Berangkat di Jalan Budaya, Selamat Jalan Nadi

Selasa, 20/03/2018 21:19 WIB
nadi 2

nadi 2

Awal 2014, saya, Zelfeni Wimra (Wimo), dan Julnadi (Nadi), pada sore yang agak mendung, terlibat perbincangan yang akrab di sebuah kafe di Jalan Veteran Padang. Masing-masing sudah memesan kopi espresso panas.

Ujung dari pembicaraan itu ialah menyusun program untuk pementasan teater yang disutradarai Nadi. Saya bertanggung jawab untuk pimpinan produksinya, Wimo untuk naskahnya. Pementasan memakai nama Mantagi Institute, sebuah komunitas seni yang baru dibentuk dan direncanakan ini merupakan produksi perdana. Ditargetkan proses produksi selama 6 bulan dan lalu dipentaskan keliling Sumatera Barat.

Waktu berjalan bersama kesibukan masing-masing. Tapi saya sempat beberapa kali berserobok dengan Nadi di beberapa iven budaya dan seni. Suatu kali, Nadi mengatakan ia ingin bergabung dengan surat kabar Harian Padang Ekspres. Dia mau jadi wartawan. Saya ikut mendorongnya menekuni profesi jurnalis ini.

Saat itu yang ada dalam pikiran sekaligus harapan saya, Nadi ini bisa menjadi wartawan budaya yang deks ini sangat langka diselami lebih jauh para jurnalis. Harapan saya sandarkan pada Julnadi karena ia sudah menggeluti seni dan budaya pada Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Teater Imam Bonjol (TIB) Padang di IAIN (kini UIN) Imam Bonjol Padang.

Setamat kuliah, ia melanjutkan kerja kesenian dan proses kreatifnya di Kelompok Studi, Sastra Teater Noktah (KSST Noktah) pimpinan Syuhendri. Tapi, kendati telah tamat kuliah, Nadi juga acap terlibat dalam proses kreatif di UKM TIB jika ada penampilan.

Tak berapa lama setelah mengatakan keinginannya menjadi wartawan kepada saya, pada 2014, ia pun bekerja di Harian Padang Ekspres. Sebagai reporter baru, ia banyak menulis berita-berita umum dan juga beberapa peristiwa budaya. Membaca dan mengikuti semangatnya, saya pribadi menaruh harapan bahwa Nadi kelak akan mendalami dengan spesifikasi sebagai wartawan budaya. Desk ini memang terbilang langka diterjuni wartawan di media-media yang terbit di Sumatera Barat.

Dalam perjalanan waktu, tentu saja kesibukan kerja masing-masing, membuat kami jarang tatap muka. Apa yang kami rencanakan untuk sebuah proyek pementasan teater, ternyata hanya tinggal dalam angan-angan. Panggung teater dengan sutradara Julnadi produksi Mantagi Institut tak pernah terealisasi. Proyek kami hanya isapan jempol.

Harapan yang pernah saya sandarkan, bahwa potensi yang ada dalam diri Nadi sebagai jurnalis budaya dan seni, tak mengecewakan. Di blog pribadinya, https://jinderapura.blogspot.co.id, saya melihat Julnadi menjawab apa yang pernah saya sandarkan kepadanya. Ia banyak menulis reportase budaya di blog itu dengan gaya tulisan feature. Dugaan saya, tulisan di blognya itu lebih lengkap ketimbang yang terbit di surat kabar tempat ia berkarier.

Saya bertemu terakhir kali dengan Julnadi saat iven “Silaturahmi Mande Bapuisi, Rekonstruksi 28 dalam Hari Puisi” yang dilaksanakan lintas komunitas di Sumatera Barat di Pulau Cingkuak, Pesisir Selatan, Minggu, 15 Oktober 2017.

Julnadi bersama dengan yunior-yuniornya di UKM TIB tampil dalam format musikaisasi puisi. Dua nomor puisi mereka bawakan. TIB tampil memesona ratusan penonton di benteng peninggalan Portugis itu.

Harian Padang Ekspres menempatkan Jurnadi di Kota Sawahlunto sejak 2016. Di Kota Arang ini ia mereportase aktivitas masyarakat, pemerintah, dan peristiwa-peristiwa budaya. Saat saya berjumpa dengan Nadi, wajahnya cerah, pipinya berisi, rambut tak panjang, terkesan necis walau kadang munculnya juga "nyentrik" senimannya.

