Bupati Ali Mukhni Minta Nama BIM Diganti

Kamis, 31/05/2018 12:53 WIB

Padang Pariaman, sumbarsatu.com--Pemerintah Kabupaten Padang Pariaman kini tengah berupaya untuk mengganti nama Bandar Udara Internasional Minangkabau (BIM) menjadi Bandara Internasional Syekh Burhanuddin, yang terletak di Kecamatan Batang Anai, Kabupaten Padang Pariaman, sekitar 20 Km dari pusat Kota Padang.

“Upaya penggantian ini bukan tanpa alasan. Nama Syekh Burhanuddin yang bermakam di Ulakan, Kecamatan Ulakan Tapakis adalah sosok ulama yang menyebarkan agama Islam di tanah Minangkabau,” tegas Bupati Ali Mukhni, Kamis (31/5/2018).

“Tanpa kehadiran Syekh Burhanuddin menyebarkan syiar Islam, entah bagaimana nasib kita di Padang Pariaman dan Sumatera Barat ini. Islam adalah agama paling diridai Allah yang akan menyelamatkan kita dari dunia sampai ke akhirat,” tambahnya.

Diakui bupati, dalam sebuah rapat gubernur mempertanyakan, kenapa nama Syekh Burhanuddin yang disematkan kepada bandara ini, sementara tokoh-tokoh Islam lain lumayan banyak seperti Imam Bonjol, Agus Salim dan Hamka.

“Nama-nama tokoh tersebut sudah identik dengan lembaga lain, seperti stadion, perguruan tinggi dan pesantren,” argumentasi bupati.

Pada kesempatan itu, Bupati Ali Mukhni beberapa kali memuji Ketua DPRD Faisal Arifin, unsur pimpinan serta anggota dan Asisten Setdakab Fakhriati. DPRD Padang Pariaman sangat mendukung program dan kebijakan pemerintahan. Khususnya menganggarkan pembangunan rumah dinas bupati yang kini masih berjalan, setelah sebelumnya melekat pernyataan tidak resmi bahwa rumah dinas bupati Padang Pariaman merupakan terjelek di Indonesia.

Asisten Setdakab Fakhriati pun mendapat pujian dari Ali Mukhni atas upayanya bekerja tanpa mengenal waktu dalam pembebasan tanah untuk jalan tol Padang Pariaman-Pekanbaru secara persuasif kepada sebagian kecil masyarakat.

Apa Salahnya Nama Minangkabau

Sementara itu, Khairul Jasmi, wartawan senior, yang merupakan salah seorang tim seleksi pemberian nama bandara pada tahun 2004 itu malah mempertanyakan kenapa harus ditukar.

Penamaan Bandara Minangkabau dibuat di zaman Gubernur Sumatera Barat Zainal Bakar yang asli Piaman itu pada permulaan orde reformasi. Ketika bandara akan diselesaikan pengerjaannya oleh kontraktor Jepang, hangat diskusi di media tentang nama Bandara. Pemilihan nama sejumlah tokoh nasional asal Sumatera Barat.

“Tapi kemudian Gubernur memutuskan membentuk tim yang akan memilih nama dari sejumlah nama yang diusulkan oleh masyarakat,” kata Khairul Jasmi.

Ia menyebut, anggota tim yang lain adalah Prof. Mestika Zed, H Kamardi Rais Dt. P.Simulie, Yurnaldi, Prof. Aziz Saleh, Buya Masoed Abidin. Tim ini diketuai Gubernur Zainal Bakar.

Menurutnya, saking banyak nama hebat di Minangkabau ini sehingga nyaris tak bisa dikatakan siapa yang paling pantas. Semua nama pahlawan pantas dijadikan nama Bandara itu.

“Ketika disebut nama Sjahrir, muncul pertanyaan kenapa tidak Hatta? Ketika disebut nama Agus Salim, kenapa tidak Imam Bonjol? Eh kata orang dari Agam, nama Hamka juga pantas. Nah akhirnya semua sepakat memilih nama yang paling netral yakni Minangkabau,” kenang yang kini jadi salah seorang Komisaris PT Semen Padang ini.

Diceritakannya, setelah tim menetapkan nama bandara itu menjadi Bandar Udara Internasional Minangkabau (BIM) atau Minangkabau International Airport (MIA) lalu diberikan kepada pemerintah pusat dan PT Angkasa Pura sebagai pemegang otoritas kebandaraan.

Menjawab pertanyaan soal niat mengusulkan pengganti nama Bandara itu, menurut sosok yang akrab disapa KJ ini, suatu hal yang wajar saja, tapi apa salahnya dengan nama Minangkabau?

“Jika Pemkab Padang Pariaman ingin melekatkan nama Syekh Burhanuddin, kenapa tidak dibangun saja perguruan tinggi di Tarok City itu nanti dan diberi nama Universitas Syekh Burhanuddin, biarlah yang sudah lekat ini tetap kita pakai bersama menandakan Bandara ini mewakiliki semangat keminangkabauan kita semua,” kata KJ.

Sebelum ini memang sudah ada pula wacana mengganti nama Bandara itu menjadi Bagindo Azizchan lalu muncul wacana baru menjadi Bandara Sutan Mohammad Rasjid.

Kedua nama itu memang sama-sama nama tokoh terkenal dari Pariaman. Yang satu menjadi Wali Kota Padang dan gugur ditembak Belanda pada masa Agresi II. Sedang Sutan Muhammad Rasjid adalah Gubernur Militer Sumatera Barat yang banyak berkiprah di zaman awal kemerdekaan. (SSC)

BACA JUGA