Rabu, 11/10/2017 15:25 WIB

Hari Ketiga MCAF: “Selendang Api II”, “Nagari Itiak Patah”, dan “Mite Kudeta”

Adegan Mite Kudeta yang akan tampil malam ini di Graha Bhakti Budaya, Komplek Taman Ismail Marzuki, Jakarta

Adegan Mite Kudeta yang akan tampil malam ini di Graha Bhakti Budaya, Komplek Taman Ismail Marzuki, Jakarta

Jakarta, sumbarsatu.com—Hari ketiga, Rabu (11/10/2017), Minangkabau Culture and Art Festival (MCAF) 2017 menampilkan pertunjukan dua tari dan satu teater.

Agenda tahunan yang dihelat Minangkabau Art Forum Festival dilaksanakan dari sejak 9-13 Oktober 2017 di  Graha Bhakti Budaya, Komplek Taman Ismail Marzuki, Jakarta, ini ditaja sebagai dialektika seni yang berpijak pada akar budaya Minangkabau. Waktu pertunjukan dimulai pukul 19.30 WIB.

Menurut Aidil Usman, Ketua Pelaksana MCAF, Minangkabau Art Forum melalui Minangkabau Culture and Art Festival mencoba menjembatani seniman-seniman Minangkabau di ranah dan di rantau dari berbagai disiplin ilmu dan lintas generasi untuk dapat menggali potensi lokal yang masih banyak belum diketahui masyarakat kita sendiri.

“Kehadiran kami merupakan wadah baru bagi dialektika seniman Minangkabau untuk berbagi dalam mengembangkan seni dan budaya, sehingga nanti akan lahir seniman-seniman yang cerdas, seniman-seniman yang dengan latar pijakannya mengerti dengan dasarnya,” katanya.

Agenda MCAF kali ini akan mengangkat tema “Manikam Jajak” mengingat sejarah penciptaan seni di Indonesia tak pernah luput dari konstribusi seniman Minangkabau. Sastra Indonesia moden ditandai peridoenya dengan karya-karya dari pengarang Minang.

Berikut profil ketiga penampil yang pada akan hadir di atas panggung MCAF.

Cilay, “Selendang Api II”

Mohamad Ichlas atau dikenal dengan Cilay Dance Theater, akan menampilkan koreografinya berjudul “Selendang Api II”. Katanya, karya tari ini bertitik tolak dari musik imbauan (intro) saluang darek Minangkabau dengan merefleksikan antara garinyiak dengan gestur tubuh untuk menghasilkan alunan musikal dari pergerakan penari di panggung.

Untuk merealisakan gagasannya, Mohamad Ichlas menghadirkan 6 penari di atas panggung (M. Anugrahsepdiansyah, Dwi Saputri, Putri Ayu Wulandira Handayani, Desi Fatmasari, Dedi Ronald, dan Suryadi Sanubari, serta diperkuat pemusik Tacet, Irfan, Dika, Cilay, dengan artistik panggung Jerry dan Michelle

Mohamad Ichlas (Cilay) lahir di Padang Panjang, alumni ASKI Padang Panjang. Sejak tahun 1985 telah mengikuti pelbagai iven dan festival tari, antara lain Indonesia Institute of the Arts Festival, Dance Work Festival di TIM Jakarta, Dance Theatre, Taiwan, International Dance Festival in Malaysia (2009), serta "Super Dance Fest" St. Petersburg Russia.

Syaril, “Nagari Itiak Patah”.

Sementara untuk tari kedua, hadir koreografer Syah Ril Alek dengan judul koreografi “Nagari Itiak Patah”. Tari Nagari Itiak Patah memaparkan fenomena sosial dalam sebuah nagari. Gejolak dan fenomena sosial itu, digambarkan Alek, demikian dia disapa, digambarkan dengan pengayaan simbol-simbol semiotik pada seekor bebek yang patah kaki atau pincang.

“Itiak patah itu representasi dari ketimpangan, dan ketidakseimbangan sosial yang tengah berlangsung di kehidupan sosial masyarakat di sebuah nagari,” kata Alek.

Tari “Nagari Itiak Patah”, karya koreografer Syahril Alek, yang sehari-harinya menjadi dosen di aImamaternya, ISI  Padang Panjang, didukung komposer Hen Ambo (alm) dan Hanefi, dan penari Yona Syafitri, Silfana Monica, Desfita sari, Intan Permata Sari, Dela Nurjanah.

Syahril Alek, seorang koreografer Indonesia, lahir pada 23 Agustus 1964 di Padang Panjang. Bakat kesenian sudah diungkapkannya ketika masih duduk di SMA, seperti membuat setting  dan dekorasi pentas dalam kegiatan-kegiatan kesenian sekolah dan kelompok remaja kota. Dia saat itu telah belajar menata tari berupa “gerak dan nada”.

Keberadaan ISI Padangpanjang sangat menguntungkan bagi Syahril Alek, terutama mengembangkan dirinya secara akademik di lembaga pendidikan kesenian tersebut, dan ia telah menamatkan program D3 pada tahun 1988 ketika lembaga pendidikan seni itu berstatus Akademi (ASKI Padangpanjang).

