Di Provinsi Sumbar, Kabupaten Pessel Tertinggi Penyakit Difteri

Senin, 22/01/2018 18:02 WIB
-

-

Pessel, sumbarsatu.com-- Pada Januari 2018, kasus penyakit difteri di Kabupaten Pesisir Selatan (Pessel) tergolong tinggi di 19 kabupaten/kota di Sumbar. Meskipun penyakit difteri belum ada merenggut nyawa.

Secara nasional dari data Kementerian Kesehatan telah tercatat sebanyak 95 kabupaten/kota dari 20 provinsi yang terdampak difteri.

Sementara untuk di Sumatera Barat yang suspect terdapat pada dua kabupaten, yakni Pasaman Barat 1 kasus dan Solok Selatan 1 kasus.

Bahkan, penderita di Pasaman Barat meninggal dunia pada September 2017 dan Solok Selatan selamat setelah mendapatkan perawatan intensif. Dan untuk Pesisir Selatan pada Januari 2018, ada 3 kasus.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes), Satria melalui Kasi Surveilans Dan Penangg MKA Bencana/KLB/Wabah Pessel, Zaidina Umar mengatakan, bahwa jumlah kasus difteri di Kabupaten Pessel pada Januari 2018 ini mencapai 3 kasus.

"Dan untuk kali ini belum ditemukan adanya berujung kematian, dan masih bisa diatasi dengan memberikan obat," ujarnya.

Selain itu, pihaknya juga terus memberikan vaksinasi kepada penderita penyakit difteri dan juga kepada orang yang pernah kontak lansung.

"Penderita difteri ini rata-rata anak-anak. Dan penyakit difteri ini, kami menduga tularan dari daerah lain, seperti Payahkumbuh dan Padang, sebab mereka yang sakit ini pernah berkunjung ke dua daerah teraebut," ungkapnya.

Dari 3 penderita difteri hanya satu pasien yang mengetahui positif dan duanya lagi masih suspect.

Umar meminta kepada seluruh masyarakat Pessel untuk melakukan pencegahan dengan cara memberikan imunisasi. Dengan adanya imunisasi kekebalan tubuh akan kuat, sehingga tidak mudah terserang berbagai penyakit, termasuk bakteri difteri.

Adapun gejala diderita terserang bakteri difteri seperti demam tinggi, susah menelan dan mulutnya berselaput putih, termasuk lidah. Bahkan bisa lebih parah, bila susah bernafas berakibat meninggal dunia. "Kalau ada gejala seperti itu segera periksa, sampai dibuktikan oleh medis bukan difteri," terangnya.

Lanjutnya, bila penderita difteri sudah parah. Seluruh rongga mulut penderita putih, baik lidah, langit-langit mulut dan bahkan leher penderita bengkak." Begitu ganasnya bakteri defteri ini," sebutnya.

Menurut Umar, pencegahan tidak hanya dilakukan hilir, tetapi dari hulu sampai ke hilir. Salah satunya adalah penting masyarakat mendapat pemahaman pentingnya imunisasi, agar kekebalan tubuh seseorang kuat.

"Soalnya penyakit ini juga berpengaruh dan berdampak pada sosial. Besar beresiko untuk orang lain, karena penularan bisa lewat udara seperti batuk," tegasnya.

Kalau ada anggota keluarga yang diduga terjangkit difteri, sebutnya, cukup anggota keluarga lain menggunakan masker. Menghindari kontak langsung seperti batuk atau pernapasan lainnya dengan penderita difteri, tutupnya. (MIN)

BACA JUGA