Sukri Dance Theatre Pentaskan “The Margin of Our Land” Tentang Konflik Tanah Ulayat

DAPATKAN TIKETNYA SEBELUM HABIS

Senin, 05/02/2018 05:40 WIB
Pertunjukan The Margin of Our Land di Pekanbaru beberapa waktu lalu

Pertunjukan The Margin of Our Land di Pekanbaru beberapa waktu lalu

Padang, sumbarsatu---“The Margin of Our Land”, sebuah karya tari-teater kontemporer akan dipentaskan di Teater Utama Taman Budaya Sumatera Barat, Padang, selama 2 hari, Jumat-Sabtu, 9-10 Februari 2018. Pertunjukan dimulai pukul 20.00.

Tari-teater “The Margin of Our Land” merupakan hasil kolaborasi berbagai disiplin seni yang berbasis penelitian, penciptaan, dan penyajian seni yang menceritakan tentang tanah pusaka (ulayat) atau ganggam bauntuak di Nagari Kapalo Hilalang, Padang Pariaman.

“Penciptaan seni yang berbentuk tari-teater berangkat dari kondisi sosial budaya Minangkabau tentang tanah ulayat atau ganggam bauntuak yang sepanjang sejarahnya selalu bermasalah, terutama jika terkait dengan upaya ekonomi atas nama investasi. Kami menyajikannya dalam bentuk pertunjukan seni di atas panggung dengan mengelaborasikan tari-teater-musik. Karya ini berangkat dari riset dan penelitian,” kata Ali Sukri, koreagrafi
“The Margin of Our Land”, Senin (5/2/2018), saat latihan pematangan di Padang Panjang.   

Menurut Ali Sukri, dasar penciptaan seni yang berbentuk tari-teater ini mencoba memaksimalkan potensi seni tradisi Minangkabau yang diolah menjadi bentuk kekinian (modern dan kontemporer).

"Dalam tari-teater “The Margin of Our Land” merepresentasikan karya seni kontemporer dengan basis idiom garak-garik dan simbol dalam seni tradisi dan musik Minang dengan tafsir dan pemahaman dalam konteks kekinian. Titik inspirasi “The Margin of Our Land” ialah tradisi silek tuo Minang dan seni ulu ambek yang hidup di Padang Pariaman hingga kini,” kata Ali Sukri.

Terkait dengan teater dan keaktoran laku pemain, menurut Kurniasih Zaitun atau Tintun, “The Margin of Our Land” mengangkat konflik klasik yang  kerap terjadi di ranah Minang, yaitu soal tanah ulayat (ganggam bauntuak). Laku aktor (teater), menekankan pada representasi tubuh para pemain dan properti yang diusung ke atas pentas.

"Kekuatan utamanya pada tubuh dan properti multifungsi yang dimainkan aktor di atas pentas. Laku tubuh aktor bersinergi dengan komposisi koreografi. Ini sebuah karya tari-teater kontemporer dengan basis riset yang mendalam," kata Tintun.  

“The Margin of Our Land” mengisahkan orang Minang yang tak bisa dipisahkan dengan tanah ulayat, yang meripakan harga diri kaum (suku). Pemain dalam laku ini merepresentasikan setiap karakter dan konflik yang menelikungnya dengan pemahaman yang kuat,” jelas Tintun.

Bundo kanduang sebagai benteng terakhir pemilik tanah ulayat di Minang, berada pada posisi dilematis. Konflik-konflik yang menelikung itu dinarasikan dalam garak-garik tubuh penari, diliriskan aktor teater dengan karakter yang kuat, dan musik yang dibangun sebagai penguat suasana pertunjukan,” tambah perempuan sutradara ini.

Sahrul N, Ketua Peneliti dari program ini mengatakan, “The Margin of Our Land” merupakan satu karya dari trilogi karya seni tari-teater dengan masing-masing tema berbeda tapi tetap dalam kerangka problem tanah dan penghuninya.

"The Margin of Our Land” satu episode pertama dari tiga rangkaian (trilogi)  dengan tema tanah ulayat. Episode kedua mengangkat soal reklamasi, dan ketiga tentang garis batas Negara Kesatuan Republik Indonesia," kata Sahrul N, yang menyelesaikan doktornya di ISI Solo ini.

Pada musik, kata komposer Elizar, musik tradisi Minang, sebagai pendukung utama “The Margin of Our Land” diberi makna baru dengan memadukan teknologi saat ini.

"Musik yang dimunculkan bukan nada-nada yang manis dan tertata, tapi penekanannya lebih kepada musik eksperimentatif," kata sosok ramah yang akrab disapa Aku ini.

Kolaborasi Antarkomunitas

Selain koborasi dalam proses kreatif, pertunjukan yang digelar persis di puncak peringatan Hari Pers Nasional 2018 ini, juga terselenggara berkat sinergi dan kolaborasi antarkomunitas di Padang dan Padang Panjang.

"Penyelenggaraan pementasan "The Margin of Our Land” merupakan hasil dari kerja sama dan kolaborasi antarkomunitas seni. Komunitas itu ialah Komunitas Seni Nan Tumpah Padang Pariaman, Komunitas Seni Hitam-Putih Padang Panjang, Sukri Dance Theater, dan AKSI-Padang. Masing-masing komunitas bekerja sesuai fungsi dan tanggung jawab sesuai pembagian kerja. Ini mungkin yang pertama dilakukan di Sumbar," kata Nasrul Azwar, penanggung jawab produksi dari Aliansi Komunitas Seni Indonesia (AKSI).

Sementara itu, untuk tata kelola dan manajemen  penonton serta publikasi dalam penyelenggaraan pementasan "The Margin of Our Land” ditangani khusus dari Manajemen Komunitas Seni Nan Tumpah Padang Pariaman yang berpengalaman dalam berbagai kegiatan pementasan.

"Untuk manajemen dan tata kelola penonton dan publikasi khusus ditangani Komunitas Seni Nan Tumpah yang selama ini berpengalaman bidang ini karena beberapa kali selenggarakan iven pertunjukan seni berjalan sukses. Komunitas ini punya penonton yang solid," tambah Yunisa Dwiranda, Pimpinan Komunitas Seni Nan Tumpah.  

Selain kolaborasi antarkomunitas itu, tambah perempuan yang akrab disapa Ica ini, penyelenggaraan pementasan tari-teater "The Margin of Our Land” juga didukung Dinas Kebudayaan Sumbar dan Taman Budaya Sumatera Barat, serta berbagai pihak yang ikut berkontribusi.
    
Sinopsis “The Margin of Our Land”

Sekelompok kaum pemilik tanah ulayat pusaka tinggi (ganggam bauntuak) tersingkir dari lahan yang sudah mereka huni sejak beratus tahun silam secara turun-temurun. Tanah ulayat kaum itu dikuasa paksa dengan dalih hukum formal  untuk pembangunan, yang membuat mereka tak berkutik saat tanah yang memberi mereka kehidupan itu, dikapling dengan garis polisi dan dijaga ketat militer.

Konflik pun tak terelakkan. Semua kaum itu, dari tua-muda, ninik mamak, hingga bundo kanduang, melakukan perlawanan mempertahankan hak milik mereka. Puncak perlawanan itu, bundo kanduang membuang harga dirinya dengan mengakhir hidupnya secara tragis.

"Dapatkan tiketnya karena jelang jadwal pertunjukan permintaan tiket cukup tinggi. Jangan sampai tak menyaksikan peristiwa budaya dan seni ini.

Tiket bisa dipesan lewat narahubung Windy dan Ica di nomor 081364399473-082385388859. (SSC)

BACA JUGA