Penyangkalan Rocky Gerung Terhadap Fungsi Humas

CATATAN PROGRAM ILC TV ONE

Kamis, 19/07/2018 13:31 WIB

OLEH Bayu Agustari Adha (Wartawan dan Pengamat Sosial)
Dalam sebuah video Indonesia Lawyers Club (ILC), Rocky Gerung langsung memulai wejangannya dengan menihilkan keberadaan seorang Humas PT Inalum yang menjadi kaki tangan Indonesia mengambil saham Freeport sebesar 51 persen. Karena yang bersangkutan dianggap hanya bisa berakselerasi dalam rangka tugas kehumasan dan takkan bisa berbicara substantif terkait apa rencana dan tujuan bisnis PT Inalum.

Hal ini menurut saya, satu hal lagi yang coba diemergensikan Rocky Gerung ke permukaan setelah sebelumnya mengangkat gagal pahamnya orang terhadap fiksi. Kali ini dia mengungkap adanya suatu chronicle yang ditempatkan di badan-badan dan perkelompokan untuk melakukan fungsi tertentu, yakni "para humas".

Gejolak kehumasan memang semakin terasa pada dunia informasi dalam rangka merecoki opini publik dengan perang diskursus. Saling mempengaruhi, bantah-bantahan, maju tak gentar membela yang bayar atau paling tidak menangkis dan menahan serangan tersaji demi satu tujuan: citra yang baik.

Pada dasarnya, humas yang kepanjangannya hubungan masyarakat tercipta untuk meladeni pihak eksternal. Pihak eksternal ini barangkali bisa dikatakan mengganggu atau "nambah-nambahin" kerjaan lingkungan internal yang lagi konsen bekerja.

Tersebab adanya pihak ekternal yang mengganggu itulah maka tidak semua badan dan instansi punya humas. Dengan demikian, keberadaan humas tergantung pada kadar gangguan dan kebesaran instansi tersebut. Dalam negara contohnya dari level tertinggi kepresidenan ada jubir maupun kepala staf kepresidenan, di pemerintah daerah ada biro humas, tapi di kecamatan tidak ada karena mungkin kadar kebesarannya kurang.

Contoh lainnya seperti kepolisian dari Mabes Polri, Polda, dan Polres ada humasnya tapi di Polsek tak ada. Begitu juga di swasta, perusahaan besar punya humas yang sering dinamakan coorporate communication dan perusahaan kecil apalagi toko tidak ada humasnya .

Orang yang diambil dalam kepala humas pun ada kadarnya tergantung besarnya itu. Di kepresidenan kepala staf maupun jubir seperti setara atau di bawah sedikit dari menteri meskipun tunjangannya kurang. Di pemerintah provinsi saya kira setingkat kepala dinas, di pemerintah kota/kabupaten ada mungkin tak setingkat kepala dinasnya. Pada dinasnya kadang ada juga humas namun levelnya jauh dari kadisnya.

Pada kepolisian di Polri humasnya bintang dua, di Polda tipe A pangkat humasnya Kombes yang setara dengan pejabat utamanya, tapi di Polres kebanyakan agak jauh dari Kapolresnya yang berpangkat Kombes ataupun AKBP yakni antara Ipda dan Iptu bahkan ada juga yang Bripka.

Di perusahaan biasanya kalau yang besar kepala humas termasuk dalam top level management. Pada yang ini biasanya pekerjaan mencakup juga bidang coorporate social responsibility. Pada perusahaan sedang humas banyak hanya pada kegiatan kemasyarakatan, apalagi kalau yang kecil humasnya paling hanya mengurus pemuda setempat.

Itu semua ada dan tidaknya tergantung kadar orang luarnya apakah banyak yang "nambah-nambahin" kerjaan atau tidak.

Oleh karena itu, dibutuhkan bagian kerjaan yang khusus menangani pihak luar tersebut. Dalam hal ini, humas memiliki pekerjaan pokok yakni komunikasi. Dalam paket pelajaran Public Relation yang saya ambil ada 4 mata kuliahnya, yakni Prinsip Dasar Komunikasi, Komunikasi Interpersonal, Prinsip Dasar Humas, dan Korespondensi Bisnis.

Tahap awal, humas harus paham cara berkomunikasi yang baik, mulai tutur hingga bahasa tubuh yang setiap lekuknya punya arti. Lalu komunikasi dengan lawan bicara, cara dan strategi humas berinteraksi hingga memfasilitasi.

Terkait Rocky Gerung yang menafikan fungsi humas tersebut yang menurutnya hanya memberikan omongan di permukaan, ini bisa menjadi bahan pendalaman. Dalam hal ini apakah humas secara 100 persen bisa dianggap representasi instansi yang diwakilinyaa atau tidak.

Pertama kita perlu melihat pihak eksternal yang dihadapi oleh humas itu siapa. Tak bisa dipungkiri mitra sejati dan utama humas adalah media atau yang jadi ujung tombaknya wartawan.

Dalam beberapa hal, wartawan menganggap humas sudah bisa mewakili instansinya. Hal ini mungkin karena humas berada dalam lingkungan instansi maupun pimpinannya sehingga mengetahui informasi dan kegiatannya.

