Pameran Seni Rupa Dibuka Gubernur, Pelaku Ekonomi Kreatif Baju Kaos Kecewa

RANGKAIAN HARI PERS NASIONAL 2018

Jum'at, 02/02/2018 09:27 WIB
Para pelaku ekonomi kreatif baju kaos berbasis bahasa Minang yang tergabung dalam Mujilih Baju Kauih Sumbar. Mereka kecewa karena para pejabat tak singgah ke lapak mereka

Para pelaku ekonomi kreatif baju kaos berbasis bahasa Minang yang tergabung dalam Mujilih Baju Kauih Sumbar. Mereka kecewa karena para pejabat tak singgah ke lapak mereka

Padang, sumbarsatu.com--Tendangan pertama perayaan Hari Pers Nasional 2018 diawali dengan pembukaan pameran seni rupa industri kreatif dan bentangan lapak baju kaos dengan motif bahasa Minang di Kawasan Taman Budaya Sumatera Barat, Kamis (1/2/2018).
 
Pameran dibuka secara Gubernur Sumatera Barat Irwan Prayitno dihadiri Hilmar Farid, Direktur Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Taufik Effendi, Kepala Dinas Kebudayaan Sumbar, Heranof Firdaus, Ketua PWI Cabang Sumbar, seniman dan budayawan, serta masyarakat umum.

Pembukaan ditandai dengan pemukulan gendang tambua secara serempak. Sementara para pelaku industri kreatif baju kaos berbasis bahasa Minang gigit jari menyaksikan seremonial pembukaan yang hanya tiga tombak dari lokasi buka lapak.  

Pameran Seni Rupa Industri Kreatif dalam Perspektif Seni Rupa Industri Kreatif memamerkan sebanyak 42 karya seni rupa dan industri kreatif yang terdiri dari lukisan, patung, batik, patung, dan lainnya.

"Saya atas nama Pemerintah Provinsi Sumatrera Barat mengapresiasi dan menyambut baik kegiatan pameran dalam rangka memeriahkan peringatan Hari Pers Nasional tahun 2018. Minangkabau atau Sumatera Barat tak pernah kering melahirkan seniman, pemikir seni, dan karya-karya yang bernas demi kemajuan bangsa ini," kata Irwan Prayitno.

Menurutnya, Sumatera Barat sebagai tuan rumah HPN 2018 merupakan momen pertaruhan harga diri dan kerja keras untuk menggali lebih luas potensi budaya, pariwisata, dan ekonomi Sumatera Barat.

"Maka sudah saatnya, lewat Dinas Kebudayaan yang kini secara bertahap terus membangun infrastruktur di kawasan Taman Budaya Sumatera Barat. Maka, tugas Dinas Kebudayaan merangkul semua seniman, budayawan, dan pelaku seni, serta mitra untuk mengembangkan kebudayaan dan kesenian, tentu saja terus menjaga marwah ABSBK," kata Irwan Prayitno yang pidatonya diselingi dengan pantun-pantun.   
     
Sementara itu, Hilmar Farid menegaskan tantang posisi strategis Sumatera Barat dalam capaian-capaian puncak kebudayaan dan kesenian.

"Posisi strategis di pintu gerbang Sumatera ini, menempatkan Sumbar layak diperhitungkan dalam berbagai kerangka luas pemajuan kebudayaan. Infrastruktur yang sudah cukup memadai dengan hadirnya gedung baru di Taman Budaya Sumbar ini. Untuk perlu pula strategi khusus untuk menyusun peta jalan kebudayaan Minangkabau," ujar Hilmar.

Hilmar menyebutkan, diperlukan upaya bersama untuk memajukan dan mengenalkan potensi kebudayaan itu secara luas. Pemerintah juga terus melakukan upaya untuk memajukan seni dan kebudayaan.

Mujilih Baju Kauih Sumbar Kecewa

Sementara itu, tak jauh dari Galeri Taman Budaya Sumatera Barat tempat digelarnya pameran, lebih kurang 10 tenda para pelaku ekonomi kreatif yang menamakan dirinya "Mujilih Kauih Bahaso Minang" juga menggelar produknya. Tapi, saat itu tak dilirik sedikitpun oleh para pejabat agar mereka singgah mengunjungi stand kaos ini.

"Apa salahnya Gubernur Sumatera Barat, Dirjen Kebudayaan, Kepala Dinas Kebudayaan, dan pejabat lainnya itu singgah ke lapak-lapak kaos yang lokasinya cuma lima meter dari acara pembukaan pameran seni rupa itu. Dan ini jelas sangat mengecewakan kami," kata Muhammad Fadli, dari distro kaos bahasa Minang Ajo Wayoik Piaman, tak lama setelah para pejabat itu meninggalkan kawasan Taman Budaya Sumatera Barat.

Menurutnya, melengahnya para petinggi menandakan mereka belum serius memajukan produk berbasis lokal ini.

"Bagaimana para tamu HPN mau datang ke sini untuk membawa cindera mata dari ranah Minang, para pejabat sendiri tak mengapresiasi para pelaku ekonomi kreatif ini," kata Fadli kesal.

"Mujilih Kauih Bahasa Minang" hadir karena keinginan bersama para distro atau pemilik kedai cindera mata untuk melestarikan idiom-idiom, metafora-metafora, dan kiasan-kiasan yang dimiliki budaya Minangkabau. Wujud pelestarian itu dengan memproduksi baju kaos dengan berbagai peruntukan dengan basis bahasa Minang.

Ada puluhan kedai kaos yang berbasis bahasa Minang ini tersebar di Kota Padang, Payakumbuh, Bukittinggi, dan kota-kota lainnya.

Pada perayaan Hari Pers Nasional 2018 ini, para pelaku ekonomi kreatif berharap bisa berkontribusi kesuksesan kegiatan nasional ini. Paling tidak, produk mereka bisa mengenalkan lebih luas kekuatan budaya Minang berupa kaos yang sangat elegan dijadikan sebagai cindera mata peserta HPN 2018 yang datang dari penjuru tanah air. Diperkirakan HPN 2018 akan dihadiri tiga ribuan peserta.

"Maka, sangat mengecewakan sekali jika tak mendapat respons dari para pejabat di Sumatera Barat," tambah Fadli. (NA)

BACA JUGA