Selebrasi Politik di Piala Dunia 2018

KOLOM

Selasa, 26/06/2018 06:50 WIB
Pemain Serbia memperagakan 3 jari simbol tentara Serbia (Foto Internet)

Pemain Serbia memperagakan 3 jari simbol tentara Serbia (Foto Internet)

OLEH Hertasning Ichlas

Setiap gol di Piala Dunia adalah momen politik. Dahulu Iniesta dan Xavi mengumandangkan pesan Catalan (merdeka) melalui kaos dalam, kini Granit Xhaka dan Xherdan Shaqiri, dua pemain pilar Swiss itu dihukum dua kali pelarangan tampil akibat selebrasi gol mereka melawan Serbia di babak penyisihan Grup E Piala Dunia 2018.

Xhaka dan Shaqiri merayakan gol masing-masing dengan memperagakan simbol Elang Kembar dengan tangan mereka, diketahui kemudian itu adalah simbol bendera Albania.

Ayah Xhaka dahulu adalah tahanan politik di masa Yugoslavia sementara Shaqiri lahir di Yugoslavia hingga kemudian dia berimigrasi ke Swiss di usia belia. Para imigran Albania itu umumnya menderita pembersihan etnis dan genosida dari pemerintahan Serbia dan Balkanisasi.

Kedua pemain pencetak gol kemenangan Swiss itu warga negara Swiss yang berasal dari etnis Albania di Kosovo yang pernah mengalami penjajahan dan genosida dari Serbia hingga 1999 saat NATO mengakhirinya dengan intervensi militer.

FIFA melalui Dewan Pengawas dan aturan di pasal 54 tentang penegakkan kode disiplin menganggap aksi keduanya itu tergolong provokatif kepada publik dan bisa digolongkan mendukung klaim nasionalisme Albania Raya yang merupakan bagian wilayah dari Kosovo, Serbia, Macedonia dan Yunani.

Malang menimpa kedua pemain penting itu karena keduanya akan kehilangan kesempatan bermain di laga akhir grup melawan Costa Rica dan laga 16 besar jika Swiss berhasil lolos.

Hubungan Albania dan Serbia mengalami perang urat syaraf terutama semenjak tahun 1999 saat perang fisik usai. Setelah itu ekspresi politik muncul di mana-mana termasuk di momen sepakbola.

Pada pertandingan Piala Eropa lalu, melalui kesaksian pendukung Albania, mereka mendengar suporter Serbia berteriak "ubij ubij siptara" yang artinya "bunuh para Albanian!" Kini mereka marah mengapa FIFA dahulu tidak menghukum Serbia sementara kini 2 anak Albania korban genosida berkewarganegaraan Swiss harus dihukum tidak boleh bertanding hanya karena memberikan ekspresi mereka. Padahal menurut pendukung keduanya, hal itu sama seperti Mo Salah dan Sadiou Mane bersujud atau pemain Brazil membuat tanda salib.

Pemain Serbia memperagakan 3 jari simbol tentara Serbia (Foto Internet)

FIFA sementara ini pula sedang melakukan penyelidikan terhadap komentar Mladen Krstajic, pelatih Serbia seusai pertandingan kepada wasit Felix Brych. Komentarnya kira-kira isinya memprotes wasit mengapa tidak memberikan kartu kuning atau merah atas aksi selebrasi itu. Dia berkata pada wasit akan mengirim mereka ke The Hague (pengadilan international) dan memenjarakan mereka.

Sementara, Vladimir Petkovic, manager tim nasional Swiss yang kelahiran Bosnia memberi komentar atas aksi selebrasi itu dengan lebih dingin, "Kita tak seharusnya mencampuri sepakbola dengan politik. Penting untuk menjadi penggemar dan saling menghormati."***

BACA JUGA