Soal Konflik Penambangan Dipentaskan di Galeri Indonesia Kaya

Rabu, 21/02/2018 11:58 WIB
Pertunjukan

Pertunjukan "Baromban dan Mitos Tambang", sebuah karya kolaborasi teater, musik, tari, dan instalasi rupa yang disutradarai Wendy HS, ditampilkan di Gedung Pertunjukan Hoerijah Adam ISI Padang Panjang, Senin (19/2/2018).

Padang Panjang, sumbarsatu.com--Pertunjukan "Baromban dan Mitos Tambang", sebuah karya kolaborasi teater, musik, tari, dan instalasi rupa yang disutradarai Wendy HS, ditampilkan di Gedung Pertunjukan Hoerijah Adam ISI Padang Panjang, Senin (19/2/2018).

Penampilan ini satu tahapan menjelang pertunjukan di Galeri Indonesia Kaya (GIK) 11 Maret 2018 mendatang.

Pementasan disaksikan para kurator program Bhakti Budaya Djarum Foundation yang terdiri dari Nano Riantiarno, Ratna Riantiarno, Garin Nugroho, Butet Kertaradjasa, Jeannie Park, dan Vita (Koordinator Ruang Seni Pertunjukkan Indonesia).

Pertunjukan "Baromban dan Mitos Tambang" merupakan salah bentuk program hibah Bhakti Budaya Djarum Foundation, yang rencananya dipentaskan di Galeri Indonesia Kaya pada 11 Maret 2018. Indonesian Performance Syndicate (IPS) Padang Panjang, yang memproduksi "Baromban dan Mitos Tambang" ialah salah satu komunitas seni peraih hibah Bhakti Budaya Yayasan Djarum.

Kehadiran para kurator dan mentor menyaksikan proses kreatif "Baromban dan Mitos Tambang" merupakan salah satu upaya untuk mencapai kemaksimalan karya. Kedatangan mereka kali ini lebih lengkap ketimbang dari sebelumnya.

Menurut Wendy HS, sebelumnya karya yang dipentaskan hanya pada bagian pertama dari tiga bagian.

"Pementasan kali ini sudah mencapai tiga bagian. Ini artinya sudah keseluruhan dari karya "Baromban dan Mitos Tambang" dipentaskan. Pertunjukan ini menerapkan banyak disiplin seni dan dijadikan satu karya kolaborasi," terang Wendy HS saat memprentasikan "Baromban dan Mitos Tambang" di depan para kurator dan mentor usai pementasan.

Pertunjukan yang telah berhasil mencapai semua bagian, Nano Riantiarno, dramawan, mengaku terkesan dengan "Baromban dan Mitos Tambang".

"Saya terkesan dengan koreografi dan imajinasi yang hadir di atas panggung. Selain itu, kreativitas menciptakan bentuk lain dari properti yang dimiliki juga menarik, seperti mengubah pipa menjadi rakit. Saya kira masih banyak potensi yang bisa digali dari properti panggung itu," kata Nano.

Sementara Garin Nugroho, menilai, empat elemen yang dikolaborasikan, yakni musik, tari, teater, dan instalasi rupa berpeluang dieksplorasi lebih dalam dan jauh sehingga membuka kemungkinan baru dan memunculkan simbol-simbol yang baru juga," papar Garin yang juga seorang sutradara film ini.

Di luar soal artistik, saat evaluasi terakhir proses "Baromban dan Mitor Tambang", satu hal yang sangat penting diperhatikan dari tim IPS ialah kontruksi panggung di Galeri Indonesia Kaya (GIK).

"Tim IPS harus mempertimbangkan luas panggung dan ruang di gedung Galeri Indonesia Kaya. IPS diharapkan mampu menyiasati dan mengadopsi panggung di GIK. Selain itu juga perlu mempelajari , karakter penonton yang rata-rata anak muda urban perkotaaan, tentu saja juga seniman-seniman berbagai bidang," kata Jeannie Park.

Maka, Jeannie Park menyarankan agar IPS menyediakan media informasi yang detil dan lengkap terkait pertunjukan ini agar komunikasi dengan penonton seimbang.

Konsep Total Laku Akting.

Pertunjukan "Baromban dan Mitos Tambang" terinspirasi dari puisi karya Iyut Fitra "Baromban" dan dikembangkan lagi dari buku "Mitos Pertambangan" dengan tafsir dari tiga disiplin seni yang berbeda. Kisahnya tentang penambang pasir yang di kawasan Kabupaten Limapuluh Kota. Namun, dalam pementasan ini, pemaknaan baromban lebih luas dan umum yang intinya konflik pertambangan.

"Baromban dan Mitos Tambang" dimainkan tiga laku pria yang dilengkapi dengan properti yang multifungsi dan dimensi. Pipa dan paralon merupakan properti utama dari pertunjukan ini. Properti bisa menjadi alat musik, sampan, gedung bangunan, dan lainnya.

Tiga laku yang terdiri dari Wendy HS (teater), Emri Rangkayo Mulia (koreografer) dan Leva Khudri Balti (komposer) mengawali "Baromban dan Mitor Tambang" dengan mengusung paralon sepanjang 2 meteran, yang difungsikan juga sebagaui alat musik. Suara yang ditimbulkan mirip sampelong, musik tradisi tiup di Limapuluh Kota. Masing-masing menyeret pipa ukuran paralon dengan eksplorasi tubuh dan bebunyian.

Selain pipa paralon, ada juga digunakan pipa ukuran kecil yang dipungsikan sebagai tongkat pengayuh sampan, dan lain sebagainya.

Wendy HS menyebutkan, proses garapannya kali ini berangkat dari konsep metode total laku akting dalam proses kreatif "Baromban dan Mitos Tambang". Konsep ini tidak lagi membedakan latar seni yang melekat. Semua disiplin seni melebur dan menotalkan dirinya menjadi satu pertunjukan.

"Konsepnya tetap berpijak ada metode total laku akting. Pelaku adalah dirinya sendiri dengan tafsir masing-masing terhadap tema pertunjukan ini. Jadi pementasan ini tak bisa disebut teater, musik, atau tari. "Baromban dan Mitos Tambang" itu ialah pertunjukan. Itu saja," ujar Wendy HS.

Terkait problem yang diangkat, Wendy HS mengatakan, banyak tambang di Sumatera Barat ini tapi tidak memberikan manfaat bagi rakyat sekitar. Dan ini juga terjadi di setiap kawasan pertambangan yang ada di Indonesia, di antaranya di Freeport. (SSC)

BACA JUGA