Pada tahun yang sama Syahril Alek melanjutkan studinya di Jurusan Tari pada Institut Kesenian Jakarta (IKJ).  Selama setahun ia menimba pengalaman berkesenian di lingkungan Taman Ismail Marzuki (TIM), kemudian dia kembali ke Padang Panjang untuk mengabdi di lembaga pendidikan kesenian asalnya ASKI Padang Panjang.

Tahun 1994, Syahril Alek melanjutkan studi ke STSI Surakarta, tamat jenjang S1 pada tahun 1996. Sekembalinya dari Surakarta dia menjadi tenaga pengajar tetap di Jurusan Tari STSI Padang Panjang hingga kini.

Setelah menyelesaikan S1, Alek menekuni tari-tari tradisi Minangkabau yang menjadi kekuatan baginya dalam proses kreatif penciptaan tari. Selain itu, Syahril Alek yang dipercaya bertugas di tata-lampu (lighting) di Gedung Pertunjukan STSI/ISI Padang Panjang, lalu memperoleh pelatihan dari Totom Kodrat dan Sony Sumarsono, maka dia tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Banyak pertunjukan-pertunjukan seni yang ditanganinya terutama di bidang tata artistik.

Pengalaman yang diperolehnya itu makin memperluas ruang kreativitasnya di dunia tari, dan sekaligus menjadi bahan kajian dalam melanjutkan studinya di jenjang pascasarjana di ISI Surakarta. Alek menamatkan studi S2 Penciptaan Tari tahun 2007 dengan pembimbing karya akhir Prof Sardono  W Kusumo.

Metron, “Mite Kudeta”

Untuk pertunjukan teater malam ini, hadir “Mite Kudeta” (Myth of Coup) naskah dan sutradara S Metron Masdison dari Ranah Performing Arts Company.

“Mite Kudeta” mengisahkan perjalanan dan koflik para tokoh yang hidup dalam tambo Minangkabau.

Dikisahkan, eetahun usai Bundo Kanduang, Dang Tuanku, dan Puti Bungsu ‘mengirab’ ke langit, seorang “Utusan” datang mengantarkan bayi Dang Tuanku dan Puti Bungsu.

Cindua Mato terkejut karena bisa memastikan itu bukan anak dari kakak tiri dan perempuan yang dicintainya. “Utusan” dibunuh, bayi itu diasuh oleh Puti Lenggogeni, istri Cindua Mato. Persoalan tidak sampai di situ, terbunuhnya

“Utusan” menimbulkan tanda tanya. Yang paling keras dari Basa Ampek Balai. Desas-desus berkembang. Bundo Kanduang, Dang Tuanku serta Puti Bungsu bukan ‘mengirab’ tapi dibunuh Cindua Mato. Desakan demi desakan membuat Cindua Mato tak tahan. Ia menghilang dari kerajaan.

Di perjalanan, dia bertemu dengan Anggun Nan Tongga, Raja Pesisir, sekaligus kakak Puti Bungsu. Di depan Anggun, Cindua Mato membuat pengakuan yang menggoncangkan sejarah: Ia yang membunuh ketiga orang itu! Alasan Cindua Mato, jika dia tak melakukan, maka tak ada yang lagi yang didapatnya. Kekuasaan dan cintanya direbut Dang Tuanku. Ia memilih mendapatkan salah satu.

Awalnya Anggun marah. Tapi, jika ia membunuh Cindua Mato, maka Kerajaan Pagaruyung dalam keadaan bahaya. Ia meminta Cindua Mato kembali ke Pagaruyung. Sekembalinya, Cindua Mato mendapatkan Pagaruyung dalam keadaan genting. Basa Ampek Balai yang mewakili Kaum Adat meminta tolong Belanda untuk menghancurkan kerajaan.

Dalam keadaan terjepit, Cindua Mato akhirnya meminta bantuan Tuanku Imam Bonjol. Dalam pertemuan itu, Tuanku Imam berjanji akan membantu. Dalam menunggu bantuan, Pagaruyung sekali lagi, diserbu. Kali ini dari dalam, setelah dua kali sebelumnya diserbu Pasukan Negeri Tiongkok.

“Apakah yang dilakukan Cindua Mato? Apakah dia akan ‘mengkudeta’ dirinya sekali lagi dan menghilang untuk selama-lamanya? Menyerah? Atau mendada segala kemungkinan?” kata S Metron mengisahkan.

Karya teater ini dimainkan aktor Hadi Gustian, Rahmadian, Roby Satria, Restia Ningsih dengan pimproJenni Rahmita.

S Metron Mardison mendirikan Ranah Teater pada 2007. Sementara, sebelumnya Bumi Teater pimpinan Wisran Hadi (alm) merupakan tempat berpijak pertama kali dia mengarungi dunia teater sejak 1994.

“Pementasan ini memakai dua baris Puisi “Susi dari Cashinava” dari kumpulan puisi Susi  karya Gus tf (KABARITA, 2015) dan dalam pementasan ini juga dipakai kata “sas-sus”, istilah yang diciptakan Wisran Hadi dalam naskah drama ‘Anggun Nan Tongga’,” tambahnya. (SSC/Rel)

BACA JUGA