Menyoal Kapitra Ampera

--

Kamis, 19/07/2018 07:23 WIB
Kapitra Ampera

Kapitra Ampera

OLEH Anggun Gunawan (Pengelola Penerbit Gra Publishing)

Sampai hari ini, saya masih percaya bahwa politik ideologis Islam itu ada tetapi memang harus diperjuangkan dengan kesulitan dan air mata.

Jika ada yang kemudian berbalik arah dan menyeberang mendukung pihak yang selama ini dianggap "lawan" itu sudah biasa dalam sebuah perjuangan. Karena bentuk ujian yang datang memang seperti itu. Dan itu baru dari ujian awalan keistikamahan.

Biasanya argumentasi yang akan disampaikan oleh seorang "pembelot" adalah ia akan melakukan langkah dakwah di medan yang baru meskipun sesungguhnya itu menampakkan bahwa ia belum sepenuhnya yakin dengan apa yang ia perjuangkan dahulu.

Sebenarnya 212 itu adalah barisan umat yang masih tercerai-berai dalam beberapa elemen dan eksponen. Banyak "PR" yang mesti dilakukan untuk menyatukan mereka dalam satu barisan perjuangan umat Islam. Mereka butuh dikumpulkan dalam satu komando yang jelas dan barisan yang kuat. Tetapi kenapa simpul-simpul yang belum terikat kuat itu dicerai-beraikan oleh punggawa-punggawanya sendiri?

Melihat posisi Kapitra Ampera sebagai pengacara Muhammad Rizieq Shihab atau Habib Rizieq maka ada 2 hal yang bisa diulas. Ia membela karena simpati dengan perjuangan Habib Rizieq atau ia membela Habib Rizieq untuk mendapatkan ketenaran baru yang akan menaikkan reputasi dan popularitas sebagai pengacara.

Jika ia membela Habib Rizieq karena simpati dan merasa satu ideologi dengan Habib Rizieq maka pilihan aspirasi politik seharusnya sesuai dengan rekomendasi Habib Rizieq, yakni Gerindra, PKS, PAN dan PBB.

Namun jika ia membela Habib Rizieq kemarin karena aji mumpung mendapatkan popularitas maka pilihan berlabuh di PDIP sebenarnya tidak mengejutkan.

Pilihan kepada PDIP sebenarnya menyisakan persoalan serius bagi Kapitra untuk menangguk pundi-pundi suara. Bagi sebagian besar basis massa PDIP yang membela Ahok, ia akan dianggap sebagai "penyusup" yang tak perlu didukung. Sementara bagi eksponen 212, Kapitra dianggap tak lagi berada dalam barisan umat Islam karena melintir ke kubu "lawan". Sehingga raihan suara yang akan ia dapatkan diprediksi bisa sangat minim karena ia tidak tahu harus menangguk di air jernih atau di air keruh. Peluang untuk gagal ke Senanyan teramat besar.

Alasan dakwah di PDIP pun sebenarnya juga tak terlalu kuat. Dakwah tidak mesti dengan menjadi caleg dan anggota Parlemen. Dakwah kepada PDIP bisa dengan pertemuan-pertemuan rutin dengan politisi PDIP yang punya kecenderungan Islam yang baik dan mau belajar Islam secara kafah. Bisa dilakukan secara personal di ruang-ruang nonpolitik.

Meskipun Yusuf Effendi mengutip survei bahwa 70-an % suara PDIP berasal dari umat Islam, tetapi ia tidak merinci tipe orang Islam seperti apa yang memberikan suara kepada PDIP. Analisis selama ini menunjukkan bahwa komunitas Islam "abangan" lah yang banyak berkontribusi kepada suara PDIP.

Jika memang ingin berdakwah untuk menyadarkan pendukung PDIP dari basis Islam Abangan maka bergabung dengan Jamaah Tabligh lebih tepat bagi Kapitra Ampera. Karena selama ini Jamaah Tabligh telah terbukti "menginsyafkan" banyak preman. PKS pun juga punya "track record" untuk menyadarkan banyak preman-preman kelas kakap kemudian menjadi kader paramiliter PKS yang militan. Kenapa tidak mengambil cara itu?

Okelah jika memang Kapitra adalah sosok yang kukuh membela Islam dan ingin perjuangannya bisa disalurkan di PDIP. Namun bagaimana caranya ia berhadapan dengan kader-kader mayoritas PDIP yang berasal dari backgroup nonmuslim, Islam Abangan, aktivis kiri dari PRD-anak keturunan PKI dan aktivis GMNI serta aktivis Marhaen yang masih elergi dengan implementasi syariat Islam dalam UU dan konstitusi negara?

Jika suaranya adalah suara minoritas maka akan sulit baginya berbicara mewakili suara Fraksi PDIP di DPR. Kalau pendapatnya sering tak seiring dengan suara dominan petinggi PDIP, maka risiko di-PAW -kan sangat besar. Sehingga bisa jadi Kapitra hanya seumur jagung menjadi anggota parlemen.

Menurut saya berbahagialah politisi yang istikamah dengan ideologi Islamnya karena mereka telah menang sejak awal karena memegang teguh idealisme dan terbebas dari kemunafikan pragmatisme.

BACA JUGA