Kamis, 12/10/2017 10:19 WIB

Hari Keempat MCAF Hadirkan “Langkah “Kusut” “Jilatang”

“Jilatang is Installed #2: Welcome to Ranah Miang”

“Jilatang is Installed #2: Welcome to Ranah Miang”

Jakarta, sumbarsatu.com—Memasuki hari keempat, Kamis (12/10/2017), Minangkabau Culture and Art Festival (MCAF) yang digelar sejak tanggal 9-13 Oktober 2017 dipusatkan di kawasan Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki, Jakarta, menampilkan pertunjukan teater, tari, dan musik. Pertunjukan dimulai pukul 19.30 WIB.

Pada malam keempat MCAF menampilkan teater karya dan sutradara Wendy HS berjudul “Jilatang is Installed #2: Welcome to Ranah Miang”, komposisi musik komposer Anusirwan berjudul “Kusut”, dan tari karya koreografer Benny Krisnawardi yang dibawakan oleh Sigma Dance Theatre berjudul “Langkah”.

Menurut Aidil Usman, Ketua Pelaksana MCAF 2017, yang kali ini mengangkat tema “Menikam Jejak” merupakan suatu pertanyaan bahwa setiap yang berlalu pasti meninggalkan jejak.

“Maka kita hari ini mesti memberi tikaman pada jejak itu, sesuatu yang memberi tahu bahwa kita masih menemukan jejak mereka (para pendahulu) dan oleh sebab itu tak akan tertinggal dari mereka,” kata Aidil, Kamis (12/10/2017).

Dalam artian, tambah Aidil, pada setiap capaian para pendahulu, kita tak hanya mengambil apa yang terbaik dari mereka, tetapi juga menciptakan sendiri apa yang terbaik bagi kita di zaman ini. Kita tak akan bisa bertahan kalau hanya mengandalkan warisan terbaik mereka sebagaimana kita tak akan bisa melangkah lebih maju kalau meluputkan apa yang terbaik dari mereka.

“Hubungan kita dengan para pendahulu bukan lagi dalam hubungan tinggal-habis, tapi hubungan tikam-jejak,” tambah Aidil.

Wendy HS, “Jilatang”

Sementara itu, Wendy HS  mengatakan “Jilatang is Installed #2: Welcome to Ranah Miang” merupakan karya kolaborasi teater, tari, dan musik. Untuk tari ada Emri Rangkayo Mulia sebagai koreografi, sedangkan musik hadir Leva Khudri Balti sebagai komposer, yang ketigannya tergabung dalam Indonesia Performance Syndicate (IPS) Padang Panjang,

Pertunjukan “Jilatang is Installed #2: Welcome to Ranah Miang” merupakan program laboratori pertunjukan Indonesia Performance Syndicate (IPS) Padang Panjang yang kedua (lanjutan) di tahun 2017 ini setelah setelah program laboratori pertunjukan yang pertama “Jilatang is Installed #1.

“Pada prinsipnya program laboratori pertunjukan IPS merupakan kerja pengembangan elemen artistik “Tapuak Galemboang” dalam tradisi pertunjukan randai pada masyarakat Minangkabau,” kata Wendy HS, yang juga pimpinan IPS Padang Panjang ini.

Menurutnya, pilihan laku artistik dalam pertunjukan yang disebut total acting, di mana unsur gerak (koreografis), unsur bebunyian (musikal) dan unsur dramatik/teatrikal (dramaturgis) dilebur menjadi kesatuan “laku internal tubuh performer”.

Secara tidak langsung, jelasnya, “laku internal tubuh performer” tersebut telah mengaburkan batasan antara laku artistik pertunjukan yang berdasar pada penciptaan gerak dalam konvensi seni tari, penciptaan bunyi dalam konvensi seni musik dan penciptaan dramatik dalam konvensi seni teater.

“Pilihan tematik pertunjukan “Jilatang is Installed #2: Welcome to Ranah Miang adalah hasil pembacaaan ulang atas mitos tumbuhan jilatang atau jelatang atau Toxicodendron radicans, sebagai tumbuhan bermiang yang menyebabkan gatal jika tersentuh kulit,” terangnya.

