Senin, 08/01/2018 19:50 WIB

Penemuan Raflesia Jenis Baru, Cagar Alam Maninjau akan Dijadikan Pusat Riset

Inilah penemuan Raflesia jenis baru di cagar alam Maninjau. Kawasan ini akan dijadikan pusat riset

Inilah penemuan Raflesia jenis baru di cagar alam Maninjau. Kawasan ini akan dijadikan pusat riset

Agam, sumbarsatu.com--Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumatera Barat akan mengusulkan kepada Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI agar kawasan cagar alam Maninjau dijadikan sebagai pusat penelitian.

Pengusulan itu terkait dengan penemuan bunga raflesia jenis baru yang sebelumnya belum pernah ditemukan di negara mana pun.

"Di Indonesia yang mempunyai bunga raflesia, bisa menginventarisasi bunga raflesia di cagar alam Maninjau, yang nantinya dijadikan sebagai labor. Itu yang bakal kita rencanakan ke depan," ujar Kasi Wilayah I BKSDA Sumbar Khairi Ramadhan, di Lubuk Basung, Senin (8/1/2018).

Dikatakannya, cagar alam Maninjau diusulkan menjadi tempat penelitian, karena jenis bunga raflesia yang ada di lokasi itu belum pernah ditemukan, baik di Indonesia, Malaysia maupun Filipina.

"Menurut informasi ahli bunga raflesia dari Universitas Bengkulu Dr. Agus Susatya, jenis raflesia di kawasan cagar alam Maninjau tidak ada ditemukan sebelumnya, baik di Indonesia, Malaysia maupun Filipina, tetapi yang hampir menyerupai pernah ditemukan di Malaysia yaitu Raflesia Tuan Mudae," ujarnya.

Setelah diuji di laboratorium, tetapi hasilnya tidak sama dengan Tuan Mudae, besar kemungkinan raflesia di cagar alam Maninjau itu jenis baru, dan peneliti masih mencari referensi-referensi lain dari ahli Raflesia di Malaysia dan Filipina. Bahkan sudah diminta data-data yang ada di negara itu, tapi belum ada raflesia jenisnya sama dengan yang di cagar alam Maninjau tersebut.

"Kalau jenisnya baru, tentu diberi nama baru juga, tapi yang bisa memberikan nama tentu peneliti," ujarnya pula.

Ia menegaskan, lokasi tidak boleh dijadikan objek wisata kalau kunjungan besar-besaran takutnya nanti habitatnya rusak, bahkan penelitian juga belum siap dilakukan. Namun, cagar zalam hanya bisa digunakan untuk penelitian dan konservasi pendidikan.

"Kalau ilmiah, tentu harus ada bukti autentiknya, tetapi secara MURI tidak memungkinkan lagi karena kita terfokos pada ilmiahnya dan ahli saat ini mengeksposnya di Jurnal Internasional. Setelah diakui jurnal, secara tidak langsung raflesia itu sudah diakui, tapi kita lihat bagaimana perkembangannya ke depan," ujarnya. (MSM)

BACA JUGA