Minggu, 28/01/2018 12:23 WIB

Plagiasi, Dakwah, dan Rahasia Perusahaan

-

-

OLEH Muhamad Pauji (Mahasiswa STKIP Al-Bayan, Rangkasbitung, Banten) 

Lucu juga membaca selebaran dakwah yang dibagi-bagikan menjelang salat Jumat, dengan nama “Buletin Dakwah”. Namun di akhir artikel yang cukup provokatif sepanjang empat halaman itu tertulis kata-kata: “Dilarang meng-copy dan menyebarluaskan dalam bentuk apapun, tanpa seizin dari penerbitnya.”

Sambil bergurau saya sempat berbisik kepada salah seorang pembaca artikel di sebelah saya, bukankah tulisan ini bernilai dakwah. Tapi mengapa tidak diperbolehkan bagi siapapun untuk memperbanyak dan menyebarluaskannya. Jika saja buletin itu hanya menyangkut urusan bisnis yang menjaga rahasia perusahaan, dan hanya boleh diketahui oleh komunitas tertentu, barangkali bisa dimaklumi.

Dalam hal ini, kita akan memasuki pembicaraan seputar ramainya isu plagiarisme yang sebenarnya bukanlah sesuatu yang baru bila kita mengurutkan kasus per kasus dari zaman ke zaman. Di masa kejayaan ulama dan pemikir muslim dari Kairo, Mesir, Imam as-Suyuthi (1445-1505 M), ia pernah menyindir beberapa orang yang menjiplak kitab-kitab yang ditulisnya sebagai pihak yang tak bertanggungjawab.

Baginya, suatu perkataan harus dikembalikan kepada yang menisbatkannya (sumber pengucapnya). Sedangkan cendekiawan muslim terkenal, Muhammad as-Sakhawi (1428-1497 M) menekankan pentingnya keberkahan ilmu pengetahuan. Bahwa keberkahan ilmu adalah dengan menisbatkannya kepada si pengucap (“barakatul ilmi azuwuhu ila qa-ilihi”). 

Kedua ulama tersebut sama-sama berkiprah di Kairo Mesir, meski kemudian pada tahun-tahun terakhir mengalami banyak perbedaan pendapat soal penafsiran Alquran dan ilmu-ilmu Fiqih, hingga kemudian as-Sakhawi berhijrah ke Madinah hingga wafatnya.

Dalam soal isu plagiarisme, kedua cendikiawan muslim itu berbeda pandangan dengan ilmuwan dan ulama besar Imam Syafi’i (767-819 M) yang justru lebih progresif dalam menyikapinya. Bagi Imam Syafi’i, ia akan merasa leluasa jika ilmunya menyebar luas ke seluruh dunia, tanpa harus menyebut-nyebut namanya (menisbatkannya). Sikap yang bijak dari Imam Syafi’i ini disambut baik oleh al-Muzani dalam kitabnya yang termasyhur “Al-Mukhtashar”, bahwa Imam Syafi’i telah menunjukkan dirinya sebagai guru teladan yang arif, tawadlu dan rendah-hati.

Sikap yang bijaksana dari seorang penulis ditunjukkan pula oleh kearifan seorang pakar manajemen dan guru besar Universitas Indonesia (UI), Rhenald Kasali, ketika ada tuduhan kepada seorang wanita yang dinilai melakukan plagiasi atas karya-karyanya. Saat itu, justru Pak Rhenald bukan menunjukkan keangkuhan intelektualnya, tetapi mendukung langkah-langkah penulis muda tersebut agar semakin memperbaiki pola dan metodenya dalam menulis artikel yang baik.

Sepanjang kata-kata dalam artikel merupakan pendapat umum, hal itu tak bisa serta-merta dikategorikan sebagai plagiarisme. Misalnya banyak orang mengutip kata-kata Aa Gym, bahwa perubahan harus dimulai dari diri sendiri. Kalau ada penulis yang dengki dan usil, bisa saja ada orang mengutak-atik bahwa kata-kata Aa Gym itu adalah jiplkan belaka dari ucapan John Maxwell. Tapi bukankah yang dikatakan Maxwell itu pernah pula disabdakan Rasulullah bahwa, orang yang sanggup mengubah dirinya, akan beruntung ketimbang mereka yang sibuk mempersoalkan aib dan kesalahan orang lain?

Jika kita mengurutkan secara lebih tajam lagi, bukankah sebelum kelahiran Rasulullah terdapat orang-orang bijak yang secara implisit mengatakan hal yang sama, tentang pentingnya mengubah diri sendiri sebelum terjun ke masyarakat untuk membenahi moral mereka. Misalnya di Kota Athena (Yunani), ada guru-guru yang fasih bicara moralitas seperti Plato, Aristoteles, hingga membentang ke penjuru Asia seperti Confusius, Alexander Zulkarnain, Zoroaster dan seterusnya.

Di negeri ini, ketika kita mengutip kata-kata tentang pentingnya memulai dari diri sendiri, mulai dari hal-hal kecil, serta mulai dari saat ini juga. Tidak ada orang mempermasalahkan bahwa kutipan itu seakan-akan berawal dari perkataan Aa Gym, meskipun banyak pemikir dan filosof sebelum zaman Aa Gym mengatakan hal yang sama.

Saya juga senang mengapresiasi ucapan Rhenald Kasali yang tidak terlampau mempersoalkan kata-katanya dikutip banyak orang. Mengingatkan saya pada senyum manis dari musisi papan atas, Iwan Fals, yang suatu kali menjawab pertanyaan wartawan: “Ada banyak faktor yang membuat kita bisa memahami maraknya pembajakan. Di antaranya kondisi perekonomian masyarakat kita. Kemudian faktor lainnya, bukankah selama ini kita sedang berdakwah menyampaikan nilai-nilai kebaikan, kenapa juga harus dibatas-batasi oleh kepentingan bisnis?”

Pernyataan musisi dan seniman, akademisi dan pakar manajemen, ternyata sehaluan dengan pendapat cendikiawan muslim dan ulama besar seperti Imam Syafi’i, yang pemikirannya banyak menjadi acuan bagi para kiai, ulama dan cendekiawan muslim di negeri ini.

Saya terkenang dengan ucapan seorang kiai dan ulama Banten, K.H. Mufassir yang pernah menolak namanya disebutkan dalam buku “Filsafat Hidup Kiai Rifa’i Arief”. Buku tersebut bicara tentang perjalanan dan jejak-langkah Kiai Rifa’i dalam merintis pesantren modern di wilayah Banten dan sekitarnya, mulai dari pesantren Daar el-Qolam, pesantren La Tansa, Al-Bayan, Al-Mizan dan seterusnya.

Menurut penuturan penulisnya, Hafis Azhari, pemikiran dan ucapan Kiai Mufassir dipersilakan untuk dikutip dalam buku tersebut, namun sang kiai menolak untuk disebutkan namanya. Secara pribadi, tentu saja saya memihak kepada yang lebih membawa maslahat bagi kepentingan banyak orang. Saya sepakat saja dengan pendapat Kiai Mufassir, namun lebih sepakat dengan penulisnya yang pada akhirnya memilih menyebutkan nama Kiai Mufassir dalam pengantar buku tersebut.

Silakan saja jika ada pembaca yang memandang buletin dakwah sebagai bagian dari bisnis yang harus menyimpan rahasia perusahaan. Tapi saya akan berpendapat seperti ini:mosok yang namanya buletin dakwah, kok malah tidak boleh disebarluaskan. Jadi, di mana letaknya fungsi dakwah itu? ***     

 

BACA JUGA