminar hari itu tentang pluralisme estetik.

“Pluralisme estetik itu intinya menghargai berbagai pandangan estetik. Dari Minangkabau yang kuat coraknya berdasarkan adat basandi sarak, sarak basandi kitabullah karena itu pegangan orang Minangkabau, berbeda dengan Jakarta yang kosmopolit. Kita harus kembangkan estetika Minangkabau secara serius agar orang menengok kita dengan pandangan yang menghargai,” urai putra Maninjau ini.

Kemudian, lanjut Yasraf, kesenian harus dapat dikembangkan di ISI Padang Panjang dengan memberi perhatian yang kuat pada semua aspek yang mendukungnya.

“Kita juga harus pikirkan persoalan pembangunan jejaring kesenian, fasilitas-fasilitas kesenian. Adalah tugas kita bersama, termasuk ISI untuk memikirkan itu,” kata penulis buku “Dunia yang Dilipat” ini.

Ia menegaskan, bahwa estetika Minangkabau yang berdasarkan pada pandangan-pandangan religi Islami patut untuk diketengahkan meski sudah banyak “hantaman” budaya Barat yang terpapar dalam berbagai bidang kehidupan.
“Minangkabau ya begitu, landasannya ya Islam. Itu yang harus kita pertahankan. Dan dunia harus menerima hal itu, karena itu inti dari pluralisme estetik yang dimaksud dalam seminar ini,” katanya.

Seminar ini dilaksanakan kerja sama ISI Padangpanjang dengan Galeri Nasional, menurut Yasraf, perlu dimaksimalkan lagi.

"Sinergi antarlembaga dan “pemangku” kebudayaan harus diperluas. Tiap lembaga harus saling mengisi. Kalau di Minangkabau itu kita sebut tungku tigo sajarangan, tali tigo sapilinnya,” urainya.

Dilanjutkan, prinsip tali tigo sapilin dan tungku tigo sajarangan ini sendiri juga dapat menjadi barometer dalam melihat betapa pandangan pluralisme estetik itu sebenarnya sudah lama ada di Minangkabau. Ulama menghargai cendikia, cendikia menghargai pemerintah, pemerintah menghargai ulama dan begitulah hubungan ketiganya membangun sinergi.

Dalam halnya kesenian, menurut Yasraf, dapat diibaratkan dengan seniman yang berkarya dengan landasan pemikiran agama, ada juga yang berlandaskan sains, lingkungan, sosial politik dan lain-lain.

"Semua harus saling menghargai pilihan estetik masing-masing," jelasnya. (SSC)
Laporan Muhammad Fadhli

BACA JUGA