Minggu, 24/06/2018 19:29 WIB

Kadis Kesehatan Agam: Tak Peduli Kebersihan, DBD akan Menyerang

Cegah merebaknya DBD Dinkes Agam intensifkan-fogging 3M Plus

Cegah merebaknya DBD Dinkes Agam intensifkan-fogging 3M Plus

Agam, sumbarsatu.com-Selama warga kurang peduli menjaga kebersihan lingkungan, selama itu pula penyakit demam berdarah (DBD) akan tetap menyerang, ungkap Kepala Dinas Kesehatan Agam, dr. H. Indra Rusli, Minggu (24/6/2018), ketika dihubungi via ponselnya.

Menurutnya, nyamuk penyebar DBD bertelur pada genangan air dalam wadah, seperti pada kaleng bekas, ban bekas, bak penampungan air bersih, wadah penampung tumpahan air pada dispenser, dan wadah lainnya yang digenangi air. Nyamuk dengan nama keren aides egygti itu tidak mau bertelur pada genangan air yang beralaskan tanah. Ia sejenis nyamuk yang “bersih.”

Makanya, warga diimbau untuk melakukan gerakan 3M Plus, yaitu menguras, mengubur, menutup. Sedangkan plusnya adalah plusnya memakai obat nyamuk, memakai kelambu saat tidur, menghindari kebiasaan menggantung pakaian di dalam rumah, yang bisa menjadi tempat istirahat nyamuk, dan sejenisnya.

Dijelaskan, dalam kondisi cuaca hujan bercampur cerah, seperti saat ini, nyamuk akan berkembang biak. Masa yang dibutuhkan nyamuk untuk menjadi hanya sepekan. Begitu pula dengan nyamuk penyebar DBD. Kondisi demikian perlu diwaspadai, agar serangan DBD bis ditekan sedini mungkin.

Yang paling banyak terserang DBD, menurut dr. Indra adalah pera pelajar, dan para pekerja kantoran. Sedangkan petani nyaris tidak ada yang terserang DBD.

“Paling rentan terserang DBD memang para pelajar, mahasiswa, dan pegawai kantoran, yang persentasenya mencapai 90 persen. Sedangkan petani nyaris tidak pernah terserang penyakit tersebut,” ujarnya.

Petani terhindar dari serangan DBD, karena mereka pada siang hari berada di sawah atau di ladang. Nyamuk penyebar DBD menyebarkan penyakit tersebut pada siang hari. Sedangkan pelajar, mahasiswa, dan pegawai pada siang hari berada di kantor mereka. Maka dengan mudah nyamuk menyebarkan penyakit DBD pada mereka, melalui gigitan.

Untuk itu, sangat diharapkan agar lingkungan sekolah dan kantor bersih dari sarang nyamuk penyebar DBD. Di sekolah dan di kantor, bak air bersih, dan penampung air pada dispenser, merupakan sarang yang nyaman bagi nyamuk aides egyti. Sedangkan di perkampungan warga, kalung bekas, ban bekas, dan wadah lain yang digenangi air, merupakan sarang nyamuk penyebar DBD. Sarang nyamuk dimaksud harus dibuang, atau dikubur, agar tidak bisa digunakan nyamuk untuk bersarang.

Menjawab sumbarsatu.com, dr. Indra menyebutkan, obat khusus untuk korban DBD tidak ada, karena penyakit itu disebabkan virus.

Di Agam, kasus DBD terus berkurang. Bila dibandingkan dengan tahun 2016, kasus DBD sudah sangat jauh berkurang. Semua itu karena kesadaran warga menjaga kebersihan lingkungan sudah semakin membaik.

Sedangkan baru-baru ini, terdapat 3 kasus DBD di Lubuk Basung. ketiga penderita sudah pulang dari rumah sakit.

“Dengan adanya kasus tersebut, kami akan melakukan foging di kawasan Pincuran Tujuah Lubuk Basung, Senin (26/6/2018),” ujarnya pula. (MSM)

BACA JUGA