Sastrawan Syarifuddin Arifin Bicara Cara Mempermalukan Koruptor di Malaysia

-

Minggu, 08/07/2018 02:41 WIB
Penyair Indonesia Syarifuddin Arifin

Penyair Indonesia Syarifuddin Arifin

Padang, sumbarsatu.com--Penyair Indonesia Syarifuddin Arifin kembali diundang University Sultan Azlan Shah (USAS) Malaysia. Kali ini ia dipercaya sebagai pembicara pada 5th World Conference on Islamic Thought &Civilization (WCIT) yg diikuti 8 negara di Casuarina @Meru Ipoh, Malaysia, 16-19 Juli 2018 yang akan datang.

Syarifuddin Arifin akan bicara pada sesi Arts, Humanity and Security. Menurutnya, membicarakan masalah kemanusiaan dalam sastra, dan wacana hukum Islam bagi koruptor saatnya diapungkan kepermukaan.

Dia tampril bersama dua pembicara lainnya, yakni Prof. Kathy Foley dari University of California, Santa Cruz dan Dr. Mas Rynnawati dari UKM Malaysia.

Sebagai salah seorang laskar antikorupsi, Syarifuddin Arifin lebih banyak bicara tentang Puisi Menolak Korupsi dan gerakan 'malu jadi anak koruptor'.

"Indonesia tidak mungkin melaksanakan hukum hudud, karena tidak memakai syariat Islam. Maka jalan yang terbaik ialah mempermalukan koruptor di mata masyarakat," katanya pada sumbarsatu.com, Sabtu (7/7/2018) di Padang.

Setelah mengikuti 5th WCIT di Ipoh, penyair yang suka melanglang ini akan meneruskan perjalanannya ke Buchok Kelantan sebagai peserta Konferensi Penyair Dunia (Kompen) pada 20 -22 Juli 2018, dan pada 23-25 Juli dilanjutkan ke Shah Alam dan Puchong, serta pada 27-29 Juli di Singapura.

Sebelumnya, Kamis (14/12/2017), Syarifuddin Asebagai Arifin diundang Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memaparkan hasil pikirannya dan strategi memusnahkan korupsi dan koruptor dari jagat Indonesia dalam kegiatan Kelompok Diskusi Terpumpun atau Focus Group Discussion (FGD) di Kantor Merah Putih KPK, Jakarta.

"Saya bentangkan hasil renungan reflektif selama ini terhadap perilaku koruptif petinggi bangsa ini dengan judul tulisan "Membunuh Koruptor (Korupsi) dengan Puisi: Mengelola Puisi sebagai Media Pembelajaran". Ini sinergi antara KPK dengan PMK. Kita harus memperkuat KPK dalam pemberantasan dan pencegahan perilaku korupsi," kata Syarifuddin Arifin, saat bincang-bincang dengan sumbarsatu.com.

Puisi Menolak Korupsi (PMK) adalah gerakan moral yang dilakukan oleh para penyair Indonesia dalam rangka mengkampanyekan sikap antikorupsi kepada masyarakat melalui penerbitan buku antologi puisi, lomba baca puisi, lomba musikalisasi puisi, pemutaran film-film, diskusi, seminar, orasi budaya, dan pertunjukan seni baca puisi yang semuanya bertemakan antikorupsi.

Buku-buku puisi yang sudah diterbitkan oleh Gerakan PMK, antara lain Antologi Puisi Menolak Korupsi (85 penyair, Forum Sastra Surakarta), Antologi Puisi Menolak Korupsi 2a (99 penyair, Forum Sastra Surakarta), Antologi Puisi Menolak Korupsi 2b (98 penyair, Forum Sastra Surakarta) yang terbit pada 2013. Pada 2014, terbit buku Antologi Puisi Menolak Korupsi 3: Pelajar Indonesia Menggugat (286 pelajar, Forum Sastra Surakarta), Memo untuk Presiden (196 penyair, Forum Sastra Surakarta)

Syarifuddin Arifin salah seorang sastrawan terkemukan asal ranah Minangkabau lahir di Jakarta 1 Juni 1956 . Ia telah melakukan perjalanan sastra dan budaya ke Thailand, Malaysia, Brunei Darussalam dan Singapura.

Buku Puisi: Ngarai (1980) diterbitkan Kolase Kliq Jakarta. Catatan Angin di Ujung Ilalang (1998) ditebitkan Taman Budaya Sumbar, dan Maling Kondang (2012) dan Galodo Antara Dua Sungai, dan banyak lagi antologi puisi bersama. (SSC/Rel)

BACA JUGA