Pembacaan ulang ini, tambahnya, lebih melihat fenomena sosial jilatang sebagai tumbuhan yang ditakuti dan dihindari, tetapi justru ketakutan itu juga berada dan dipelihara sebagai tonggak penyangga bangunan balai adatnya, yaitu tonggak tareh jilatang Balairuangsari yang ada di Nagari Tabek, Pariangan, Tanah Datar.

“Fenomena ini kemudian akan ditarik dalam konteks kekinian atas maraknya upaya penambangan dan pembabatan hutan di wilayah Sumatera Barat. Mesin-mesin dan alat berat pada satu sisi dianggap menakutkan dan dihindari. Tetapi pada sisi lainnya, ia dibutuhkan untuk tonggak perekonomian. Salah satu fenomena paradoks dalam perkembangan sosial masyarakat Minangkabau hari ini,” papar Wendy HS lebih jauh.

Wendy HS lahir di Simabur, Pariangan, Tanah Datar, 5 September 1974. Alumni INS Kayutanam, alumni Jurusan Seni Teater, Fakultas Seni Pertunjukan, ISI Yogyakarta, dan alumni PSPSR, Sekolah Pascasarjana, UGM Yogyakarta. Sejak 1996 sampai 2006 tinggal di Yogyakarta.

Mulai pertengahan tahun 2006 hingga sekarang, kembali ke kampung halamannya menjadi tenaga pengajar di Prodi Seni Teater, Fakultas Seni Pertunjukan, ISI Padang Panjang, lalu mendirikan Teater Tambologi Padang Panjang bersama Dede Pramayoza dan Pandu Birowo.

Sebagai aktor pernah terlibat beberapa produksi teater, diantaranya produksi Teater Plus INS Kayutanam, “Perguruan” karya Wisran Hadi, sutradara Yusril di Graha Bhakti TIM (1995), produksi Teater Latar Yogyakarta, “Mal Praktik” karya Moliere, sutradara Puthut Buchori di Societed Militer dan TVRI Yogyakarta (2001), produksi Akademi Kebudayaan Yogyakarta, “Orang-Orang yang Bergegas” karya Puthut EA, sutradara Landung Simatupang, tur 5 kota di Pulau Jawa (2003), produksi HRV Jakarta, monolog “Matinya Seorang Pahlawan” karya FX Rudi Gunawan, sutradara Landung Simatupang (2003-2004).

Sebagai sutradara produksi “Pelajaran” karya Ionesco, Societed Militeir Yogyakarta (2004), produksi Teater Tambologi Padang Panjang, Tambologi 1: Retroaksi, Tambud Sumatera Barat, Tambud Lampung, dan Jak Art Festival (2007-2008), Hibah Seni Kelola 2009 dan Teater Tambologi Padang Panjang, Tambo Rantau: Kabar Dari Nagari Laki-Laki (2009).

Terakhir terlibat program kerja sama Bumi Purnati Jakarta – SCOT Jepang, mengikuti pelatihan keaktoran Metode Suzuki, di Togamura, Jepang, awal September 2016.

Benny Krisnawardi, “Langkah”

Untuk tari, Benny Krisnawardi dari Sigma Dance Theatre menghadirkan “Langkah” yang setiap langkah menuliskan cerita, petanda, penanda, kuantum cahaya dan berbagai makna.

Langkah menapak wilayah terindahnya, dalam kebersahajaan yang dapat menembus kotak-kotak berbagai warna, dalam liku-liku kehidupan. Pada langkah kita berpijak, memberi andil dalam kurva pembelajaran, dari kecil bayi kita, hingga entah renta nanti.

“Namun langkah jua adalah kekuatan segala tari, jejak segala sejarah dan rindu pada lubuk surgawi yang terindah,” kata Benny Krisnawardi.

Langkah didukung penata musik Donny Irawan, para penari Benny Krisnawardi, Qisty Ibtiah, Farhan Krisna Ramadhan, dan Meysafella Kartika Sari.

