Buku Kumpulan Cerpen "Kupu-Kupu Banda Mua" Diluncurkan

-

Rabu, 14/02/2018 17:30 WIB

Padang, sumbarsatu.com—Persoalan sosio-kultural Minangkabau masih menarik bagi penulis dari Sumbar untuk menguliknya dalam karya. Seperti halnya Kupu-Kupu Banda Mua  kumpulan cerpen Elly Delfia. Pembacaan sederhana terhadap buku kedua Defi (begitu Elly Delfia disapa) ini menyimpulkan, dia sosok pendengar dan pengamat yang baik terhadap lingkungan sekitarnya.

Elly Delfia, salah seorang penulis perempuan dari Sumbar yang telah menerbitkan beberapa kumpulan cerpen. Lahir di Lubuk Napa, Pariaman, 25 Juli 1983, Defi sekarang bekerja sebagai pengajar di Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Unand. Sejak 2015 bertugas sebagai dosen tamu di Busan University of Foreign Studies (BUFS) di Busan, Korea Selatan.

Buku Kupu-Kupu Banda Mua yang diterbitkan Kabarita (Desember 2017) diluncurkan dan dibedah di Ruang Seminar Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Unand, Rabu (14/2). Bedah buku ini menghadirkan 4 pembicara, yaitu, Esha Tegar Putra (Penyair), Zelfeni Wimra (Penyair dan Cerpenis), Ronidin (akademisi) dan Maya Lestari GF (Penulis Novel), yang dimoderatori oleh Donny Eros.

Esha menyebut relasi kampung dan kota menjadi konteks penting dalam prosa Elly Delfia. Hampir sebagian besar dari prosa dalam Kupu-Kupu Banda Mua berbicara mengenai bagaimana kampung begitu suram dan penuh kesakitan. Sementara kota dipandang sebagai ruang pencerahan.

“Kota menjadi perwakilan modernitas, sementara kampung menjadi ruang di mana tradisi harus dijaga dengan tertib. Mereka yang menginginkan pembebasan dan pencerahan harus beranjak dari kampung,” paparnya.

Ia mencontohkan bagaimana relasi ini bersentuhan dalam dua prosa, Arik dan Kupu-Kupu Banda Mua. Pembahasan terhadap dua prosa tersebut sebagai salah satu alternatif pembacaan yang dapat dilakukan terhadap kumpulan prosa Defi ini.

Sementara itu, Zelfeni Wimra memaparkan isu-isu keperempuanan dalam Kupu-Kupu Banda Mua. Menurut Wimo, sebagai akademisi sastra, Defi tampak sangat mengerti akan rumusan konseptual dan prinsip ideologis dalam berkarya sastra.

“Dalam pembacaan saya, pengarang ini berhasil memainkan strategi retorisnya. Tidak saja mampu menghindari tabiat menggurui, tetapi juga lebih kreatif memoles tragedi jadi komedi. Kreativitas ini diimbuh pula dengan sentuhan spiritual,” ulasnya.

Singkatnya, kata Wimo, isu Kupu-Kupu Banda Mua tidak beralih dari isu-isu keperempuanan, khususnya di Minangkabau. Sekalipun enam cerita berkolofon di Busan, tapi isunya tidak bisa terlepas dari tarikan budaya matrilinial Minangkabau.

Pembicara berikutnya, Maya Lestari, membaca Kupu-Kupu Banda Mua sebagai kegelisahan Elly Delfia. Menurutnya, sebuah kewajaran jika Defi mengangkat isu-isu perempuan yang dekat dengan dirinya sebagai perempuan. Namun, isu dalam sebagian besar cerpen Defi adalah isu umum yang juga bisa menimpa tokoh laki-laki. Benang merah seluruh cerpen dalam buku ini adalah kegamangan dalam berbagai bentuknya.

“Kupu-Kupu Banda Mua menegaskan posisi Defi sebagai penulis dengan akar Minang yang kuat. Bukan hanya ditandai dengan pemilihan topik yang Minang banget seperti matrilinial, harta pusaka, mitos dan pandangan hidup, tapi juga pemilihan diksi yang sangat Minang. Kegelisahan-kegelisahan dalam ceritanya dituturkan dengan sangat puitis. Selamat untuk Defi. Ditunggu karya-karya berikutnya,” ujar Maya.

Ronidin melihat hampir semua tokoh dalam kumpulan cerpen Elly Delfia ini diciptakan sebagai perempuan yang menentang arus. Jika laki-laki didewasakan oleh proses yang terjadi di rantau, perempuan juga harus demikian.

“Seperti kepompong yang ketika bermetamorfosis memendam impian untuk bisa terbang jauh, maka ketika menjadi kupu-kupu ia harus terbang mengejar impian itu,” ujarnya. (SSC)    

BACA JUGA