Senin, 14/05/2018 11:15 WIB

Warga Nagari Timpeh Unjuk Rasa ke Kantor Grup Incasi Raya di Padang

TUNTUT PENGEMBALIAN LAHAN ULAYAT

Lebih kurang 200-an massa yang mengaku pemilik lahan ulayat dari Nagari Timpeh Dharmasraya melakukan aksi unjuk rasa di depan Kantor Grup Incasi Raya Jalan Diponegoro Padang, Senin (14/5/2018).

Lebih kurang 200-an massa yang mengaku pemilik lahan ulayat dari Nagari Timpeh Dharmasraya melakukan aksi unjuk rasa di depan Kantor Grup Incasi Raya Jalan Diponegoro Padang, Senin (14/5/2018).

Padang, sumbarsatu.com--Lebih kurang 200-an massa yang mengaku pemilik lahan ulayat dari Nagari Timpeh Dharmasraya melakukan aksi unjuk rasa di depan Kantor Grup Incasi Raya Jalan Diponegoro Padang, Senin (14/5/2018).

Massa melantunkan takbir berulang-ulang sembari menuntut agar perusahaan kebun sawit terbesar di Sumbar ini mengembalikan lahan kaum yang dikuasai perusahaan ini sejak 1993.

Salah seorang penghulu kaum Ahmad Kosasih Datuak Saiko Dirajo yang ikut berunjuk rasa mengatakan, pada Maret 1993 penghulu kaum Melayu Tangah membuat perjanjian dengan Grup Incasi Raya.

“Pada Maret 1993 kami penghulu kaum Melayu Tangah membuat perjanjian dengan perusahaan itu (Grup Incasi Raya) selama 20 tahun. Perjanjian itu siudah berakhir pada Maret 2013. Kami datang dari Timpeh menuntut penyelesaian dan meminta pengembalian lahan kaum Malayu Tangah karena masanya sudah habis," tegas Ahmad Kosasih Datuak Saiko Dirajo yang diamini Ogut, Korlip Unjuk Rasa ini.    

Aksi damai ini mendapat pengawalan aparat Polri dari Polresta Padang. Kaum Malayu Tangah Nagari Timpeh ini berunjuk rasa karena mereka menilai pihak perusahaan sudah ingkar janji.

Lahan kaum Malayu Tangan yang terletak di di Batang Usau Ketek, Batang Usau Gadang, Batang Lalo, Batang Pagean. Balukau Dalam Timpeh, saat dilakukan perjanjian terletak di Kabupaten Sijunjung. Setelah pemekaran, kini berada dalam wilayah Kabupaten Dharmasraya.

Dijelaskan Ahmad Kosasih Datuak Saiko Dirajo, lahan kaum awalnya dilakukan kesepakatan anak kemenakan suku Melayu Tangah dengan pihak PT Bina Pratama Sakato Jaya untuk ditanam sawit. Selain itu, dalam perjanjuan juga dibangun rumah karyawan dan pabrik. "Semuanya tanpa ganti rugi dan imbalan apapun dati pihak perusahaan. Batas waktu perjanjian atau kesepakatan telah habis pada 5 Maret 2013."

"Maka setelah batas waktu perjanjian itu berakhir, perusahaan harus mengembalikan tanah dan segala sesuatu di atasnya kepada warga pemilik ulayat. Tapi apa, meski sudah berakhir sampai hari ini lahan belum belum dikembalikan kepada kami pemilik lahan,” papar Ogut sembari meneriakkan takbir "Allahu Akbar".

Pihak kaum suku Malayu Tangah setelah berakhirnya perjanjian sudah berkali-kali melakukan pembicaraan dengan pihak Grup Incasi Raya tapi belum menemukan kesepakatan.

“Pembicaraan dengan para pimpinan perusahaan tak menghasilkan apa-apa. Tak ada respons baik dari pihak Incasi Raya. Kami pun melaporkan kasus ini ke Polda Sumbar, yang kini masih dalam proses. Kami berunjuk rasa ke sini agar pihak Incasi Raya bisa bekerja sama," kata Ahmad Kosasih Datuak Saiko Dirajo.

Pihak Grup Incasi Raya hingga kini belum memberikan keterangan resmi sehubungan aksi unju rasa warga Timpeh ini. (SSC)

BACA JUGA