RKB Membuka Ruang Baru Sebuah Tradisi Penghargaan Kepenulisan di Sumbar

Jum'at, 23/02/2018 14:59 WIB
Inilah 7 penulis dan sastrawan Sumbar yang dirakayan capaian restasinya dalam

Inilah 7 penulis dan sastrawan Sumbar yang dirakayan capaian restasinya dalam "Apresiasi, Kilas Balik, dan Diskusi Sastra Sumatera Barat," Kamis (22/2/2018) malam di Kubik Koffie Padang.

Padang, sumbarsatu.com--Ruang Kerja Budaya (RKB) optimis bahwa sejarah dan segala potensi, seperti yang ditunjukkan oleh nama-nama yang dirayakan dan diapresiasi malam ini membuktikan sebenarnya Sumatera Barat memiliki sastra yang luar biasa.

Para penulis dan sastrawan di Sumatera Barat tetap mampu mengisi ruang sastra Indonesia secara nasional. Sebuah kondisi yang sejak awal mulainya sastra Indonesia, dan bahkan sastra daerah, tidak tergoyahkan.

Potensi dan kekayaan sosial budaya, pendidikan, ekonomi, filosofi, dan daya juang dalam dunia intelektual adalah kekuatan yang turut mendukungnya. Namun, tentu saja, diperlukan strategi untuk mengelola dan memanfaatkannya.

Demikian dikatakan Sudarmoko, Direktur Ruang Kerja Budaya (RKB) saat acara syukuran dalam "Apresiasi, Kilas Balik, dan Diskusi Sastra Sumatera Barat," terhadap 7 sastrawan dan penulis Sumbar yang meraih capaian prestasi positif, Kamis (22/2/2018) malam di Kubik Koffie Padang.

Kegiatan serupa yang telah lama tak dilakukan di Sumatera Barat ini dihadiri Darman Moenir, Syarifuddin Arifin, Yetti AKA, Boy Candra, Hernawan, Yeyen Kiram, Iyut Fitra, Asril Koto, Edy Utama, Lindawati, Endut Ahadiat, Irman Syah, Y. Thendra BP, dan pera penulis muda serta pegiat seni dari berbagai komunitas di Sumatera Barat.

Kegiatan malam apresiasi dan syukuran itu, redaktur senior ruang Budaya dan Sastra surat kabar Padang Ekspres Yusrizal KW, juga memberi catatan reflektif terhadap capaian-para sastrawan dan penulis Sumetara Barat dalam rentang 12 tahun posisinya sebagai penjaga rubrik tersebut.

Sementara Zurmailis, pengajar Fakultas Ilmu Budaya Unand yang baru menyelesaikan program doktoralnya di UGM, membentangkan catatan kritisnya terkait pemberian anugerah sastra dan budaya oleh lembaga-lembaga yang mengaku nonprofit, tapi ada sistem dan konstruksi yang sedang bekerja di balik itu.

RKB yang selama ini menaruh perhatian pada pencatatan peristiwa-peristiwa kebudayaan, merayakan dan mensyukuri atas kerja kepenulisan kepada 7 sastrawan Sumatera Barat dalam rentang dua tahun terakhir.

"Kehadiran kita di sini untuk mengapresiasi dan mensyukuri pencapaian mereka semoga menunjukkan bahwa kita ikut merasa senang dan bangga. Ini juga memotivasi diri kita masing-masing untuk tetap terus berkarya, menjaga silaturahmi, memberikan kritik dan masukan, mencari peluang dan pelajaran atas pencapaian orang lain, dan mengusahakan kondisi yang lebih baik bagi sastra di Sumatera Barat," kata Sudarmoko.

Lebih jauh Sudarmoko, yang sedang menyelesaikan doktoralnya di Universitas Leiden Belanda ini, mengatakan, penghargaan yang diadakan saat ini sebenarnya hanyalah menumpang kebahagiaan kepada mereka.

"Karena bagaimanapun juga, proses kreatif kepenulisan, dalam beberapa hal, adalah proses personal. Keberhasilan para penulis adalah hasil dan pengakuan atas proses itu.
Secara kolektif dan komunal, kita menjadi bagian dari proses itu, dengan turut memberikan ruang yang kondusif bagi proses yang berlangsung.

