Tekanan di BIM

Rabu, 27/12/2017 06:41 WIB
-

-

OLEH Emeraldy Chatra (Dosen FISIP Unand)

Turun dari pesawat di Bandara Internasional Minangkabau (BIM) di Katapiang, Batang Anai, Padang Pariaman, rasanya beda. Pikiran saya agak terbeban. Dengan apa nanti pulang? Tidak ada yang akan menjemput saya.

Ada beberapa alternatif, tapi saya harus menimbang dengan cermat. Naik Damri, saya harus jalan kaki lagi untuk sampai di rumah karena rumah saya tidak di pinggir jalan raya. Naik taksi reguler, kena catut Rp7.500. Bukan saya pelit, tapi rasanya harus membayar untuk sesuatu yang tidak jelas. Naik taksi daring, harus sembunyi-sembunyi karena taksi daring dimusuhi. Terakhir, pakai taksi gelap. Nah, yang ini lebih kacau lagi.

Sesampai mendarat BIM, suara-suara memanggil dari sopir taksi gelap mulai terdengar.

“Taksi, Pak? Kama Pak? Jo A**nza Pak?”

Saya tidak menoleh dan tidak memberi reaksi apa-apa. Cara orang-orang itu bertanya, menurut saya, tidak berbudaya.

Sebelum memutuskan mau naik apa saya meluncur ke toilet. Ada dua orang anak muda mengiringi saya sampai ke pintu kakus.

Saya akhirnya menyahuti. “ Bara mainnyo tu? ”

“Kama Pak?“

Dakek, ka Tabiang.”

Ka Tabiang, saratuih sapuluah Pak.

Saya kaget. Mengapa mahal sekali? Lalu saya katakan.

“Ndak-ndaklah. Maha bana.

Tu bara di Apak ndaknyo? Ago gailah.” Sopir taksi itu memaksa.

Saya mulai merasa ditekan dengan ucapannya yang terakhir. Rencana semula saya akan diam saja, tidak akan menanggapi lagi. Tapi karena kalimat memaksa yang meluncur dari mulut anak muda itu, saya menjawab juga.

Maha bana. Jo Go Car 47 ribu se nyo.

Eh, dia bukannya diam. Dia berteriak. 

Oo…Go Car kecek Apak. Dima ado Go Car di siko?”

Saya menjadi makin kesal karena terdengar suara besahut-sahutan di antara para sopir taksi gelap itu menyebut kata “Go Car” yang tujuannya mengejek dan mengintimidasi saya.

Lalu saya dengar anak muda tadi bicara keras di belakang saya. “Jo Go Car tantu iyo murah. Kami mambayia maha di siko komah.”

Wah..,wah... makin jauh dari adab. Apa urusan saya dengan bayar mahal atau bayar murah? Tapi saya memilih tidak mengatakan apa-apa lagi. Tidak ada gunanya melayani manusia seperti itu. Saya meluncur ke konter taksi reguler dan segera memesan satu unit.

Saya yang ber-KTP Padang saja sudah sengak diperlakukan seperti itu di gerbang Provinsi Sumatera Barat, apalagi orang yang sekali-sekali datang, atau baru pertama kali. Mereka mungkin lebih sengak lagi karena tidak menemukan perilaku serupa di tempat lain.

Kalau sudah begini ceritanya, tidak usah lagi cerita tentang pembangunan pariwisata. Apes, sudah.

Dalam perjalanan pulang saya berpikir, siapa sebenarnya yang bertanggung jawab mengatasi perilaku seperti itu? Saya? Tentu tidak, karena saya hanya pengamat pariwisata. Dulu saya memang sempat menjulur-julurkan kaki ke dunia itu, namun merasa lebih baik jadi dosen saja.

Saya cuma ingin bertanya agar orang-orang yang datang ke Sumbar ini nyaman. Tidak ada niat saya mengatakan pemerintah tidak melakukan apa-apa, apalagi mengatakan orang lain bodoh. Bukankah kalau orang nyaman berkunjung mereka akan datang lagi di lain waktu?

Tapi kalau ada yang merasa tersudutkan dengan pertanyaan saya, itu soal sense saja. Banyak orang di dunia ini tidak mau di kritik dan merasa kritik itu membuat dia dianggap bodoh. Padahal kritik itu sebenarnya rahmat bagi dia, karena orang lain mau menyebut kekurangannya. Dengan kritik itu ia tahu apa yang belum ia lakukan, dan apa yang harus ia perbaiki agar menghasilkan sesuatu yang lebih baik. ***

BACA JUGA