Lima Pesan untuk Warga Kota Pariaman

Selasa, 26/06/2018 11:52 WIB
-

-

OLEH Indra J Piliang (Ketua Dewan Pendiri Sang Gerilya Institute)

Lima tahun yang lalu, dengan konsep “Iko Jaleh Piaman”, saya memutuskan untuk maju sebagai Calon Wali Kota Pariaman periode 2013-2018. Waktu itu, saya berpasangan dengan Jose Rizal Manday, seorang birokrat cemerlang yang saya kenal dalam acara perhelatan Tabut Piaman 2012. Saya waktu itu berusia 41 tahun, sementara Jose berusia 36 tahun. Saya menjabat sebagai Ketua Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Golkar, sekaligus Ketua Alumni SMA 2 Kota Pariaman.

Sementara Jose sedang menjabat sebagai Kepala Satuan Polisi Pamong Praja Kota Pariaman. Saya lulusan Sarjana Ilmu Sejarah Fakultas Sastra Universitas Indonesia (UI) dan Magister Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UI. Sementara Jose lulusan Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) dan Magister FISIP UI.

Terdapat tujuh pasangan calon waktu itu. Saya dan Jose atas nama pasangan IJP-JOSS memilih jalur perseorangan, bersama satu pasangan lain. Lima pasangan berasal dari partai politik. Kami membina dan mengerahkan anak-anak muda Kota Pariaman yang tergabung dalam sejumlah relawan, terutama Alang Babega, Bujang Selamat dan Si Binuang. Di luar itu, kami juga menggerakkan para ibu yang tergabung dalam relawan Sirangkak. Dari ketujuh pasangan calon, kami finish di urutan ketiga. Di atas kami adalah pasangan Muchlis Rahman – Genius Umar dan Helmi Darlis – Mardison Mahyuddin.

Untuk pemilihan kepala pemerintahan daerah (pilkada) Kota Pariaman besok, yakni tanggal 27 Juni 2018, saya sama sekali tak mencalonkan diri, begitu juga Jose Rizal. Saya lebih memilih kegiatan intelektual di DKI Jakarta, sementara Jose melanjutkan kiprahnya sebagai birokrat karier.

Namun, atas permintaan mantan-mantan relawan, saya kemudian mendeklarasikan mereka untuk mendukung pasangan Genius Umar dan Mardison Mahyuddin. Di hadapan sekitar 800 orang relawan Alang Babega dan Sirangkak, disertai Sibinuang dan Bujang Selamat, saya memberikan instruksi. Apa yang saya sampaikan sudah menyebar ke publik Kota Pariaman.

Menjelang hari pemilihan (D Day) besok, bersama ini saya menghimbau kepada kalangan pemilih Kota Pariaman, umumnya, dan seluruh relawan, khususnya:

Pertama

Selama proses pemilihan, dari awal hingga akhir, agar menjaga filosofi sabiduak sadayuang (warga) Kota Pariaman. Siapapun yang terpilih nantinya, berada dalam biduk harapan yang sama. Begitupun, di dalam biduk itu, semuanya kembali mendayung menuju pulau impian serupa. Jangan sampai silaturahmi putus hanya gara-gara pilkada yang dihelat sekali dalam lima tahun. Kerjasama dan kerjabersama adalah budaya yang mengakar dalam masyarakat Kota Pariaman.

Kedua

Masyarakat Piaman – baik yang berada di Kota Pariaman, Kabupaten Padang Pariaman, maupun di rantau – dikenal memiliki ketaatan kepada landasan Panakiak pisau sirauik / Ambiak galah batang lintabuang / Salodang ambiak kanyiru / Satitiak jadikan lauik / Nan sakapa jadikan gunuang / Alam takambang jadi guru. Dengan landasan setitik jadikan laut, sekepal jadikan gunung dan alam terkembang jadikan guru itu, pilkada adalah proses untuk mendapatkan ilmu pengetahuan baru menyangkut banyak sisi dalam kehidupan demokrasi, umumnya, dan hablu minnanas, khususnya. Jangan sampai persoalan status setitik di facebook, misalnya, menjadi fitnah selaut.

Ketiga

Sebagai bagian dari masyarakat Ranah Minang, tentunya warga Piaman menjadikan Adat Bersendi Sara’, dan Sara’ Bersendikan Kitabullah (Al Qur’an). Sara’ mangato (sara’ bertitah), adat mamakai (adat memakai). Artinya, perselisihan ataupun perbedaan pilihan jangan sampai menjadikan kita sebagai Orang Piaman kehilangan sendi-sendi kehidupan yang sudah termuat dalam Kitabullah. Dalam pandangan para ulama, politik hanyalah bagian kecil dari kehidupan. Politik diartikan sebagai siyasah dalam tataran fiqih. Baik pemilih sebagai warga, maupun mereka yang terpilih sebagai umara (pemimpin), sama sekali bukan manusia yang berbeda dalam artian derajat. Pemimpin di Ranah Minang hanya didahulukan selangkah dan ditinggikan seranting.

Keempat

Setiap pemilih berhak untuk mencatat seluruh janji kampanye setiap pasangan. Janji-janji itulah yang nanti diminta pertanggungjawabannya, apakah dilaksanakan atau tidak. Pertanggungjawaban itu bukan hanya di dunia, melainkan juga di akherat. Catatan setiap pemilih bukan untuk menjatuhkan harga diri umara yang terpilih, melainkan sebagai pengingat. Tentu, nantinya, seluruh janji itu wajib dimasukkan ke dalam siyasah (tatanan pemerintahan), yakni Rencana Jangka Menengah dan Panjang (RPJM) Kota Pariaman. Seluruh janji itu tak serta merta bisa dilaksanakan, perlu dikawal terus bersama media massa, organisasi sosial kemasyarakatan, serta Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Pariaman.

Kelima

Jadikan akhir proses pilkada ini dalam makna biduak lalu / kiambang batauik (biduk lewat, kiambang bertaut). Artinya, kiambang (yang berarti eceng gondok atau teratai) kembali ke posisi semula. Nol – Nol. Mumpung masih dalam suasana bulan Syawal, setiap perbedaan atau konflik di masa lalu, biarkan sebagai bagian dari perjalanan biduk Kota Pariaman. Tak ada dendam. Tak ada kasam. Lebih baik memikirkan masa depan dan meraihnya, ketimbang melihat ke belakang. Kalaupun tautan kiambang ingin dilihat, pastikan bahwa posisinya sama sekali tak sobek terkena biduk atau dayung yang dipakai. Maaf memaafkan. Termasuk tentunya mencabut segala macam tuntutan di ranah hukum yang mungkin sudah sempat dilayangkan.

Demikianlah lima pesan yang perlu saya sampaikan kepada Warga Kota Pariaman, terutama para pemilih. Gunakan hak pilih sebagai warga negara sebaik-baiknya.

Bismillahhirahmanirrahim.

Jakarta, 26 Juni 2018

BACA JUGA