Namun dalam hal pandangan pimpinan ataupun tanggapan dan langkah yang akan diambil terhadap suatu hal pasti akan belum sepenuhnya terwakili. Makanya humas ini juga berfungsi sebagai fasilitator dan perantara kepada pimpinannya.

Contoh pada instansi kepresidenan, Johan Budi atau Ali Mochtar Ngabalin bisa memberitahu ataupun menanggapi mewakili Presiden. Dan itu terlihat memang dilakukannya sambil juga memfasilitasi wartawan yang ingin wawancara dengan Presiden. Yang agak riskan merekanya sebagai representasi pemerintah adalah menanggapi kritik yang ada. Hal ini memerlukan argumen dan data yang valid agar istana tidak terlihat salah.

Turun setingkat ke level kementerian biasanya humasnya hanya sebagai fasilitator, yang bicara tetap menteri atau paling banter setingkat dirjen. Untuk pemerintah provinsi terlihat fungsi humas 50-50 antara bisa mewakili instansinya dan sebagai fasilitator. Pada dinas-dinas humas biasanya takut ngomong. Turun ke kabupaten/kota, humas dominan fasilitator, kalaupun bisa membuat pernyataan itu hanya terkait apa, dimana, dan kapan. Rata-rata di pemerintahan, humas mengetahui apa yang dilakukan lembaganya.

Contoh lain pada kepolisian, humas tingkat Polri terlihat sangat berperan kepada media. Hanya sedikit presentasenya Divhumas Polri berperan sebagai fasilitator mengantarkan wartawan ke Kapolri. Semua yang ditanyakan bisa terakomodir olehnya mulai dari soal kasus sampai langkah dan kebijakan Polri. Begitu juga di tingkat Polda semua bisa ditangani oleh Kabid Humas.

Namun pada level Polres peran humas masih terdegradasi dan lebih kepada fasilitator dan tidak bisa semua memberi pernyataan. Hal ini karena beda Polri dan Polda yang humasnya beberapa hanya setingkat lebih rendah dan beberapa lainnya setara dengan bidang kerja lainnya, sedangkan humas di Polres tingkatannya berada di bawah satuan lainnya.

Menariknya di sini sejatinya di kepolisian humas tidak terlibat langsung dengan kegiatan yang dilakukan instansinya. Misalnya soal penanganan kasus humas sama sekali tidak bersentuhan. Dalam hal ini humas di kepolisian merangkum informasi lalu kemudian menyampaikannya. Mungkin saja ini dipermudah oleh sistem operasi kerja yang punya proses baku mulai dari penerimaan laporan, penyelidikan, penyidikan, hingga penyerahan berkas.

Lanjut lagi pada perusahaan, jika itu skala besar fungsi bisa sama seperti jubir atau kepala staf kepresidenan. Dia bisa mewakili, mengklarifikasi, dan bahkan membantah. Humas perusahaan biasanya hanya akan jadi fasilitator untuk pimpinan pada momen penting atau kalau ada acara puncak. Untuk hal lainnya dirasa sudah bisa ditangani oleh humas perusahaan besar mungkin juga masalah CSR-nya.

Makanya kalau Rocky Gerung menyangsikan fungsi humas, dia seharusnya meminta untuk difasilitasi saja, bukan untuk dijawab. Untuk difasilitasi ini tentu Rocky harus menentukan posisinya sebagai apa terhadap PT Inalum. Kalau hanya sebagai masyarakat awam ya tentu akan dikasih sama humas saja. Tapi kalau menganggap diri ilmuwan dan butuh jawaban substantif dan detail tentu harus minta difasilitasi oleh humas.

Apa yang dilakukan Rocky Gerung mirip dengan anggota dewan ketika memanggil perusahan dan minta harus bosnya yang datang. Contoh saat anggota DPRD Riau pansus lahan memanggil ratusan perusahaan HTI dan sawit. Sering perwakilan perusahaan diusir karena bukan direksinya yang datang.

Untuk perusahaan sedang biasanya humas sering jadi fasilitator, bahkan pendekatannya sering nonformal dengan mengajak berunding dan tidak mengeluarkan pernyataan. Kadang kerjanya bagi-bagi ataupun mengajak ngopi wartawan atau masyarakat. Paling banter nanti bikin acara Media Gathering hingga silaturahmi dengan masyarakat.

Akan tetapi menarik juga dicermati ketidakmauan Rocky Gerung mendengarkan humas. Jika dicermati memang fungsi humas kadang hanya sebagai pelepas tanya. Kemudian agar permintaan informasi akan terhenti di humas.

Kadang ada juga yang berceletuk bahwa fungsi humas agar informasi tidak banyak terbuka, cukup melalui satu pintu. Atau apakah juga untuk membuat pihak luar semakin berjarak dengan pihak internal yang intinya dalam hal ini sang pimpinan maupun pemilik.

Perlu digarisbawahi juga fungsi humas tidak hanya sekadar bertahan menangkis informasi yang menyerangnya. Di lain pihak humas juga menyebar-nyebarkan informasi tanpa diminta ya tentu untuk menciptakan citra yang baik. Bahkan ada yang bilang berita yang banyak beredar saat ini adalah kreasi dan juga bisa rekayasa daripada para humas.

BACA JUGA