Benny Krisnawardi, lahir di Batusangkar, Sumatra Barat. Dibesarkan dalam lingkungan keluarga seniman. Hampir semua anggota keluarga penggemar musik dan tari. Benny mengenal ritme dan berbagai alat musik pertama kali dari ayah sendiri, yang merupakan seniman dan pengajar berbagai alat musik seperti biola, gitar, dan piano.

Sebagai penari, Benny pernah tampil bersama Gumarang Sakti di International Festival of  Theatre and Martial Arts di Calcuta, India (1987), International Festival of Dance Academies di Hongkong (1988),  Recontres International De Labaule, Perancis (1989), dan Festival Kebudayaan Indonesia di Amerika Serikat (KIAS) tahun 1991 di A.S.

Benny pernah melanglang buana menari bersama Gumarang Sakti di berbagai festival akbar: The 2nd Jakarta International of Performing Arts (1992) di Jakarta, Von Isadora zu Pina—100 Jahre Modern Tanz Festival (1994) di Jerman, Art Summit II (1998) dan III (2001) di Jakarta, Transit Festival (2002) di Berlin, serta pembukaan Esplanade Theatre (2008) di Singapura.

Benny sempat melawat ke Austria sebagai penari Cipta Dance Company IKJ dalam Tanz Festival (1994), tampil dalam karya penata tari Peter Chin dari Kanada di Jakarta Arts Festival (1994),  terlibat dalam pentas kolaborasi enam negara sutradara Ong Keng-sen dari Singapura dalam karya “Lear” (1997) pentas di Tokyo, Osaka, Fukuoka, Hong Kong, Singapore, Jakarta, Perth, Berlin dan Copenhagen , serta menjadi penari Kota Yamazaki dari Jepang tampil dalam Indonesian Dance Festival (1999).

Anusirwan, Musik “Kusut”

Sementara untuk komposisi musik, Anusirwan mengaransir “Kusut” yang menurutnya bercerita fenomena yang terjadi saat ini tidak bisa dielakkan, apapun itu sudah dan akan terjadi.

“Tapi kusut tak selalu menjadi masaalah dan dipermasaalahkan. Yang penting bagaimana kita bisa keluar dari masaalah, tanpa memutus benang yang sudah terlanjur kusut,” kata Anusirwan.

Anusirwan lahir di Harau, Kabupaten Limapuluh Kota, pada tahun 1965. Lulus SMKI  tahun 1985 dan melanjutkan studi di ASKI (Akademi Seni Karawitan Indonesia ) lulus 1989, lulus STSI  Denpasar 1991, kemudian hijrah ke Jakarta tahun 1993.

Tahun 2010 menyelesaikan Program Pascasarjana di IKJ. Selama di Jakarta bergabung dengan kelompok seni antara lain PIDC (Pimpinan Tom Ibnur) DLDC (Pimpinan Dedy Lutan sampai sekarang menjadi penata musik), Liga Tari Unifersitas Indonesia sebagai penata musik.

Mendirikan kelompok musik kontemporer bersama Toni Prabowo pada tahun 1996 New Jakarta Ensemble. Mendirikan kelompok musik ALTAJARU (Alam Terkembang Jadikan Guru) pada tahun 2000 yang sampai saat ini aktif berkarya dengan awak yang berasal dari IKJ maupun di luar IKJ. Mendirikan INO (Indonesia Nasional Orkestra) 2010 bersama Dr. Franky Raden, mendirikan B I O ( Betawi Indonesia Orkestra ) bersama awak ALTAJARU bulan September 2012.

Dari tahun 2000 aktif mengajar di Jurusan Etnomusikologi, Fakultas Seni Pertunjukan jurusan Etnomusikologi, dan jurusan Tari, IKJ. Sering juga mengadakan workshop musik untuk tari, komposisi musik tradisi diberbagai daerah antara lain Palembang, Lampung, Bangka Belitung, Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, Jawa Timur, Lombok, DKI Jakarta dan lain-lain.

Sekarang menjadi anggota Dewan Kesenian Jakarta sebagai Komite Musik. Sebagai seniman, sering bekerjasama dengan beberapa komposer dan koreografer baik dari dalam negeri maupun luar negeri. (SSC)

BACA JUGA