Selasa, 05/12/2017 23:15 WIB

“Posting” Itu Sadis Kawan...

-

-

OLEH Firdaus M

Era sosial media memang tak bertuan. Komukasi bebas tanpa perasaan. Tuannya adalah mereka yang bisa membuat sebuah berita menjadi viral walau terkadang itu adalah hal yang terlalu sakral untuk diobral.

Urusan ada postingan yang menyalahi kode etik jurnalistik, atau membuat orang lain merasa terusik, bahkan bikin suasana tenang jadi berisik, tidaklah penting, karena itu urusan nomor sepatu. Yang terpenting saat ini adalah “saya harus posting dulu.”

Sabtu lalu sempat menghebohkan Kota Padang lewat posting salah satu akun Facebook, yang merekam kecelakaan 2 orang pengendara motor yang ditabrak truk fuso. Satu korban meninggal di tempat dengan luka cukup parah. Posting yang membuat perasaan ini terasa begitu ngilu, mengingat korban merupakan sahabat kami.

Saya sudah mencoba menghubungi pemilik akun untuk menghapusnya, namun dia tak bergeming. Jumlah share sudah mendekati angka ribuan, dan terpaksa kami bersama teman-teman alumni harus melaporkan sang pemilik akun ke pihak Facebook untuk menghapus video kecelakaan tersebut. “Done....!! Eh, meskipun sudah terhapus, ternyata nasi sudah jadi bubur, netizen sudah terlanjur mengunduh kontennya. Hingga tadi pagi masih ada yang mengirimi saya video tersebut, namun lekas saya hapus sebelum terunduh.

Ketika banyak warga yang mendadak jadi citizen journalism kerjanya sederhana. Ketika ada peristiwa, langsung disebar lewat media sosial, biasanya disertakan foto bahkan video yang diunggah ke akun media sosial. Maka dan jadilah sebuah berita singkat yang di-share ke publik, tanpa disadari, media sangat berpengaruh pada perbuatan  dan tindakan masyarakat.

Terlepas dari korban adalah orang yang saya kenal atau tidak, perlu kita ketahui bahwa bentuk posting yang menampilkan gambar atau video mengerikan, seperti korban kekerasan dengan luka-luka berdarah, orang yang dibacok, mayat korban kecelakaan yang kepalanya pecah, ususnya terburai, penusukan dan sejenisnya, adalah hal yang tidak patut ditampilkan sebagai sebuah berita! Ini sangat tidak etis dan amoral, menakutkan mengganggu, mengerikan, apalagi dilihat mereka yang trauma hal-hal yang berbau demikian.

Jiwa mereka bisa saja terguncang, apalagi anak-anak menontonnya. Orang lain yang tidak ada hubungan dengan korban saja merasa terusik dengan postingan tersebut. Tidakkah kita membayangkan bagaimana perasaan sahabat, teman bahkan keluarga korban sendiri? Bisakah yang membuat postingan bertanggung jawab terhadap hal itu?

Saya sedang tidak membahas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE), dan Kode Etik Jurnalistik yang mengatur hal tersebut, yang tentunya mempunyai sanksi hukum tersendiri.

Saya hanya ingin mengetuk sisi etika dan rasa kemanusiaan agar berpikir dua kali untuk menyebarluaskan foto/video berita yang berisi konten mengerikan itu. Karena sejauh ini saya masih meyakini bahwa mudharat yang ditimbulkan jauh lebih banyak ketimbang manfaatnya. ****

Penulis seorang Netizen Journalism, tinggal di Lubuk Basung, Agam

BACA JUGA