Dalam dunia seni pertunjukan di Sumatera Barat, terutama teater, sependek yang saya simak, Julnadi merupakan salah seorang aktor yang tergolong kuat dan berkarakter. Selain daya ucapnya yang jelas dan artikulatif, tubuhnya pun punya kekuatan, daya, dan mampu "berbahasa".

"Tubuhnya lentur, berdaya, dan mampu berbahasa. Ia aktor yang kuat dan berkarakter. Teater Sumatera Barat kehilangan seorang aktor berwatak," kata Yusrizal KW, pengamat seni pertunjukan.

Jenazah Julnadi sat akan dibawa ke kampung halamannya di Indrapuro

Lalu, lidah saya kelu ketika mendapat kabar wartawan Padang Ekspres bernama Julnadi meninggal dunia karena kecelakaan lalu lintas di kawasan Lubuak Salasih, jalur lintas Solok-Padang, Minggu 20 Maret 2018, pukul 11.30.

Kabar ini menyebar luas. Di "dinding" Facebook Julnadi Inderapura, begitu nama akunnya, ucapan duka membanjiri linimasanya.

“Telah berpulang ke rahmatullah, Julnadi, wartawan Padang Ekspres yang bertugas di Sawahlunto dalam insiden kecelakaan di dekat Jembatan Timbang, Lubuak Salasiah, Kabupaten Solok,” kata Heri Sugiarto, Pemimpin Redaksi Padang Ekspres ketika saya mengkonfirmasi.

Informasi yang diperoleh, kecelakaan yang merenggut nyawa Julnadi karena sepeda motor Honda Beat BA 3759 GW dari Padang menuju Kota Sawahlunto tergelincir yang saat itu kondisi jalan basah akibat hujan.

Di saat tergelincir itu, sebuah truk Fuso bermuatan bata bara dengan nomor polisi BA 8915 OU yang datang dari arah berlawanan, melindas tubuh Julnadi. Ia pun langsung meninggal dunia di tempat kejadian.

Kepergian Julnadi menyentakkan berbagai pihak, rekan, dan sahabatnya, baik di kampus UNI Imam Bonjol maupun kalangan wartawan, seniman dan budayawan.

Jhony Abdul Kasir, wartawan klikpositif.com, rekan Julnadi, yang baru mengakhiri masa lajangnya, seakan tak percaya meneri kabar duka itu.

"Rasa tak percaya saya mendapat kabar ini. Sabtu 17 Maret 2018, kami masih tertawa bersama dalam resepsi pernikahan saya. Minggu pagi kami masih makan bersama sebelum berangkat ke Padang. Malamnya di Padang masih duduk bersama di rumah kami Teater Iman Bonjol. Innalillahi wa Innailaihi rojiun. Selamat jalan bg Julnadi Inderapura, dari tahun 2009 kita bersama," kata Jhony.

Yeni Purnama Sari, rekan Julnadi di TIB yang sering tampil bersama dalam pementasan musikasasi puisi menulis di Facebook, "Mainkanlah rababmu, tuan! Panggung sudah dipersiapkan di tengah halaman." Tapi, lelaki itu hanya duduk di sudut beranda. Sendiri menatap rinai membasahi malam. Larut gigil dalam sendu irama rababnya sendiri." Rumah berduka, 20 Maret 2018.

Kiki Julnasri, wartawan media daring yang bertugas wilayah Pessel, mengaku merasa kehilangan sosok wartawan yang ramah. "Saya liputan bersama di Kota Padang beberapa tahun lalu. Saya banyak belajar dari Bang Jul," katanya dengan mata berlinang.

Julnadi lahir tahun 1986 di Indrapuro Pesisir Selatan. Dan dikebumikan di kampung halamannya ini. Ia termasuk mahasiswa yang telat tamat. Jurusannya Jinayah Siyasah (Hukum Pidana dan Tata Negara) Fakultas Syariah, angkatan 2004. 

Saya mengenalnya sebagai sosok yang konsisten dengan sikapnya. Ramah kepada siapa saja dan penyapa. Pengujung 2013, kami bersama kawan-kawan lainnya mengerjakan program Rumah Budaya Nusantara (RBN) Kementarian Pendidikan dan Kebudayaan. Julnadi bertanggung jawab dan menyelesaikan secara baik yang jadi tanggung jawabnya.

"Kita kehilangan teman diskusi dan sekaligus kawan bagarah-garah," kata Osmulyadi, rekan almarhum.

Selamat jalan Bung Nadi. Alfatihah dan insyaallah husnul katimah. (NA/AMIN)

BACA JUGA