Dengan pemikiran ini, sastra dan proses kreatif itu bukan berasal, hadir, dan berada dalam ruang kosong dan hampa. Ada interaksi sosial di dalamnya. Ada kerja saling ambil dan beri manfaat antara penulis dan lingkungannya. Ada kompetisi yang mungkin tidak disadari. Ada dukungan sosial budaya yang turut serta membentuk dan mempengaruhi capaian estetika para penulis.

Dalam aspek yang lain, Yusrizal KW memandang, perkembangan kepenulisan dan sastra di Sumatera Barat, berkolerasi dengan komitmen dan integritas pengasuh rubrik sastra dan budaya di surat-surat kabar yang terbit di Padang.

"Saya meyakini, kontribusi ruang sastra dan budaya yang hadir setiap Minggu di surat-surat kabar seperti Padang Ekspres, Haluan, Singgalang, dan media lainnya memberi arti penting bagi proses dan capaian seorang penulis. Dua belas tahun saya mengasuh rubrik itu di Harian Padang Ekspres, saya punya pengalaman, jika karya seseorang pemula dimuat di riubrik tersebut, maka selanjutnya ia tumbuh percaya dirinya mengirimkan karya ke media nasional. Dan itu biasanya dimuat," papar cerpenis ini.

Zurmailis, yang sebagian besar membentangkan hasil penelitian untuk disertasinya, mengkritisi soal pemberian anugerah dan penghargaan kepada pelaku sastra, yang ia nilai layak dikaji lebih dalam.

Malam "Apresiasi, Kilas Balik, dan Diskusi Sastra Sumatera Barat" yang dipandu Esha Tegar Putra ini, berjalan santai namun serius. Kendati suasana ruangan yang panas tak mengurangi semangat kelompok musik Sapu Tangan Merah meluncurkan lagu-lagunya di antara seduhan kopi panas para penikmat.

Edy Utama, budayawan dan Direktur Artistik Talago Buni menyebutkan, kegiatan "Apresiasi, Kilas Balik, dan Diskusi Sastra Sumatera Barat" yang digagas Ruang Kerja Budaya ini cukup menarik karena dilaksanakan di luar desain kekuasaan dan birokrasi kebudayaan.

"Menurut saya apa yang dilakukan RKB ini pantas kita apresiasi karena ini kegiatan yang mandiri dan independen ini sukses tanpa campur tangan birokrasi kebudayaan dan kekuasaan. Ini peristiwa budaya yang konkret dan jelas. Bisa jadi ini juga dimaknai sebagai bentuk resistensi terhadap birokrasi kebudayaan," kata Edy Utama.

Berikut 7 sastrawan dan penulis yang diapresiasi RKB, sekaligus syukuran itu:

  1. Deddy Arsya, bukunya Penyair Revolusioner, kumpulan puisi terbitan Grasindo (Kolompok Kompas-Gramedia) nomine Kusala Sastra Khatulistiwa (KSK) pada tahun 2017.
  2. Heru Joni Putra, bukunya Badrul Mustafa, Badrul Mustafa, Badrul Mustafa, kumpulan puisi yang diterbitkan Penerbit Nuansa Cendekia (2017). Buku ini meraih nomine KSK pada tahun 2017 dalam dua kategori
  3. Fatris M. Faiz yang memperoleh penghargaan untuk karya foto jurnalistiknya, Retorika Toba: Catatan Perjalanan dari Kementerian Pariwisata.
  4. Muhaimin Nurrizqy, tulisan kritik film berjudul Ketidakberpihakan Kamera dalam Film Turah memenangkan lomba penulisan kritik film Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
  5. Muhammad Ibrahim Ilyas, buku drama Dalam Tubuh Waktu yang mendapat hadiah sastra untuk naskah drama dari Badan Bahasa Kemendikbud pada 2017
  6. Pinto Anugrah, naskah dramanya Sarekat Djin menang lomba penulisan yang dilaksanakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
  7. Rusli Marzuki Saria, yang mendapatkan hadiah sastra dari Badan Bahasa Kemendikbud pada 2017 dan buku puisi One By One Line By Line yang diterbitkan Kabarita memperoleh SEA Write Award 2017 dari Kerajaan Thailand. (SSC)

BACA JUGA