Selasa, 10/10/2017 11:56 WIB

Menelan Rp16 Miliar, Film “Wage” Diluncurkan untuk Generasi Milenial

PAHLAWAN PENCIPTA LAGU “INDONESIA RAYA”


Wage Supratman memainkan biolanya di depan Kongres Pemuda, salah satu adegan dalam film

Wage Supratman memainkan biolanya di depan Kongres Pemuda, salah satu adegan dalam film "Wage"

Jakarta, sumbarsatu.com—Film “Wage”, kisah perjalanan kepahlawanan Wage Supratman akan ditayangkan serentak di bioskop-bioskop berbagai kota di Indonesia pada 9 November 2017, satu hari jelang peringatan Hari Pahlawan 10 November.  

Menurut M. Subchi Azal Tsani, eksekutif produser dari OPSHID Media, film “Wage” mengeksplorasi perjalanan kepahlawanan Wage Supratman dalam menelurkan lagu-lagu seperti lagu kebangsaan “Indonesia Raya” dan lagu lainnya.

“Film ini sebuah apresiasi untuk mengenang jasanya sebagai pahlawan dan apa yang dilakukan Wage untuk bangsa ini dapat menjadi teladan dalam kehidupan berbangsa generasi milenial,” kata M. Subchi Azal Tsani, dalam relisnya, Selasa (10/10/2017).

Sementara itu, Ivan Nugroho, Direktur PT. OPSHID Media Untuk Indonesia Raya, mengatakan, film “Wage” dihadirkan berdasarkan pada pemikiran bahwa apresiasi yang disematkan untuk pahlawan Wage Supratman tidak berbanding lurus dengan jasa besarnya untuk bangsa Indonesia.

“Itulah yang menjadi pemikiran dasar Mas Bechi (M. Subchi Azal Tsani) sebagai penggagas film ini. Film Wage Supratman dibuat sebagai upaya memberi apresiasi yang sepantas-pantasnya untuk beliau, yang juga ditujukan sebagai pelurus sejarah mengenai kisah hidupnya,” kata Ivan.

Selain itu, dia menyatakan, Kyai Mochammad Muchtar Mu'thi, supervisi film ini, selalu menekankan bahwa kunci menuju bangkitnya bangsa Indonesia, tertutama generasi muda adalah kembali ke jati diri bangsa.

“Ada banyak nilai-nilai luhur jati diri bangsa yang terkandung di dalam lagu “Indonesia Raya”, dan juga proses sang komponis Wage Supratman untuk mewujudkannya. Dengan mengemas nilai-nilai luhur tersebut film “Wage” diharapkan dapat menjadi pemicu untuk membangkitkan rasa cinta tanah air serta moral luhur bangsa Indonesia. Ini salah satu cara mengeksplorasi rasa kebangsaan dan keindonesiaan dalam konteks anak muda,” ujar Direktur Opshid Media ini.

Selain itu, ia menambahkan, bangsa Indonesia secara general, khususnya pemuda-pemudinya harus mengetahui kisah para pahlawan seperti Wage dan sejarah di balik suatu peristiwa besar seperti Sumpah Pemuda.

Selektif

Selain itu, sosok Wage yang juga seorang pemuda, diharapkan bisa membangun korelasi antarsesama pemuda Indonesia untuk mewujudkan visi misi yang sama.

Ivan menyebutkan dalam proses produksinya, seleksi yang cukup ketat dilakukan untuk aktor dan peran lainnya.

“Kami seleksi dengan melakukan riset serta pembedahan yang menyeluruh, untuk memastikan bahwa karakter tidak jatuh pada pemeran yang kurang tepat, mengingat minimnya data mengenai tokoh-tokoh seperti Wage itu sendiri,” ujar Ivan.

Proses pemilihan aktor untuk peran Wager pun tidak didasarkan pada besarnya nama yang dimiliki sang aktor, maupun banyaknya kecocokan kualifikasi secara teknis antara peran dan pemeran. Aktor terpilih untuk peran Wage dipilih berdasarkan potensinya, baik di bidang seni peran maupun caranya untuk eksplorasi karakter.

Demikian halnya dengan proses produksi, juga berada dalam pengawasan dari eksekutif produser M. Subchi Azal Tsani, untuk memastikan jalannya film tidak melenceng dari visi misi Opshid Media yang asli serta ide pokok awal dibuatnya film ini.

Ivan menjelaskan, bahwa pesan-pesan perjuangan bukanlah sesuatu yang klasik. Pesan-pesan perjuangan masih dapat diaplikasikan, sekali pun di masa sekarang yang serba modern.

“Rasa cinta tanah air harus dipertahankan bahkan hingga setelah bangsa Indonesia merdeka karena itulah satu-satunya benteng yang melindungi Indonesia dari kehancuran. Seperti Wage, rasa cinta tanah airnyalah yang akhirnya menuntunnya pada takdir besar bangsa Indonesia,” imbuh Ivan bersemangat.

Selain itu, wujud perjuangan Wage juga merupakan satu hal yang perlu digarisbawahi. Wage mengajarkan kepada kita bahwa tak semua perjuangan harus melalui pertumpahan darah, tapi juga dapat melalui seni dan karya. Hal itu perlu dipantenkan sebagai dasar utama generasi muda dalam menekuni bidang seni, yaitu berkarya untuk negeri.

Di sisi lain, adalah proses terciptanya mahakarya lagu “Indonesia Raya” yang dikukuhkan oleh ketekunan, pantang menyerah, serta rendah hati Wage itu sendiri.

Di balik daya magis yang ada di dalam lagu Indonesia Raya, terdapat daya berkat rahmat Allah di dalamnya, dan Wage mendasari serta menyerahkan semua itu sepenuhnya pada hal tersebut.

Terget 1 Juta Penonton dengan Rp16 Miliar 

Terkait dengan target penonton, Opshid Media mematok angka minimal 1 juta penonton. Hal tersebut dilihat bukan dari segi money oriented, tetapi memang karena pada dasarnya Opshid Media memiliki visi-misi yang harus disampaikan kepada publik, sehingga semakin banyak yang menonton semakin baik.

Untuk investasi produksi total dari film Wage, Opshid Media menghabiskan dana sekitar 16 miliar rupiah.

“Dana tersebut selain produksi Film juga digunakan untuk riset dan biaya pemasaran yang besar. Edukasi dan pesan yang ingin disampaikan harus jelas dan tepat ke sasaran,” katanya.

Karena pasarnya adalah generasi milenial, Ivan pun memanfaatkan sosial media yang sering digunakan para pemuda, untuk menyebarkan konten-konten bermutu bernada kebangsaan, yang bersifat good news dan membangun.

“Bukan  mengarah pada provokasi yang kurang baik,” katanya.

Selain itu, Opshid Media juga terus mengemas konten-konten tersebut semenarik mungkin, dan selipkan propaganda-propaganda serta ajakan untuk menonton film “Wage”.

“Tonton film Wage, mari kembali ke jati diri bangsa untuk Indonesia Raya,” katanya seraya berpromosi. (SSC)

BACA JUGA