Dandim 0308 Pariaman Akan Mempertemukan Anak Panti Asuhan dengan Ibunya

Kamis, 07/06/2018 18:21 WIB
Dandim 0308 Pariaman, Letkol Arh. Hermawansyah.

Dandim 0308 Pariaman, Letkol Arh. Hermawansyah.

Pariaman, sumbarsatu.com--Nur Azizah (18), gadis manis asuhan Panti Aisiyah Taratak, Kota Pariaman mendapat perhatian khusus dari Dandim 0308 Pariaman, Letkol Arh. Hermawansyah.

Perwira TNI AD ini pertama kali berkunjung ke Panti Aisiyah Taratak dan menyantuni serta memberi motivasi kepada anak yatim piatu yang tinggal di panti.

Di Panti Aisiyah Taratak ini, Letkol Arh. Hermawansyah mendengar cerita dari salah seorang anak yatim bernama Nur Azizah. Nur sangat merindukan ibunya, dan berharap dapat bertemu. Sejak kecil Nur sudah berpisah dengan ibunya. Mendengar harapan anak yatim ini, Hermawansyah terharu.

"Saat mendengar kisah Nur itu, saya berjanji dalam hati saya akan berusaha mencari tahu keberadaan ibu Nur dan mempertemukannya," kata Dandim 0308 Pariaman ini.

Nur menceritakan, ibunya kini berada di Pulau Bali. Nur sendiri tak mungkin perhi ke Bali.

"Saya pun sudah berkoordinasi dengan sahabat saya yang bertugas di sana. Sudah mempersiapkan segala kebutuhan termasuk penginapan untuk pertemuan mereka," kata Letkol Arh. Hermawansyah.

Kepala Panti Aisiyah, Kota Pariaman, Farida dengan senang hati menyetujui permintaan Dandim yang mencoba mempertemukan antara anak dan ibu kandungnya, yang sudah berpisah 11 tahun.

"Nur Azizah diantarkan ayahnya yang pada saat itu masih berumur 8 tahun. Selama berbaur, didik dan dibina, Azizas cukup baik dan menjalankan segala aturan dan ketentuan. Gadis manis ini berkarakter keras, tegas dan pemberani," kata Farida.

Harapan dan cita-cita berjumpa ibunya dan kembali ke kampung halamannya di Bali, segera terwujud setelah Lebaran ini.

Rencana pertemuan ini membahagiakan Nur Azizah. "Ayah saya bernama Ali Munir sudah meninggal. Sedangkan ibu bernama Rahma Siti Wati.

"Ayah dan ibu saya merantau ke Bali. Saat pulang kampung di Pakandangan dan tinggal beberapa bulan, kedua orang tua saya berpisah. Keluarga ayah kurang menerima keberadaan ibu. Hingga akirnya ayah dan ibu kembali ke Bali. Sedangkan saya dan adik saya Erlina (7) dititipkan sementara di panti ini," kisah Nur Azizah dengan mata berbinar.

Nur menceritakan, sesampai di Bali, ayahnya meninggal dunia di sana. Sedangkan ibu hingga saat ini, tinggal dan bekerja di pabrik roti, milik saudara perempuannya di Bali.

"Ibu, asli orang Bali beragama Hindu, dan kami terlahir dan hidup menjadi seorang muslimah," tutup gadis yatim itu. (RY)

BACA JUGA