Minggu, 07/01/2018 14:39 WIB

Nofriza Putri, Bocah 8 Tahun Hidup Tanpa Anus

Doni bersama anaknya Nofriza Putri

Doni bersama anaknya Nofriza Putri

Padang, sumbarsatu.com--Delapan tahun menjalani hidup tanpa anus, tentu memiriskan dan tidak bisa dibayangkan banyak orang dengan kondisi fisik normal. Tapi, itulah kenyataan pahit yang harus dijalani Nofriza Putri (8), bocah ingusan yang sejak lahir hidup tanpa anus.

Meski cacat fisik sejak lahir, gadis belia yang masih duduk di kelas 2 SD ini hampir tak pernah mengeluhkan kesulitan untuk buang air besarnya. “Karena berkat kekuasaan Allah Swt, dia hampir tak pernah mengeluhkan proses buang air besarnya itu, meski harus keluar lewat saluran kencingnya,” ucap Doni (38), orang tua Nofriza, Sabtu (6/1/2018).

Ditemui di kediamannya di Jalan Ujung Pandan No.7 A, Koto Marapak, Padang Barat, Don begitu dia akrab disapa, membeberkan penderitaan hidup yang dialaminya bersama seorang istri dan tiga orang anaknya itu. Terutama menyangkut penderitaan Nofriza, anak pertama yang terlahir secara prematur sejak 8 tahun silam.

Menurut pria yang sebelumnya berprofesi sebagai pedagang alat tulis keliling itu, dia merasa kaget begitu mengetahui anaknya lahir dalam kondisi tanpa anus. Sebab, dalam pikirannya terbayang masa-masa kelam yang bakal dialami anak pertamanya bersama keluarga yang tinggal di rumah tua di sebuah lorong sempit dan memprihatinkan itu.

Terlebih lagi hidup dalam kondisi ekonomi pas-pasan, dan bahkan kehidupan keluarganya bisa dikatakan masuk kategori kurang mampu. Sehingga untuk mengobati, apalagi membiayai operasi pembuatan anus bagi putrinya ke rumah sakit tak pernah dia bayangkan, mengingat besarnya biaya untuk itu.

“Memang ada keinginan untuk membawanya ke rumah sakit guna operasi pembuatan anusnya, tapi saya tak punya biaya untuk itu. Dari hasil perhitungan pihak rumah sakit, dibutuhkan biaya perkiraan sementara tidak kurang dari Rp16 juta, guna keperluan tersebut,” ucap Don yang memutuskan untuk tidak membawa anaknya ke rumah sakit.

Kondisi rumah yang dihuni Donni beserta anak dan isterinya di Jl. Ujung Pandan No 7A, Koto Merapak, Padang Barat.


Selama menjalani hidup 8 tahun itu, Nofriza hanya mengeluhkan soal lokasi tempat buang airnya ketika sedang berada di sekolah atau tempat lain di luar rumah.

Selain takut atau malu diketahui oleh teman atau gurunya, Nofriza juga harus memilih tempat khusus yang tidak diketahui orang. Sehingga akhirnya, dia memutuskan untuk tidak mau lagi datang ke sekolah.

Di awal kelahirannya dulu, memang sempat diketahui orang karena diliput dan diberitakan beberapa surat kabar dan bahkan juga televisi swasta. Sehingga beberapa orang yang mengetahuinya mendatangi rumah Don dan memberikan bantuan alakadarnya.

“Tapi kini, soal anak saya hampir tak diketahui orang lagi, termasuk tetangga sekitar sini,” jelas pria yang kini jadi juru parkir dadakan di kawasan Pantai Muaro Padang.

Setelah 8 tahun melewati pahit getirnya hidup bersama anak pertama dengan kondisi cacat fisik, Don dan istrinya Nitmarnilis (35) memutuskan untuk membawanya ke rumah sakit lagi. Itu pun, setelah banyak saran dan nasehat yang diterimanya dari sanak famili agar dia segera memanfaatkan program BPJS Kesehatan. Termasuk juga saran dari pihak rumah sakit, bulan Desember lalu.

Kebetulan di saat bersamaan, Nofriza juga tengah menjalani pemeriksaan dan pengobatan atas sakit yang dialaminya kala itu, di RSUP M Jamil Padang. Untuk keperluan biaya pengobatan di rumah sakit tersebut, Don yang belum memiliki Kartu Indonesia Sehat (KIS) terpaksa harus meminjam uang kepada orang lain yang jumlahnya tak lebih dari sejuta rupiah.

Menurut Don, uang pinjaman yang jumlahnya sebesar Rp650 ribu-an itu mesti harus dilunasi sebelum anaknya masuk rumah sakit hari Senin (8/1) dan menjalani operasi pada Rabu (10/1) nanti, karena saat itu kartu KIS-nya sudah diaktifkan. Jadi, soal biaya operasi tak ada masalah karena ditanggung BPJS.

“Kini yang jadi masalah, soal sisa pinjaman yang belum lunas ini, sebab saya takut akan menjadi beban lain di kemudian hari. Makanya, saya berharap kepada orang lain untuk bermurah hati membantu meringankan beban saya ini,” ucap Don penuh harap. (EDI)

Kondisi rumah yang dihuni Donni beserta anak dan isterinya di Jl. Ujung Pandan No 7A, Koto Merapak, Padang Barat.

BACA JUGA