Pariangan Perlu Pembenahan Jelas, Jangan Terbuai Semboyan Indah

-

Senin, 14/05/2018 17:37 WIB
Foto bersama rombongan mahasiswa Pascasarjana Ilmu Komunikasi Universitas Andalas (Unand) angkatan 2017 saat studi banding dengan Wali Nagari Tuo Pariangan, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat (Sumbar), Sabtu (12/5).

Foto bersama rombongan mahasiswa Pascasarjana Ilmu Komunikasi Universitas Andalas (Unand) angkatan 2017 saat studi banding dengan Wali Nagari Tuo Pariangan, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat (Sumbar), Sabtu (12/5).

Pariangan, sumbarsatu.com—Nama Nagari Pariangan di Kecamatan Pariangan, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat (Sumbar) kian dilirik wisatawan lokal hingga mancanegara.

Kepopuleran nagari yang berada di lereng Gunung Marapi itu, mulai muncul sejak majalah Budget Travel terbitan Amerika Serikat mennyebutkan, Nagari Tuo itu termasuk salah satu dari 15 desa terindah di dunia.

Sejak tahun 2016, semboyan “Pariangan sebagai Nagari Terindah di Dunia” berangsur mulai diminati wisatawan. Tak hanya banjir di media sosial, keindahahan Nagari Pariangan juga ditulis dalam pemberitaan media cetak dan elekronik.

Bomingnya pemberitaan itu juga yang menarik minat rombongan mahasiswa Pascasarjana Ilmu Komunikasi, Fakultas FISIP, Universitas Andalas (Unand) angkatan 2017 bertolak ke Nagari Tuo Pariangan, Sabtu (12/5/2018).

Kunjungan 21 mahasiswa yang didampingi tiga Doktor Komunikasi itu sekaligus visiting studies alias kunjungan belajar menutup pertemuan pada mata kuliah "Komunikasi Pembangunan".

Memasuki kawasan Nagari Pariangan, berbagai celetuk keluar dari mulut beberapa mahasiswa Pascasarjana Komunikasi Unand yang turut berkunjung. Ada yang menilai, tidak ada indah luar biasa seperti yang didengungkan media. Ada pula yang mengkritik soal kebersihan nagari, bahkan di kantor Wali Nagari Pariangan sendiri.

"Wah, nggak seperti yang saya bayangkan. Ternyata biasa-biasa saja pemandangannya," kata Iqbal, salah seorang mahasiswa asal Jambi sesaat turun dari bus pengantar rombongan.

Kedatangan rombongan yang dikomandoi Dr Ernita Arif selaku Ketua Jurusan Pasca Ilmu Komunikasi Unand ini, disambut Ketua Cadiak (cerdik) Pandai Nagari Pariangan, Irwan Malin Basa didampingi Wali Nagari Pariangan, April Khatib Saidi.

"Ya, inilah Pariangan. Yang indah itu bukan pemandangannya, tapi budaya dan tradisinya yang masih terawat sampai hari ini," kata Irwan membuka perbincangan usai perkenalan.

Irwan mengatakan, sejak populer di dunia maya, Pariangan banjir dikunjungi wisatan lokal hingga wisman. Kondisi tersebut, tentunya membuat pihak nagari harus bergerak cepat. Terutama, menyiapkan semua infrastruktur objek yang bisa memanjakan mata pengunjung. Namun, sederet panjang rencana nagari selalu terkekang anggaran.

"Waktu Presiden berkunjung kemarin, beliau memastikan bantuan dana sebesar Rp100 miliar untuk pembenahan infrastruktur. Seperti restorasi rumah gadang, kuburan panjang dan aie angek di Masjid Ishlah yang menjadi pusat kunjungan di Pariangan. Tapi, sampai kini, masih terkendala di tingkat provinsi," ujar Irwan Malin Basa.

"Orang pusat hanya minta keterangan pembebasan lahan. Sedang Pemprov Sumbar minta surat hibahnya," sambung Irwan yang juga berprofesi sebagai dosen itu.

Lebih lanjut, Ketua Komunitas Budaya Nagari Tuo Pariangan itu membeberkan, merawat budaya Pariangan, pihaknya terus mengaktifkan tradisi lokal. Seperti tari piriang, randai. Begitu juga soal membatik.

"Kami juga punya 127 naskah kuno yang bicara tentang adat, hukum, sejarah, agama dan sains. Nah, berdasar itu juga kami merawat budaya di Pariangan," katanya.

Ke depan, Irwan merencanakan, Pariangan menjadi kampung sains. Bahkan, program yang telah dimulai diantaranya, menggiatkan literasi dengan nama "Pustaka Lapau" Pariangan. Sedikitnya, 19 lapau di Pariangan sudah memiliki pustaka.

"Jadi, kita belikan buku yang betul disukai pembaca, bukan yang kita sukai," sebutnya.

Nyaris semua persoalan Nagari Pariangan dikupas tuntas oleh Irwan yang memang cukup paham dengan kondisi kampungnya. Namun, dari semua potensi yang mulai menggeliat itu, Irwan megakui, belum berdampak terhadap geliat perekomian masyarakat sekitar. "Ada peningkatan, tapi memang belum signifikan," jawabnya.

Wali Nagari Pariangan, April Khatib Saidi turut membenarkan paparan Irwan yang dianggapnya cukup membantu kemajuan Nagari.

"Menang terjadi distorsi soal Nagari terindah ini. Sebab, masyarakat membayangkan Nagarinya yang indah. Tapi, sebetulnya, budaya Pariangan yang indah," katanya.

Dalam kesempatan itu, salah seorang mahasiswa Pasca Ilmu Komunikasi, Wiztian Yoetri menyarankan, agar Nagari Pariangan memiliki tampilan visual yang memajang lokasi objek wisata yang dibanggakan Pariangan. Sehingga, saat pengunjung datang, pihak Nagari tidak perlu repot-repot lagi memaparkan Pariangan itu seperti apa.

"Saya rasa, dokumentasi potensi Nagari yang dikemas dalam tampilan audio visual, akan lebih menarik pengunjung," katanya.

Begitu juga saran yang disampaikan Ketua Jurusan Pasca Ilmu Komunikasi Unand, Ernita Arif. Menurutnya, Pariangan yang telah dapat branding indah di mata wisatawan, mesti meningkatkan fasilitas kenyamanan.

"Paling itu, juga harus ada papan informasi. Sehingga, masyarakat tidak bingung dan meraba-raba kemana hendak berkunjung di seputar Pariangan," katanya.

Dosen Ilmu Komunikasi lainnya, Rona Ningrum turut menambahkan. Baginya, pihak Nagari harus mampu menyiapkan masyarakat siap menerima kemajuan. Apalagi, mereka datang berwisata. Lalu, juga memberikan kontribusi baik terhadap perekonomian masyarakat sekitar.

"Jangan sampai, pengunjung datang hanya karena penasaran. Setelah itu, tidak lagi mau balik melihat Pariangan," katanya.

Dosen Pasca Ilmu Komunikasi lainnya, Sarmiati menilai, apa yang telah dilakukan Nagari Pariangan adalah bentuk kepedulian terhadap pelestarian nilai-nilai budaya Minangkabau yang ada di Nagari Pariangan.

"Merawat budaya adalah cara terbaik mempertahankan kearifan lokal yang kelak diwariskan pada generasi muda. Sehingga, sampai kapanpun, nilai budaya akan terus hidup dari generasi ke generasi," tambahnya. (SSC/Rel)

BACA JUGA