Nama Ulama, Tak Cocok untuk Bandara

-

Jum'at, 01/06/2018 22:47 WIB

OLEH Indra J Piliang (Pendiri Relawan Alang Babega Piaman Laweh)

Sekilas lintas, dalam berita, saya membaca bahwa usulan nama (baru) untuk Bandara Internasional Minangkabau (BIM) adalah Bandara Syech Burhanuddin. Sbgm kita tahu, Syech Burhanuddin adalah ulama besar yang memiliki pesantren di Ulakan, Padang Pariaman. Sjmlh mesjid di Ulakan juga sudah disematkan nama beliau.

BACA: Bupati Ali Mukhni Minta Nama BIM Diganti

Bagi ranah Minangkabau, Syech Burhanuddin menjadi semacam Wali Songo di Tanah Jawa. Ia mewariskan sejumlah tradisi keagamaan di Minangkabau, antara lain tradisi di Bulan Safar (Basapa). Bahkan, tarekat Syatariyah juga disebut berasal dari beliau. Saya tentu tak punya pengetahuan yang cukup untuk mengurai lebih lanjut tentang Syech Burhanuddin.

Yang jelas, apabila di Tanah Jawa terdapat sembilan orang wali, di Sumatera Barat Syech Burhanuddin menjadi satu-satunya. Berikut nama sembilan wali di Tanah Jawa:

  1. Sunan Gresik (Maulana Malik Ibrahim) ...
  2. Sunan Ampel (Raden Rahmat) ...
  3. Sunan Bonang (Maulana Makdum Ibrahim) ...
  4. Sunan Drajat (Raden Qosim/Raden Syaifudin) ...
  5. Sunan Kalijaga (Raden Said) ...
  6. Sunan Kudus (Ja'far Shadiq) ...
  7. Sunan Muria (Raden Umar Said) ...
  8. Sunan Gunung Jati (Syarief Hidayatullah) ...
  9. Sunan Giri (Raden Paku / Muhammad Ainul Yakin) ...

Apabila Tanah Jawa menjadi satu area perbandingan, sampai sekarang belum ada saya dengar nama bandara yang dilekatkan dengan salah satu nama Wali Songo itu. Yang ada malah perguruan tinggi, itupun dulu, yakni IAIN Syarief Hidayatullah yang sekarang naik status menjadi Universitas Islam Negeri Jakarta.

Pun jika pergi ke daerah-daerah lain. Mayoritas nama-nama bandara yang diambil dari nama orang adalah mereka yang berstatus sebagai raja atau sultan, termasuk bandara King Abdul Azis di Jeddah, Saudi Arabia. Tentu tak perlu saya beberkan nama-nama bandara di Indonesia yang berasal dari nama-nama raja atau sultan ini.

Alangkah "cayah onggok", apabila Minangkabau yang berfilosofi Adat Bersendi Syara, Syara Bersendi Kitabullah ini malahan tiba-tiba meletakkan ulama besarnya di area keluar masuk bagi penumpang-penumpang pesawat terbang, dengan berbagai macam agama dan keyakinan. Pun bule-bule yang berwisata ke Kepulauan Mentawai.

Apakah kesucian nama Syech Burhanuddin bisa dipertahankan di area bandara yang menyandang nama internasional? Terkecuali, bandara yang mengapungkan nama ulama masyur itu diperuntukkan khusus bagi ummat Islam. Sebut saja: Bandara Islam Syech Burhanuddin. Lebih masuk dalam pikiran, ketimbang Bandara Internasional Syech Burhanuddin yang notabene adalah wajah beragam penduduk dunia.

Pada hari baik, bulan baik ini, yakni Jumat di bulan Ramadhan, saya menghimbau bagi siapapun yang berencana untuk mengganti nama Bandara Internasional Minangkabau berpikir jernih. Jika daerah-daerah lain tidak memperbuat, begitu juga negara-negara lain, kenapa pula Padang Pariaman mencontohkannya? Bukankah begitu banyak ulama besar di Saudi Arabia, Mesir, atau negara-negara di Asia Tengah, tetapi tak membungkus bandaranya dengan nama ulama itu?

Usul saya, lebih baik jika nama Syech Burhanuddin dipertahankan sebagai lembaga kampus atau universitas, selain juga nama perpustakaan Islam. Semangat keberagamaannya lebih terasa, ketimbang meneteng siriah dan carano, sambil menari gelombang, di area bandara...

Selamat hari Pancasila.

Jakarta, 1 Juni 2018.

 

BACA JUGA