Minggu, 15/10/2017 01:06 WIB

Rumah Zulinar Dibedah dengan Wakaf Warga

KELUARGA KURANG MAMPU

Kondisi rumah Zulinar

Kondisi rumah Zulinar

Agam, sumbarsatu.com- Keikhlasan salah seorang warga Lubuk Basung, Kabupaten Agam, kini sedang menjadi buah bibir warga, terutama warga Jorong Sago, Nagari Manggopoh, Kecamatan Lubuk Basung.

Pasalnya, warga yang tidak mau disebutkan namanya itu, mewakafkan sekitar Rp100 juta uangnya untuk membiayai bedah rumah tidak layak huni (RTLH) di Kecamatan Lubuk Basung. untuk mengelola dana tersebut, ia mempercayakan kepada Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Agam, Dr. H. Indra Rusli, MPPM.

Dr. Indra sendiri, kepada wartawan mengatakan, Sabtu (14/10/2017), ia dipercaya mengelola dana wakaf tersebut, sejak mencari RTLH yang layak dibedah, sampai pekerjaan selesai.

“Beliau itu menemui saya, dan mengatakan ingin berwakaf kepada masyarakat kurang mampu. Namun wakaf diserahkan pada masyarakat tidak berupa uang, melainkan dengan cara membiayai bedah rumah, tiga atau empat unit," ujarnya.

Indra pun menyanggupinya, dan bersedia membantu mengelola dana untuk bedah rumah tersebut. karena ini amanah yang harus dijalani.

Mengingat Kecamatan Lubuk Basung wilayah terdekat, Indra mencoba meminta bantuan berbagai pihak, seperti pihak kecamatan, dan Puskesmas Manggopoh.

Melalui peninjauan lapangan, ditemukan 3 unit rumah yang layak dibedah. Namun, dari tiga rumah itu, ada satu rumah yang sangat layak dibedah, melihat kondisinya. Rumah tersebut milik keluarga kurang mampu, Zulinar (42), wasrga Jorong Sago, Manggopoh.

Rumah tersebut hanya satu petak, dengan ukuran sekitar 3x4 meter. Ruangan sepetak itulah yang berfungsi sebagai kamar tidur, ruang tamu, dan tempat memasak. Di sanalah 8 anggota keluarga berdiam, termasuk anak Zulinar yang masih kecil-kecil.

Menurut pengakuan Zulinar kepada Dr. Indra, 20 tahun lalu ia telah mencoba membangun pondasi rumah berukuran 7 x 11 meter. Namun pembangunan terhenti hanya sampai pondasi karena terkendala dana.

Kondisi keluarga itu semakin memprihatinkan, setelah Zulinar mengalami kecelakaan. Nasib bangunan yang terbengkalai itu, semakin tak menentu.

“Dengan bedah rumah, diupayakan pekerjaan pembangunan rumah Zulinar bisa dilanjutkan. Saat ini pengerjaannya sudah mencapai 45 persen. Diperkirakan dua pekan lagi bisa selesai,” ujarnya berharap.

Dijelaskan, setelah selesai pekerjaan bedah rumah milik Zulinar, tahap selanjutnya akan dicari RTLH lainnya, yang dinilai layak untuk dibedah.

“Pengawasan lapangan kita serahkan pada pihak Puskesmas Manggopoh," ujarnya pula.

Ia mengungkapkan, dalam waktu dekat sudah ada data RTLH untuk direhab berikutnya. Bedah rumah tersebut bukan untuk Nagari Manggopoh saja, tapi juga untuk nagari dan kecamatan lainnya. Jika masyarakat Agam menemukan RTLH, harap dikonfirmasikan pada Puskesmas terdekat.

"Beramal bukan hanya dengan harta semata, tapi juga bisa dengan pikiran dan tenaga yang kita miliki, dengan cara membantu masyarakat kurang mampu, seperti mencarikan solusi, dan masukan yang akan membuatnya sejahtera," ujarnya menjelaskan.

Kepada sumbarsatu, Zulinar mengungkapkan rasa syukurnya kepada Allah SWT, atas rahmat yang diterimanya.

"Siapa pun dia, yang telah memberikan sumbangan untuk bedah rumah kami, kami sekeluarga mengucapkan terima kasih yang tidak terhingga. Semoga Allah Swt membalasnya dengan pahala yang sepadan,” ujarnya, yang nampak tidak kuasa menahan genangan bening di kelopak matanya.

Ia mengatakan, Pada tahun 2013, ia mendapat bantuan dari Dinas Sosial Kabupaten Agam sebesar Rp7,5 juta, dan dimanfaatkan untuk melanjutkan pembangunan rumah tersebut.

Namun, pembangunan hanya sampai tiga petak kamar, tapi bantuan tersebut sudah habis, sehingga pembangunan kembali terhenti. Setelah sekian lama, sedikit demi sedikit Zulinar menabung, namun malang tidak dapat ditolak bagi Zulinar yang mengalami kecelakaan tiga tahun lalu, dengan kondisi saat itu patah tulang punggung, kaki, dada, bahkan saat ini penglihatan tidak normal.

Uang yang ditabung pun terpakai untuk menambah biaya berobat di rumah sakit, di samping BPJS yang digunakannya," ujarnya pula.

Kepala Puskesmas Manggopoh, Ns. Lidia Ira Wati, S. Kep, mengaku prihatin melihat kondisi keluarga Zulinar. Ia hanya seorang penjahit atap rumbia. Hasilnya dibagi tiga dengan pemilik rumbia. Sedangkan suaminya, Rajudin (46) hanya seorang tukang petik kelapa dengan monyet.

Menurutnya, penghasilan keluarga Zulinar tidak mencapai Rp100 ribu sehari. Karena itulah, keluarga Zulinar sangat membutuhkan uluran tangan paradermawan.

Lidia juga menganjurkan Zulinar untuk mengajukan proposal ke Baznas Agam, agar bisa memperoleh bantuan dari dana zakat yang dikumpulkan Baznas daerah itu.

"Mudah-mudahan pihak Baznas Agam melakukan peninjauan lapangan, untuk melihat kondisi keluarga Zulinar saat ini, yang sangat membutuhkan bantuan,” ujar Lidia. (MSM)

Kondisi rumah Zulinar

 

BACA JUGA