Rinuak Maninjau kini Didatangkan dari Singkarak

-

Jum'at, 23/03/2018 06:54 WIB
Kedai jajanan khas Maninjau milik Helmy, di Gasang

Kedai jajanan khas Maninjau milik Helmy, di Gasang

Agam, sumbarsatu.com--Sejak air Danau Maninjau mengalami pencemaran berat, rinuak, pensi, dan bada kian berkurang populasinya. bahkan rinuak dan pensi nyaris menghilang. Kondisi demikian sangat memukul usaha perajin makanan khas Maninjau.

Kondisi demikian juga dialami Helmi (53), salah seorang pedagang makanan khas Maninjau, seperti disampaikannya, Jumat (23/3/2018), di tempat usahanya di Gasang, nagari Maninjau, kecamatsan Tanjung Raya, Agam.

Menurutnya, untuk kelangsungan usahanya, ia terpaksa mendatangkan rinuak dari Singkarak, dan pensi dari Lubuak Aluang, Padang Pariaman.

Rinuak dibeli dengan harga Rp70.000/Kg, dan pensi Rp7.000/liter. Konsekuensinya, palai rinuak, dengan ukuran lebih kecil d ari biasa, dijual Rp2.500/bungkus. Pensi siap santap juga terpaksa dijual dengan harga jauhlebih mahal dari biasa.

Palai rinuak, dengan bahan baku rinuak dari Singkarak kurang diminati konsumen. Alasan mereka, rasanya jauh berbeda. Rinuak asal Danau Maninjau lebih gurih, manis, dan lezat. Namun, rinuak asal Singkarak lebih tahan disimpan dalam kulkas.

Pensi asal Lubuak Aluang, kulitnya lebih tebal dan keras, dan berwarna kekuningan. Sedangkan pensi dari perairan Danau Maninjau, kulitnya berwarna hitam, dan lebih tipis dan lunak.

Akibat sulitnya mendapatkan bahan baku untukdagangan mereka, banyak pedagang jajanan khusus Maninjau itu menghentikan kegiatan. Ada yang pindah ke Bukittinggi, dengan usaha lain, dan ada pula yang menutup kedainya.

Menurut informasi, setidaknya sudah 6 pedagang yang menutup kedainya, karena kesulitan bahan baku, terutama rinuak, dan pensi.

Untuk bada, masih ada di Danau Maninjau. Hanya jumlahnya yang jauh berkurang, sehingga harga bada melambung tinggi.

Bada segar kini dijual penangkap bada Rp50.000/Kg, biasanya hanya Rp20.000/kg. Bada asap Rp160.000 sampaiRp180.000/Kg.

Helmy mengaku, sejak menghilangnya rinuak, pensi, dan berkurangnya pasokan bada, usahanya menurun drastis. Kini omsetnya tidak sampai 50 persen, dibandingkan sebelum air danau tercemar. (MSM)

BACA JUGA