Selasa, 10/10/2017 22:12 WIB

“Rekam Jejak PT BA-UPO" Diputar di Jurusan Sejarah FIB Unand

MENDORONG MAHASISWA MASUK KE DUNIA DOKUMENTER SEJARAH

Anatona (Ketua Jurusan Sejarah), Hasanuddin (Dekan FIB Unand), Zairi Waldani (B&W Prodata), dan Hendry Sasongko

Anatona (Ketua Jurusan Sejarah), Hasanuddin (Dekan FIB Unand), Zairi Waldani (B&W Prodata), dan Hendry Sasongko

Padang, sumbarsatu.com—Jurusan Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas Padang menggelar nonton bareng film dokumenter “Rekam Jejak Perusahaan PT. BA-UPO”.

Tujuan utama pemutaran film ini ialah membuka seluasnya wawasan mahasiswa agar tak terpaku pada Ilmu Sejarah semata, tapi kemungkinan meluaskan ke bidang pembuatan film dokumenter terkait sejarah.

Film produksi oleh B&W Prodata pada tahun 2016 yang bekerja sama dengan PT. Bukit Asam (Persero) Tbk Unit Pertambangan Ombilin (PT. BA-UPO), merupakan realisasi program pascatambang PT.BA-UPO. 

Film “Rekam Jejak PT.BA-UPO” berdurasi pendek sekitar 25 menit itu mengisahkan sejarah perusahaan tambang batu bara tertua di Pulau Sumatra. Bermula dari Landsbedrijf de Oembilin Steenkolenontginning pada masa kolonial Belanda, perusahaan bergerak membangun infrastruktur, dan mengubah wahah Kota Sawahlunto ke arah kosmopolitan.

Tambang batu bara Ombilin yang sempat menurun pada masa pendudukan Jepang, kembali menggeliat memasuki masa kontemporer. Sempat beberapa kali beralih dari manajemen PN. TBO, PN. TABA, Perum TBO, hingga berada di bawah PT. BA-UPO, perusahaan tetap membangun kota dan masyarakat Sawahlunto.

Program nonton bareng yang diikuti mahasiswa FIB Unand, UIN Imam Bonjol, dan STKIP PGRI Padang itu, bertujuan untuk menumbuhkan lapangan kerja baru sebagai sineas film dokumenter.

Dekan FIB Unand Dr. Hasanuddin, M.Hum menegaskan, lulusan Sejarah dituntut memiliki kemampuan lebih, yang nantinya akan dinilai oleh Lembaga Sertifikasi Profesi.

“Berbekal sertifikat profesi itu nanti mereka bisa bersaing di dunia kerja. Saya berharap supaya mahasiswa Sejarah, ke depannya mampu menggabungkan disiplin Ilmu Sejarah dan kemampuannya dalam mengolah film dokumenter menjadi sebuah tontonan yang menarik,” kata Hasanuddin.

Hal senada disampaikan Dr. Anatona, M.Hum, Ketua Jurusan FIB Unand yang mengaku merasa gembira dengan antusiasme mahasiswa menonton film dokumenter  ini.

“Saya berharap, kerja sama dengan CV B&W Prodata milik Ir. Zairi Waldani bisa dilanjutkan dengan kegiatan-kegiatan lainnya. Mahasiswa dan lulusan sejarah bisa banyak belajar dari kiat-kiat khusus, bagaimana memproduksi film dokumenter yang bagus dan bermutu kepada B&W Prodata,” kata Anatona.

Tak jauh beda dengan Anatona, Zairi Waldani juga menyatakan kegembiraannya pascapenandatanganan MoU dengan jurusan Sejarah FIB Unand. Bahkan, Zairi menyatakan kesediaannya menerima mahasiswa yang ingin menimba ilmu sinematografi.

“Lulusan Sejarah tidak melulu harus menjadi peneliti dan penulis. Mereka juga bisa menjadi seorang sineas. Kami, khususnya B&W Prodata membuka pintu seluasnya untuk mahasiswa dan lulusan Sejarah yang ingin menambah kompetensinya,” ujar Zairi Waldani.

Kuliah Umum

Dalam rangkaian acara tersebut, Jurusan Sejarah pada hari itu juga menggelar kuliah umum bersama Hendry Sasongko,S.Sn, M.Sn. Kuliah umum yang berdurasi sejam tersebut menguraikan urgensi film dokumenter untuk mahasiswa dan lulusan Sejarah.

“Film dan sejarah itu tidak terpisahkan. Bahkan, bagi kami sejarah itu adalah masa depan dari sebuah film. Mungkin berbeda pemahamannya dengan sejarawan sendiri, yang menganggap sejarah adalah masa lampau,” tegas Sasongko dalam pemaparannya.

Menurutnya, seluruh aktivitas yang terekam dalam film, merupakan bagian dari arsip kehidupan.

“Dan di sanalah fungsi dan peran lulusan Sejarah Unand mengelaborasi kemampuannya memproduksi film dokumenter,” terangnya. (SSC/Rel)

BACA JUGA